PromptChallenge # 11: Menjemput Impian


Joni meremas-remas tangannya. Bulir-bulir keringat dingin mulai membasahi keningnya. Ia melirik jam di pergelangan tangan. Meneguk jus melon di hadapannya dengan perlahan, membasahi kerongkongannya yang mulai mengering. Dalam hening ia merapal doa. Doa sederhana semoga permintaannya kali ini dikabulkan Sang Maha Pendengar Segala Pinta.

“Joni?”  seorang perempuan dengan dandanan elegan bertanya ramah padanya.

“Hai! Sandrina. Silakan.. Silakan.. Mau pesan apa?”

“Mm.. Jus jeruk juga boleh.”

Dan pembicaraan pun dimulai. Berawal dari basa-basi tentang masa lalu. Tentang sekolah dan juga kisah masa lalu yang pernah tercipta di antara keduanya. Hingga perlahan Joni mulai mengungkapkan segala hal yang sudah dipendamnya selama ini. Berusaha keras meyakinkan Sandrina akan visi dan misi yang kini dimilikinya. Sandrina menundukkan kepala sambil tersenyum. Dari raut wajahnya ia terlihat tidak nyaman dengan arah pembicaraan yang berlangsung. Diteguknya perlahan jus jeruk di hadapannya. Sedikit mengernyitkan kening karena rasa jeruk yang sedikit masam di lidahnya. Diliriknya jam di pergelangan tangannya, tepat saat didengarnya suara pemberitahuan dari speaker besar di salah satu sudut stasiun.

Sorry, Jon. Itu keretaku. Aku harus pergi sekarang,” Sandrina bangkit dari kursinya dan meraih tas tangannya.

“Lalu tentang permintaanku tadi?”

“Sorry, Jon. Kayanya aku nggak bisa. Sudah dulu ya. Aku harus segera berangkat. Bye!”

Joni menyesap habis jus melon dalam gelasnya. Menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Menerima kenyataan bahwa ia baru saja ditolak. Dan penolakan seperti ini bukan untuk pertama kali diterimanya. Kecewa, tentu saja. Tapi ia sudah semakin terbiasa.

Joni berjalan pelan menuju meja kasir. Pria muda penjaga kasir itu tersenyum ramah padanya.

“Tiga puluh enam ribu rupiah,” kasir membacakan nominal yang harus dibayar. Joni merogoh saku dan membayar nota pembelian jusnya.

IMG-20130402-02576
nota

Ditatapnya nota itu.

Tiga puluh enam ribu. Untuk sesuatu yang sia-sia.

Ia menghela napas panjang.

“Ada yang bisa kami bantu lagi, Pak?” suara itu membuyarkan lamunannya.

Atau mungkin tidak?

Senyum kembali terkembang di bibir Joni. Sebuah semangat muncul lagi dalam dirinya.

“Mm.. Dengan Mas … ?”

“Taufiq.”

“Ah ya. Mas Taufiq, bisa saya minta waktunya sebentar?”

Taufiq mengangguk.

“Ini hanya pertanyaan sederhana. Apakah Mas mau meraih kebebasan hidup secara finansial? Apakah Mas mau menikmati hidup tanpa khawatir akan terus bekerja seumur hidup? Kalau semua pertanyaan saya tadi jawabannya adalah ‘ya’, maka mungkin ajakan saya ini bisa sesuai dengan keinginan Mas Taufiq. Jadi.. cukup dengan membayar biaya keanggotaan kurang dari jumlah nota yang saya bayarkan ini, Mas Taufiq otomatis sudah melakukan langkah awal untuk mendapatkan kebebasan hidup secara finansial di masa depan. Caranya pun sangat mudah. Cukup dengan … “

Iklan

55 pemikiran pada “PromptChallenge # 11: Menjemput Impian

      1. ya ampuuuun, maappp, punya mbak mayya yah, bukan punya mbak latree *toyormukasendiri :D. ide sih boleh sama, tapi eksekusi bisa membedakan rasa *halah 😀

    1. Salam kenal juga mba Rie Rie. promptchallenge itu tantangan menulis FF dengan prompt berbeda tiap minggunya. Untuk minggu ini prompt-nya ‘gambar nota pembelian dua buah jus seharga Rp 36.000 di Coffee Bento Stasiun Gambir’.

      😀

    1. Tapi beda kan mba?

      *keukeuh.. *

      Di sini saya lebih fokus bercerita dari sudut pandang si Joni dan mencoba menggambarkan kalau si Joni itu bermental tidak mudah menyerah dan selalu memanfaatkan peluang sekecil apapun. Salah satunya dengan nawarin si Taufiq kasir cafe untuk join MLM. Semata karena ia udah ngeluarin biaya 36.000. Dengan harapan bisa balik modal.. 😀

      *dijelasin panjang lebar gini.. :mrgreen:

  1. hanya cukup dengan.. -selesai-
    andai nggak ada kata ‘selesai’ sebagai pertanda mengakhiri 🙂

    bagus mbak ceritanya, apalagi keputusan joni buat ngajak si kasir. keputusan tak diduga 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s