[Berani Cerita #8] Jamuan minum teh


Asmaralda membuka bungkus plastik berwarna merah itu. Mengeluarkan isinya dan meletakkan chocolate chips cookies di atas meja. Menuangkan teh pada cangkir-cangkir mungil di dekatnya. Setelahnya ia duduk dan merapikan roknya. Mengangkat cangkir di hadapannya, mendekatkan ke bibir mungilnya lalu meneguknya perlahan. Kemudian ia tersenyum. Mempersilakan tamu kecilnya untuk mencicipi hidangan.

Kiky, Rabita dan Sean.

Tiga boneka kesayangan Asmaralda.

“Ayo Anie, diminum tehnya,” suara Asmaralda terdengar.

Aku terperanjat.

Anie?

Siapa Anie?

Kulirik putri semata wayangku. Pandangannya mengarah pada bangku kosong di sebelah kanannya. Ia mengangsurkan secangkir teh ke arahnya. Berbicara selayaknya ada seorang gadis kecil seusianya duduk di bangku itu.Β Suamiku pernah bertanya pada seorang psikolog. Katanya anak-anak seusia Asmaralda memang wajar jika memiliki teman khayalan.

Aku mendekat ke arahnya.

“Siapa Anie?” bisikku.

“Eh Mama. Ini Anie, Ma. Dia cantik kan?”

Dan aku masih tidak dapat melihatnya.

***

“Putri saya memiliki teman khayalan, Dok. Apa itu wajar? Dan kami memang mengalami masa-masa sulit akhir-akhir ini.”

“Iya, saya paham situasinya Tuan Mayer. Saya turut prihatin akan kondisi keluarga anda. Tapi tenang saja, Tuan.Β Teman khayalan bukanlah tanda kelainan psikologis atau kompensasi dari rasa kesepian. Bahkan dari penelitian di tahun 2006, sebanyak 80 % anak yang menjadi responden dalam penelitian tersebut justru bersemangat ketika bermain dengan teman khayalannya.”

“Ya.. Sepertinya itu yang terjadi pada Asmaralda. Ah, kita sudah sampai. Ini kamar anak saya.”

Klik.

Pintu menjeblak terbuka. Asmaralda tersenyum manis ke arahku. Kudekati putri semata wayangku yang masih asyik dengan ketiga boneka kesayangannya.

“Hai. Sedang ada jamuan minum teh?”

Asmaralda mengangguk.

“Dengan Anie?” tanyaku.

“Ya. Dan kali ini ada tamu istimewa juga, Yah.”

“Oh ya? Siapa?”

“Mama.”

Aku terperanjat.Β Asmaralda tak pernah berbohong. Kuamati cangkir-cangkir yang ada di hadapan kami. Dan satu cangkir yang nyaris kosong itu membuat jantungku serasa berhenti berdetak. Satu cangkir berlipstik merah muda. Lipstik kesayangan Nadia.

Nadia mendiang istriku.

tumblr_lr4odrYaCk1qmrtwjo1_500_large

-selesai-

FF ini dipersembahkan untuk menjawab tantangan Berani Cerita #8.

banner-BC#08

Iklan

36 pemikiran pada “[Berani Cerita #8] Jamuan minum teh

  1. Bentar… saya masih bingung!
    Dicerita pertama, yang jadi aku itu Nadia, mama Asmaralda?

    Trus, dicerita kedua, aku-nya adalah Tn Mayer, papa Asmaralda?
    Dan dicerita kedua itu mama Asmaralda telah meninggal dan kini bergabung dalam jamuan minum teh itu dan akhirnya bisa melihat Anie?
    Berarti yang dimaksud masa2 sulit itu saat Nadia meninggal, kan?

    Jika seperti yang saya tangkap, cerita ini nyaris sempurna πŸ˜€

      1. yap, masih bingung sama yang itu. Kalau memang dari 2 pov, di part pertama kenapa Nadia ga bisa ngeliat Anie? Seharusnya ka nmereka bisa sama2 ngeliat, toh? *mikir*

      2. Karena Anie ini teman khayalan. Dan teman khayalan kan bukan dan tidak selalu berupa hantu atau makhluk halus, mba Isti.. πŸ™‚

        IMHO.

        Demikian.

  2. niceeee mba….
    inilah asyiknya fiksi..kita bisa membuat cerita dan klimaknya dimana kita mau dan pembaca kadang gak menduganya…
    dan kau sutradara fiksi yg handal mba bee πŸ˜€
    good job!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s