Menunggu mas Galang


Mas Galang menatapku. Selama sepersekian detik aku merasa tak berpijak di atas bumi. Seakan gaya gravitasi menghilang untuk sementara. Aku terpesona oleh tatapannya.

“Dek, kamu nggak apa-apa?”

Dan aku kembali berpijak ke bumi.

***

Aku mencintai mas Galang. Mas Galang yang punya mata elang. Yang selalu ada saat aku butuhkan. Mas Galang selalu bisa diandalkan. Sebut saja. Dia akan selalu bersedia mendengarkan ceritaku. Dialah yang pertama kali mengajarkan aku naik sepeda, mengenalkan aku basket dan yang membuatku tak pernah berhenti mencintai buku.

Dan waktu berjalan sangat cepat. Mas Galang pergi untuk menyelesaikan kuliahnya di kota buaya, sementara dua tahun setelahnya aku kuliah di Yogyakarta. Dan kami pun berpisah. Jika kini kami berjumpa lagi, itu karena kami memutuskan berjumpa lagi di saat liburan lebaran.

Dan tatapan mas Galang membuatku terpana.

Ya, mas Galang yang sama. Yang punya mata elang. Cinta pertamaku.

***

“Berbahagialah kamu Mitha. Kamu punya mas Galang yang selalu ada untukmu. Kalian seperti ditakdirkan untuk selalu bersama.” Maya memberikan tanggapannya.

Aku tersenyum.

“Dan dia juga mencintaimu kan? Buktinya dia masih ingat semua detil penting tentang kalian di masa lalu. Iya kan?” Sari menambahkan.

“Tinggal tunggu undangan aja.” Keduanya tersenyum.

Giliran aku yang terdiam.

Yang mereka tidak pernah tahu, bahwa selama ini mas Galang sudah punya kekasih. Dan yang harus aku lakukan adalah menunggunya putus dari pacarnya.

-selesai-

Iklan

Satu pemikiran pada “Menunggu mas Galang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s