[Berani Cerita #7] Si Pendiam yang Aneh


Aku baru saja selesai menyalin bahan perkuliahan dari buku catatan Dina yang kupinjam saat kudengar teriakan Bono dari dalam rumah.

“ADUH! Apa-apaan sih, Ma? Nggak bisa ya dia berangkat sendiri? Harus aku yang selalu nganter?? Ke rumah sakit jiwa, lagi! Ngerepotin aja!”

“Sstt.. Pelankan suaramu! Malu sama teman-temanmu,” suara Mama Bono ikut terdengar.

Aku dan Dina saling memandang. Kami berada di situasi yang serba salah. Mendengar pertengkaran yang jelas-jelas urusan rumah tangga orang lain bukanlah hal yang menyenangkan bagi siapapun.

Tak lama Bono keluar menemuiku dan Dina.

“Sorry ya, Guys. Gue tinggal sebentar,” pamit Bono.

“Kemana?” tanya Dina. Aku mencubit lengannya. Entah mengapa menurutku tidak seharusnya Dina bertindak kepo di saat seperti ini.

“Mau nganter orang berobat jalan!” jawab Bono ketus ke arah seorang perempuan bertubuh kecil di sebelahnya. Gadis itu menatap kami sekilas, lalu buru-buru menundukkan kepalanya. Tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya.

Berobat jalan?

Rumah sakit jiwa?

***

Beberapa hari kemudian.

Dasar angkot kurang ajar! Seenaknya saja nurunin penumpang di tengah jalan. Mana di depan rumah sakit jiwa, lagi. Aku menggerutu dalam hati. Tepat saat itulah aku berpapasan dengan seorang perempuan mungil dengan wajah tertutup rambut gimbal yang berantakan. Gadis itu buru-buru merapikan rambutnya asal-asalan dan saat itulah mata kami saling bertemu.

Lho?! Itu kan adiknya si Bono? Batinku.

Ia terlihat kikuk saat melihatku. Tersenyum pias, lalu buru-buru mempercepat langkahnya. Masuk ke dalam area rumah sakit jiwa. Gelagatnya sangat mencurigakan.ย Aku hanya terpaku melihatnya yang langsung menghilang di balik pagar rumah sakit jiwa.

Weird.

Jangan-jangan benar dugaanku. Kalau adiknya Bono itu pasien rumah sakit jiwa? Tapi mengapa tak ada satu orang pun yang kini mengantarnya?

***

“Pagi, Mbak Nara! Duh, berantakan sekali itu rambutnya,” sapa Suster Kepala di Rumah Sakit Jiwa Batin Tentrem.

“Pagi, Sus.. Eh berantakan? Parah ya?” ia tersenyum ramah.

Naraswati melihat tampilan wajahnya di cermin. Iya. Berantakan sekali. Seperti biasa, kakaknya Bono mengantarnya dengan ngebut lalu menurunkannya dua ratus meter dari lokasi RSJ. Tapi ia tidak menyangka rambutnya jadi sangat berantakan dan terlihat gimbal seperti ini.

Dirogohnya tas selempangnya. Mengambil sisir dan menyematkan sebuah tanda pengenal di sisi kiri dadanya.

NARASWATI PARAMITHA
MAHASISWA MAGANG
FAPSI UBAYA

Selama dua minggu ke depan, ia mengambil data untuk bahan penulisan Tugas Akhirnya.

-selesai-

banner-BC#07

Catatan penulis:

Kepo:

  • Kepoย itu berasal dari bahasa Bangka yang artinya kurang lebih mau tahu urusan orang atau orang yang sok sibuk.
  • Kepo berasal dari kata Kaypoh. Bahasa Hokkien yang banyak dipakai di Singapura dan sekitarnya. Sama seperti fudul, kepo berarti ingin tahu dan nggak bisa diam. (sumber di sini)

Magang di Rumah Sakit Jiwa

Beberapa fakultas Psikologi memang memberikan izin kepada para mahasiswanya untuk menjadi mahasiswa magang di rumah sakit jiwa. Beberapa di antaranya bahkan dimasukkan ke dalam mata kuliah atau bagian dari PKL.

Iklan

11 pemikiran pada “[Berani Cerita #7] Si Pendiam yang Aneh

  1. baru mau komen, bingung nyariin kotak komentarnya… eh ternyata tadi ke-klik reply di komentar sebelumnya. hihihih.

    ini dari dua sudut pandang ya mba. mau baca yang part 2 ah… *lagi kepo*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s