#PromptChallenge: Antara kartu pos, kendi dan kelangsungan hubungan kita


Bahtiar duduk termenung di atas sebuah kursi kayu. Pandangannya terpaku pada secarik kartu pos di tangannya.

“Your eyes, your hair, your smile and uniform are nice.”

Kartu pos merah hati. Tanpa nama pengirim. Hanya dialamatkan begitu saja di depan rumahnya.

Matamu, rambutmu, senyum dan seragammu bagus.

Seragam.

Satu-satunya yang pakai seragam di rumah ini cuma dia. Tak salah lagi.

***

Pembawa acara memimpin jalannya upacara. Meminta orang tua kedua mempelai melakukan ini dan itu. Mengguyurkan air bunga ke sisi kiri dan kanan calon mempelai, meminta sang ayah menuangkan air dari dalam kendi ke hadapan calon pengantin perempuan untuk digunakan berwudhu.

Tapi lelaki itu tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya tertuju pada kartu pos berwarna merah hati dalam sakunya.

Dan tibalah acara puncaknya. Mengayunkan kendi untuk dipecahkan sembari berucap “wis pecah pamore”.

Dan kendi itu tidak pecah.

450px-Kendi
Kendi

“Wis pecah pamore”.

Dibanting sekali lagi. Tidak pecah juga.

Pamor.

Hari gini kamu masih mikir pamor? Sudah punya anak dan suami masih juga mikir pamor. Ia bergumam tak jelas.

“Pamor apa lagi yang kamu cari?!”ย Bahtiar, sang ayah mempelai perempuan, tiba-tiba berteriak sambil mengayunkan kendi di tangannya pada bahu istrinya. Dan kendi itupun pecah berhamburan.

Semuanya terpana.

“Lho Pak? Ada apa ini?” Sri terkaget-kaget. Kesakitan mengelus lengannya.

“Ini apa Sri? Kamu selingkuh sama pak Kades? Seperti yang selama ini kucurigai?! Kartu pos ini buktinya!” cecar Bahtiar.

“Tapi pak..”

“Seragam.. seragam… Cuma kamu yang pakai seragam di rumah ini! Siapa lagi? Ayo ngaku!”

Kendi yang tinggal separuh itu hendak diayunkannya lagi ke arah kepala Sri. Dan Wati langsung berdiri menangkis berusaha melerai kedua orang tuanya.

“Bapak ini kenapa sih? Mana kartu posnya?”

Bahtiar menyerahkan kartu pos merah hati itu ke hadapan Wati, yang langsung mengecek alamat pengirimannya. Nihil. Matanya beralih pada stempel pos di sudut kanan atas kartu pos.

Semuanya menunggu.

“Ini buat Wati, Pak. Bukan ibu. Lihat alamat stempel pos-nya. Dari Makassar. Dari mas Bayu waktu ditugaskan di sana. Di rumah ini memang cuma Ibu yang pakai seragam, karena Wati pakai seragamnya cuma waktu bertugas di udara.ย Bapak lupa kalau pramugari juga pakai seragam?”

Dan tetiba suasana menjadi hening.

Wajah Bahtiar memucat. Entah mengapa firasatnya mengatakan kalau sisa pecahan kendi itu sepertinya akan mengenai kepalanya.

-selesai-

Dipersembahkan untuk #PromptChallenge #7: The Postcard dan #PromptChallenge #8: Kendi

Enjoy!

Iklan

21 pemikiran pada “#PromptChallenge: Antara kartu pos, kendi dan kelangsungan hubungan kita

  1. hmmmm… agak tak masuk akal di bagian Bapak yang tiba-tiba “menghajar” istrinya pake kendi di upacara yang disaksikan orang banyak. *IMO*

    plus… itu kendil apa kendi? :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s