Lampu Bohlam #5: Pulang


Aku sedang menikmati hangatnya sinar mentari dari balik jendela kereta ketika terdengar suara sms masuk di henponku.

Sms dari mama.

“Dik, rencana kapan jadinya pulang?”

Aah… mamaku ini. Seperti bisa membaca pikiran saja. Tadinya aku ingin memberi surprise dengan tidak mengabarkan waktu pasti pulang ke Surabaya. Tapi langsung berangkat, naik taksi dan berhenti di depan rumah sambil menggendong si mungil.. 😀

Aku akan membayangkan wajah mama dan bapak yang berseri-seri  menyambutku dengan senyuman yang selalu tersungging di bibirnya. *Oke.. mungkin bukan aku yang ditunggu.. tapi si mungil dalam gendonganku* 😆

Suara sms masuk membuyarkan lamunanku. Sms kedua dari mama.

“Gimana kabar Syifa? Sehat?”

Mamaku ini. Jika sms tidak segera dibalas, mama akan memberondongku dengan beberapa sms tambahan.. 😛

Aku pun segera menekan tuts handphone dengan tangan kananku, sementara tangan kiriku masih mendekap si mungil yang masih tertidur. Di kananku laki-laki pilihanku seperti bisa membaca pikiranku. Ia hanya tersenyum… 🙂

“Alhamdulillah sehat ma.. Bapak, mama dan mbah putri apa kabar? Ya.. nanti dikabari kapan jadinya pulang.”

Segera kukirim pesan singkat tersebut. Bertepatan dengan menepinya kereta yang membawa kami ke kota buaya ini.

***

Taksi menepi dan kami turun dari mobil berwarna biru langit. Sang sopir menurunkan barang-barang. Aku turun sambil menggendong si mungil yang sudah terbangun.

Ah.. rumah bercat putih ini. Rumah dengan seluruh kenangan masa kecilku.

Rumah dengan aroma melati yang selalu menyambut kami dengan hangat.

Tampak seorang perempuan separuh baya mendekat ke arah pintu rumah bercat putih yang memang selalu terbuka.

Aah… mamaku yang selalu kurindukan.

Seperti yang ada dalam pikiranku. Mama tersenyum hangat menyambut kami. Dengan senyum tersungging di bibirnya, dan mata berkaca-kaca menahan rasa haru. Senyum tak pernah hilang dari wajahnya, sambil mengulurkan tangan hendak menggendong si mungil.

Aku mengangkat si kecil dalam gendonganku dan menyerahkannya pada perempuan yang melahirkan dan membesarkanku. Perempuan yang sangat kusayangi..

Akupun mencium tangan perempuan hebat tersebut dan tak henti-hentinya bersyukur memilikinya sebagai ibuku

Dalam hati aku berdoa…

“Ya Allah.. ampunilah dosa kedua orang tuaku dan sayangilah mereka seperti mereka menyayangi aku ketika aku kecil..”

<
-selesai-

Teruntuk Lampu Bohlam #5: Pulang

Iklan

10 pemikiran pada “Lampu Bohlam #5: Pulang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s