[Berani Cerita #5] Lorong


Sepertinya suasana malam ini tidak begitu bersahabat bagi Riana. Angin yang dingin membuat dia memaki dirinya sendiri kenapa lupa membawa jaketnya yang tertinggal di mobil. Lorong yang tidak terlalu terang karena beberapa lampu mulai dimatikan. Dan kenapa tidak ada orang bersliweran? Padahal masih jam 8 malam.

“Nah, sebentar lagi sudah sampai di kamar Sinta.” Riana mencoba menghibur diri sendiri karena dirinya masih merinding. Cepat-cepat langkahnya diayun, sampai akhirnya dia berhenti tiba-tiba saat melihat sebuah tempat tidur dorong melaju cepat ke arahnya.

SEERR…

Dengan sigap Riana berlari menepi. Dilihatnya tak satupun orang berada di atas tempat tidur itu. Dan tak seorangpun terlihat mendorongnya. Tempat tidur dorong itu meluncur cepat begitu saja. Hingga berhenti sendiri karena menabrak dinding di belakangnya. Menghasilkan suara tabrakan yang cukup memekakkan telinga. Lalu suasana kembali hening.

Tak ada suara perawat, tak ada satpam yang berjaga. Pun dokter jaga yang selalu membawa stetoskop di lehernya.

Aneh sekali.

Riana menarik napas dalam sebelum akhirnya menghembuskannya lagi perlahan. Ia bimbang. Apakah sebaiknya kembali menuju mobil dan pulang ke rumahnya ataukah mempercepat langkah dan masuk ke kamar Sinta?

Memikirkan adik semata wayangnya, Riana pun bulat memutuskan untuk mempercepat langkahnya. Dan segera dibukanya pintu kamar Sinta.

Kamar itu gelap sekali. Tak ada seorangpun di sana. Hanya beberapa tempat tidur dorong dengan selimut putih membentuk gundukan-gundukan yang seakan menutupi sesuatu. Tak ada wajah pucat Sinta. Tak ada rengekan manjanya.

Dan tetiba hatinya berdesir. Sesuatu yang dingin menyergap belakang lehernya. Bulu kuduknya berdiri.

Ia mengalihkan pandangan ke ranjang tertutup di sisi kiri pintu masuk. Sepasang kaki hitam dikaitkan di ujung telunjuknya dengan secarik kertas bertuliskan Mr. X.

Kamar apa ini?

Jangan-jangan..?

Riana tercekat.

Kakinya terasa berat, seakan ada sesuatu yang menghalangi langkahnya. Bahunya ditepuk pelan. Ia melirik sekilas. Tangan dingin yang menepuknya itu penuh dengan luka-luka bernanah bercampur darah. Air mata mulai menetes di pipinya. Ia sangat ketakutan.

“Mbak..? Cari siapa? Di sini lagi ada shooting film horror.. Kalau mau membesuk tuh di lorong sebelah.”

-selesai-

banner-BC#05
320/500

Iklan

32 pemikiran pada “[Berani Cerita #5] Lorong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s