That’s what friend are for?


“Bee.. anterin gue yuuk!” pinta Sofia padaku. Tanpa banyak tanya aku mengikuti ajakannya.

Tak membutuhkan waktu lama, mobil Katana hijau toscanya telah membawa kami menembus ruwetnya lalu lintas kota Surabaya. Mengantar kami dari kampus di pusat kota menuju kampus pinggiran kota Surabaya. Menuju kampus Zerro, kekasih Sofia.

Katana itu diparkir berseberangan dengan kampus lelaki pemain skateboard yang sudah nyaris empat tahun menemani hari-hari Sofia.

“Kita mau ngapain?” tanyaku.

“Aku perlu membuktikan omongan Nia. Katanya, Zerro selingkuh,” Sofia memandang lurus ke arah kampus kekasihnya. Sekelebat bayangan mirip Zerro memasuki pelataran kampus. Di sisi kanannya berdiri seorang gadis berambut sebahu dengan rok mini dan baju merah menyala tanpa lengan. Dan tangan Zerro nangkring dengan manisnya di pundak gadis itu.

Gawat. Batinku.

Bakal ada perang dunia ketiga ini.

Sudah bisa ditebak. Sofia melabrak keduanya. Menghadiahi souvenir merah bekas tamparan tangannya tepat di pipi kanan Zerro. Dan sumpah serapah pun terdengar di udara.

Dan selama tiga hari berikutnya aku jadi pendengar setia Sofia. Mendengarkan semua curhat patah hatinya. Menjadi pendengar setianya.

That’s what friend are for, kan?

***

Lima bulan kemudian.

“Bee, jalan yuuk!” ajak Sofia.

Aku menggeleng. Semenjak putus cinta aku malas melakukan apapun. Hubunganku dengan mas Bagas nggak berlangsung lancar. LDR itu memang menyebalkan. Long Distance Relationshit kata abangku.

“Masih kepikiran mas Bagas?” tebaknya. Aku tersenyum miris. Memandang ke arah Sofia. Hebat sekali ia. Putus cinta dari Zerro sudah nggak ada bekasnya lagi. Sementara aku? Patah hati tiga bulan karena digantung, tapi tetap saja ngga mau move on. Rutukku pada diri sendiri.

“Ceria bener, Sof..” aku mengalihkan pembicaraan.

“Lagi kasmaran ya?” tebakku. Sofia tertawa terbahak-bahak. Dan tetiba ponselnya berbunyi. Dia mengangkatnya.

Entah mengapa hatiku sakit sekali. Rasanya seperti diiris-iris.

Sofia minta izin menerima telepon di luar kamar. Sementara aku menatap ponselku sendiri yang masih pending mengirim pesan pada mas Bagas. Sms yang digantung. Seperti hubunganku dan mas Bagas yang menggantung.

like_a_sad_song___by_TOYIB

***

“Ya Mas? Tumben telepon sekarang. Biasanya sore? Bukan.. Bukan nggak mau. Tapi ngga enak sama Bee. Iya, dia ada di sini. Iya mas, ntar malem aja ya?! Love you too..”

Sofia menutup telepon. Mengakhiri pembicaraan dengan pacar barunya.

Aryo Bagaskara.

Mas Bagas-nya Bee, sahabatnya.

-selesai-

Iklan

5 pemikiran pada “That’s what friend are for?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s