Memutuskan (untuk) bersabar


Semua ini bermula dari sebuah komentar.

Ucapan mulutmu harimaumu itu benar adanya. Cuma di jaman sekarang, “mulut” itu diwakilkan oleh tangan yang mengetik. Perbincangan dan obrolan pun tidak sekedar harus dilakukan dengan bertatap muka. Ada yang melalui status di salah satu jejaring sosial ada pula yang melalui blog. Ya bebas- bebas aja.

Saya punya pengalaman masalah komentar.

Bukan nyindir, tapi tulisan ini untuk pengingat saya di masa depan.

Pernah saya berkomentar di salah satu blog. Tentang kuis, memberi hadiah pada pendukung si empunya blog (yang udah ngasih komentar di postingan/statusnya yang diikutkan kuis) supaya jadi jalan memuluskan usahanya mengikuti kuis tadi. Tapi di satu sisi, dia cuma pengen ngasih hadiah sebagai ucapan terima kasih. Atau apalah niatnya sesungguhnya. Tapi yang saya tangkap itu. Ah, whatever-lah kalau bagian yang itu.

Nah dia nulis kalau paling kesel sama salah satu peserta kuis, yang inbox untuk minta di-like tulisannya / postingannya (sepertinya ini salah satu syarat untuk bisa ikutan kuis) lalu di akhir pesannya menulis “Semoga Allah membalas kebaikanmu”.

Sampai di sini nggak ada masalah. Menurut saya itu wajar. Tapi kemudian dia ngelantur sambil bilang katanya gak usah kaya gitulah. Dia bilang ‘serem aja, jadi kalau nggak nge-like trus dilaknat Allah?’.

Duuh nih orang parah bener. 😐

Kenapa jadi bawa-bawa laknat ya? Kenapa dia nggak positif thinking aja kalau doa ‘semoga Allah membalas kebaikanmu’ itu adalah doa yang diucapkan/dituliskan dengan tulus karena si pengirim invox merasa berhutang budi padanya? Jadi untuk membalas kebaikan orang yang me-like status atau postingannya dia cuma bisa mendoakan agar Allah yang membalas (kebaikan)nya. Itu akhirnya komentar yang saya tulis di blognya. Mudah-mudahan dia bisa menerima dengan baik komentar saya. Tanpa banyak prasangka tambahan… 😀

Membaca tulisan di blognya malah bikin saya semakin puyeng. Ternyata nggak cuma sampai di situ ‘kebawelannya’. Lalu dia ngomong ngalur ngidul dan salah satunya ada kalimat kalau dia kesal sama ibu-ibu yang datang ke rumah minta sumbangan sambil bilang Assalamu alaikum, lalu mengulurkan sebuah lembaran sumbangan, tapi pas dikasih ‘sedikit’ berlalu dengan…. *bla.. bla.. bla.. mbuh lupa apa kelanjutan dari tulisannya.. 😀

[catatan penulis: saya bacanya lewat hp, -kesalahan saya-, itu menyebabkan mata saya lelah dan memilih membaca cepat. Kesalahan saya berikutnya saya nangkepnya dia nulis ibu pengemis. I’m so sorry. Sudah saya ralat di komentar saya di blognya.. :)]

Di sini saya makin gemas.

Kok ngomongnya jadi ngalur ngidul. Maka saya pun berkomentar “memangnya ada yang salah di mananya? Kan Assalamu alaikum itu sendiri sudah merupakan doa? Doa pada si empunya rumah (yang didatangi ibu peminta sumbangan tadi) agar mendapatkan keselamatan. Kalau diucapkan lengkap Assalaamu alaikum warohmatullahi wa barakaatuhu malah ditambah semoga mendapatkan rahmat juga.”

Dan dia membalas lagi dengan kalimat kalau gak ada yang salah dengan itu (ucapan salamnya) tapi digunakan untuk melakukan hal yang tidak baik. Nah di sini saya nangkepnya dia punya prasangka terhadap dana yang dikumpulkan si peminta sumbangan untuk dilakukan dengan tidak amanah. Nah kalau ini saya angkat tangan. Ibu saya pernah berpesan. Kalau kamu mau bersedekah, ya bersedekahlah sesuai dengan kemampuanmu. Dan ikhlaslah. Sedikit atau banyak bukan ukuran. Ikhlas jauh lebih penting. Jangan pertanyakan lagi ke mana sedekahmu mengalir. Kalau kaya gitu jadi berkurang keikhlasannya. 😀

Serahkan saja pada Allah SWT, dan doakan saja semoga orang tersebut amanah.

Selesai. Itu menurut saya.

Tapi malesin banget kalau saya harus komen gitu (lagi) di blognya. Apalagi dari tulisan dan komentarnya si blogger kuishunter (saya disebutnya ibu blogger manis mania :mrgreen: :P) terlihat terkesan penuh amarah dan dia menulis ‘ini blog gue, (ter)serah-(ter)serah gue mau bilang apa.’

Menghadapi orang kaya gini juga nggak ada untungnya kan? Menang nggak membuatmu termasyhur, kalah juga nggak membuatmu jadi manusia hina. Ini debat kusir. Dan ibu saya membenci debat kusir. Saya nggak mau jadi orang yang dibenci ibu saya. 🙂

Itu sebabnya saya tinggalkan saja blognya. Case closed.

Mungkin saya sedikit dongkol. Mungkin saya nggak terima sama prasangkanya terhadap saya.

Tapi ya sudahlah… Teringat kalimat indah salah seorang sahabat saya yang lain.

Sabar itu adalah, ketika kita mampu melakukan sesuatu tapi kita tidak melakukannya karena pertimbangan logis sebagai manifestasi cinta kita pada Allah (Ade Anita)

Kalau kata dosen saya, jangan mau jadi robot. Dipencet tombol ‘buat dia sakit hati’ langsung ‘merasa sakit hati’, dipencet tombol ‘hancurkan egonya’ langsung bereaksi ‘ngamuk’. Hahaha… 😆

Nggak mau ah. Nggak seru. Saya malah mau bereaksi sebaliknya.

Biar saja dia mencet tombol ‘buat dia jengkel’ sementara saya memilih melakukan reaksi ‘senyum dan berlalu’ daripada ‘tetap komen dan ikutan teraduk emosinya’.. 🙂

akur
melihat foto anak-anak juga bisa membuat hati bahagia lagi.. 🙂
duo
tingkah anak-anak yang menghilangkan bête.. 😆

Mungkin beberapa orang juga pernah berada dalam kondisi yang sama, atau mungkin berbeda. Tapi di situasi itu kita sama-sama harus bersabar. Memang terasa berat. Nah, suami saya bilang sabar itu tidak ada batasnya.. 🙂

Sebisa mungkin saya pakai segala cara, berpikir logis, memposisikan diri lebih tinggi dari sekedar ‘robot yang penuh tombol emosi’ dan kalau semuanya gagal, mungkin sekarang saatnya saya nyuci baju..

:)))) 😆

Untuk yang masih bingung kenapa harus nyuci baju? Temukan jawabannya di sini.

 

Ini ceritaku (yang baru bisa diposting) hari ini.

Apa ceritamu? 😀

 

Iklan

6 pemikiran pada “Memutuskan (untuk) bersabar

  1. Asmie loves this quote : Sabar itu adalah, ketika kita mampu melakukan sesuatu tapi kita tidak melakukannya karena pertimbangan logis sebagai manifestasi cinta kita pada Allah.

    HP nya kenapa jeung? kok telpku gak diangkat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s