Antara saya, flash fiction dan ide yang berseliweran di kepala


Menulis.

Apa sih arti menulis untuk kamu? Mungkin pertanyaan itu sering terlontar dari mulut beberapa rekan dan kerabat yang tahu hobby sekaligus pekerjaan yang kelihatan kaya nggak punya kerjaan saya. Menulis. Jika dijabarkan dengan kalimat sederhana, menulis bagi saya salah satunya adalah terapi diri. Ya, menulis itu membuat saya seimbang. Rutinitas sebagai ibu dari dua orang balita yang belum sekolah biasanya seputar mandiin anak, nyuapin, nemenin anak-anak bermain, nyuci baju, nyapu, ngepel, njemur, setrika, masak, nyuapin lagi, mandiin lagi, nemenin tidur daan berputar lagi seterusnya. Ditambah juga nyiapin baju kerja bapaknya anak-anak, ngeberesin laptop, nemenin makan, ngobrol, bercengkerama *oke sisanya nggak usah dijelasin detil kan ya? :mrgreen:.

Nah, terkadang pekerjaan rumah tangga yang nggak ada habis-habisnya itu terasa monoton. Saya yang sebelum menikah adalah perempuan pekerja, sempat merasa antusias dengan pekerjaan sebagai perempuan rumah tangga. Namun ketika suami bekerja dan pekerjaan rumah tangga sudah selesai (waktu itu belum punya anak.. :D) kayanya waktu terasa panjang. Ngapain lagi ya? Maka saya pun memutuskan untuk menulis.

Menulis apa?

Ya apa saja. Salah satunya pengalaman saya menjadi seorang istri, perasaan saya ketika beralih profesi sebagai perempuan rumah tangga, pengalaman saat hamil dan mengurus si kecil, celoteh dan tingkah ajaib si kecil, pengalaman jauh dari keluarga atau apa saja yang saya alami. Beberapa tulisan saya buat seperti diary dan ada juga yang saya buat cerita fiksi. Biasanya cerita yang saya buat cerpen atau flash fiction idenya berasal dari curhat teman, atau pengalaman orang-orang terdekat saya.

Dan menulis membuat saya bahagia!

Dengan mudah saya pun jatuh hati dengan dunia menulis.

Menulis itu seperti menuangkan ide-ide yang berseliweran di kepala saya kepada wadahnya.

Itulah sebabnya, menulis itu jadi sebuah kebutuhan untuk saya. Karena setelah menulis, saya merasa lega telah menuangkan ide yang berseliweran di kepala tadi. Dan bagian paling sulit saat menulis adalah menuangkan ide di kepala dalam tulisan yang kemudian bisa membuat pembaca -ya saya percaya diri bahwa tulisan saya akan ada yang baca :lol:- *inipun kalau ada yang baca :D* mengerti apa yang mau saya sampaikan. Dan sebuah tulisan, ternyata bisa ditanggapi dengan respon yang beragam. Misalnya tulisan saya yang ini. Tulisan yang pernah saya posting di situs www.ngerumpi.com dengan judul asli “Mereka Bilang Aku Nggak Waras”. Kalau kata salah seorang sahabat saya tulisannya bagus. Endingnya oke. Sementara ibu saya bilangnya terlalu kelam. Bahkan melarang saya untuk menulis tulisan yang seperti itu lagi. Qiqiqiqi.. :mrgreen:

Sebenarnya itu lebih dikarenakan latar belakang ceritanya yang berhubungan dengan dunia lain. Membuat ibu saya yang juga mantan perawat -dan biasanya punya banyak pengalaman dengan dunia lain yang misterius ya? :D- berpikiran bahwa menulis sesuatu yang berbeda alamnya dengan kita bukanlah ide yang bagus. 😐

Oke mom, saya mulai merinding ini.. 😐

Sebenarnya yang mau saya ceritakan dari tulisan itu ide dasarnya adalah cinta tanpa restu. Nah biar nggak spoiler, yang mau baca ceritanya boleh loh mampir dulu ke sini.

Mereka Bilang Aku Nggak Waras – rinibee

Di situ diceritakan Maya memiliki jalinan kasih dengan seorang pria bernama Rustin. Dan bla bla bla hingga akhirnya dia kabur dari rumah hanya untuk menemui Rustin. Di pagi harinya kedua orang tuanya menemukan Maya tertidur di bawah sebuah pohon besar. Kepalanya ditelungkupkan di atas sebuah gundukan batu yang bertuliskan Rust in Vrede (artinya beristirahat dengan tenang). Jadi batu itu adalah batu nisan, di atas makam peninggalan Belanda. Dan nama Rustin diambil dari tulisan di atas batu Rust dan In.

Itu ending flash fictionnya.

Silakan anda kembangkan sendiri. Apakah kenyataannya memang benar ada seorang pria bernama Rustin ataukah semata hanya halusinasi seorang Maya setelah membaca tulisan di atas nisan tersebut.

Saya serahkan sepenuhnya kepada pembaca. Hehehe..

382434_3918367873203_971202719_n

Oya, beberapa hari yang lalu saya membuat sebuah flash fiction (lagi). Jadi ceritanya setiap hari Senin saya ikut #PromptChallenge di sebuah grup menulis. Namanya Monday FlashFiction. Tiap minggu kita diminta membuat sebuah flash fiction dengan tema tertentu yang sudah ditentukan. Di tugas terakhir, saya diminta untuk membuat satu cerita flash fiction dengan menyertakan kalimat ini di dalam cerita.

“Inna lillah! Bayi? Bayi apa? Kapan lahirnya kok tiba-tiba sudah ada jenazahnya? Kapan Rim hamil?” Mbah Mis memberondong Net dengan pertanyaan-pertanyaan yang tiba-tiba memberondong kepalanya.

Entah mengapa, setelah membaca cuplikan kalimat tersebut, di dalam kepala saya justru kebanjiran ide. Nggak hanya satu. Tapi saya punya 3 ide cerita. Maka saya sampaikan saja kegalauan saya pada teman-teman di grup, kalau saya bingung mau menaruh link tulisan saya yang mana. 3 tulisan itu adalah:

1. Bayi Rim

2. Lelaki yang (tak) sempurna

3. Antara ada dan tiada

Akhirnya saya putuskan untuk share ketiga tulisan saya di grup. Dan sepertinya kembali lagi ke masalah selera ya? Satu tulisan bisa dengan mudah dipahami oleh satu orang namun menjadi mbulet untuk orang lain. Satu tulisan diterima dengan respon “I like this” dan bisa juga direspon “saya nggak ngerti”, “ini aneh”, “ceritanya nggak masuk akal”, dan lain sebagainya.

Oke. Itu masukan bagus buat saya. Dan di sini saya mendapatkan juga feedback bahwa membuat sebuah tulisan yang mudah dimengerti itu perlu perjuangan besar. Untuk saya pribadi, sebuah cerita flash fiction dianggap berhasil ketika ada perasaan tertipu dalam benak pembaca saat membaca kisah yang ditulis oleh si pencerita. Ketika penulis menuliskan kata ‘selesai’ atau ‘the end’ di akhir cerita. Nah di akhir cerita apakah persepsi si pembaca dan penulis itu sama atau justru jauh berbeda? Itulah flash fiction. Memiliki twist ending. Ending yang dipelintirkan.

Dan jujur saja. Saya suka membaca cerita flash fiction. Saya suka saat menikmati sensasi mengetahui akhir bagian cerita. Apa kiranya saya akan tertipu atau saya akan dengan mudah bisa menebak endingnya. Biasanya saya memposisikan diri saya sebagai pembaca yang jujur. Membaca sesuai dengan apa yang ada di benak saya. Dan kalau akhirnya saya tertipu. Saya akan bilang terus terang.

“Sialan! Gue ketipu. Tulisan ini asyik!” 😆

Hey.. itu pujian. Pujian untuk penulis yang bisa membuat saya manyun karena tertipu. 😀

Good job, you! 🙂

Sementara dari sisi sebaliknya, saya sangat menikmati menulis sebuah flash fiction. Ada kepuasan yang besaaaar sekali kalau tulisan kita nggak ketebak endingnya. Rasanya senaaang sekali. Puas banget. 😆

Tapi kalau ketebak, ya.. berarti ilmunya dia lebih tinggi dari saya. Hehehe.. 😀

Nah bicara tentang menulis flash fiction, saya akan sedikit membahas tulisan terakhir saya. Yang ini. Yang judulnya Antara ada dan tiada. Biar persepsi kita sama. Mohon kesediannya untuk mampir dulu di sini ya.

Antara ada dan tiada – rinibee

Di salah satu komentar, ada yang menemukan kejanggalan pada tulisan saya tersebut. Nah di sini saya nggak akan bahas terlalu jauh atau memberikan konfirmasi untuk membela diri. Saya anggap saja itu masukan berharga untuk kebaikan tulisan saya ke depannya. Matur nuwun mba Giarti. Nah supaya persepsi kita sama, ada baiknya mari kita mampir ke dua link tulisan ini. Tempat saya menemukan ide yang kemudian menjadi ide dasar saya membuat flash fiction tadi. Dan awalnya, saya juga punya kebingungan yang sama dengan anda. Hehe.. 😀

Tetiba Ada

Sekejap tiada

Untuk link pertama, semoga kasus yang dialami Suryati bisa menjadi jawaban pertanyaan mba Giarti dan mungkin juga teman-teman lain yang membaca flash fiction saya.

Terima kasih untuk kunjungan teman-teman, juga atensinya serta seluruh komentar serta masukannya yang berharga. Semoga Allah SWT memberikan ganjaran kebaikan yang berlipat-lipat untuk teman-teman semuanya.

aamiin.. 🙂

Happy weekend!

Iklan

8 pemikiran pada “Antara saya, flash fiction dan ide yang berseliweran di kepala

  1. Aih keren mbak! Nulis fiksi dengan riset adalah dua hal yang gak terpisahkan dan aku suka mbak melakukan itu loh! You already did a good job! Selama ini aku membaca FF punya mbak, dan aku suka! Cerita yang mbak suguhkan selalu mantap! Mungkin aku juga udah jadi salah satu fans-mu 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s