Jatuh [karena] cinta?


Dua gadis itu duduk saling berhadapan. Keduanya menghindari tatapan satu dengan yang lain. Si jangkung sibuk dengan resleting tasnya yang terkait, sedangkan gadis berkacamata dengan rambut sepunggung itu membetulkan letak kacamatanya yang sedikit bergeser. Tak ada yang bersuara. Tak seorang pun ingin memulai percakapan. Si jangkung melirik jam dalam layar ponselnya. Jika tak juga dimulai, maka aku akan pergi. Ucap batinnya.

“Aku pulang,” si jangkung bersuara.

“Tunggu dulu, Ri!” cegahnya sembari menggamit lengan gadis jangkung itu.

Ri menghentikan langkahnya. Menunggu. Vi memintanya untuk duduk. Lalu membuka laci meja belajarnya. Mengeluarkan beberapa foto seukuran postcard, dan menunjukkannya pada Ri.

“Kamu tahu siapa ini?” tanyanya.

Mata Ri membulat. Segala pertanyaan yang selama ini berkelebat di benaknya terjawab sudah. Ia tahu siapa anak laki-laki dalam foto itu. Jika ada yang bilang kalau setiap manusia di dunia memiliki setidaknya 7 kembaran di seluruh dunia, mungkin saja ada kemungkinan kalau foto anak laki-laki dalam genggaman Vi itu memiliki wajah yang nyaris mirip dengan orang yang dikenal Ri. Kembaran Junakah?

Ri bergeming. Menatap nanar foto yang kini telah berada dalam genggamannya. Tiga foto yang sama yang pernah dilihatnya di masa lalu. Dan foto ketiga, foto sang anak lelaki yang berada dalam gendongan seorang pria yang membuatnya seratus persen yakin. Bahwa anak laki-laki itu adalah Juna. Arjuna Priyambada.

“Ri?” suara Vi membuyarkan lamunannya.

Ri menatap tajam ke arah Vi. Hatinya sungguh terluka. Tapi ia pantang menangis hanya demi seorang laki-laki.

“Untuk apa kamu tunjukkan foto ini padaku?” Ri menantang tatapan pada Vi. Yang ditatap justru memutus kontak mata. Tak kuasa memandang perempuan yang ada di hadapannya. Perempuan yang selalu ada di sampingnya. Saat ia tertawa bahagia pun ketika terpuruk dengan luka menganga di hatinya. Sahabatnya.

“Jadi kamu tahu kan?”

“Tahu apa?”

“Siapa lelaki itu,”

Tentu saja aku tahu! Ini Kak Juna dan Pakdhe Darmawan. Jerit hati Ri. Wajahnya memanas. Sekuat tenaga ia menahan bulir bening itu menetes di pipinya.

“Lalu kenapa kalau aku tahu?” Ri menurunkan nada suaranya. Tak perlulah ia menunjukkan betapa pedihnya hatinya.

“Kamu mencintainya kan?” Vi bertanya hati-hati.

Pertanyaan bodoh Vi. Sangat bodoh. Tentu saja aku mencintainya. Dan kamu tahu aku mencintainya. Tapi cintaku padanya nyatanya tak mampu membuatnya untuk tetap bersamaku.

“Tidak, aku tidak mencintainya!” Ri bangkit dari kursinya. Bersegera pergi. Diliriknya jam di ponsel birunya.

Sorry. Aku harus pergi sekarang!”

Ri melangkahkan kaki pergi meninggalkan Vi. Dan tak ada gunanya bagi Vi mencegahnya pergi. Ataukah sesungguhnya jauh di dalam lubuk hatinya ia ingin memberi jarak di antara mereka. Memberikan waktu pada dirinya sendiri dan juga Ri untuk menerima kenyataan ini.

Tanpa mengucapkan selamat tinggal, Ri melajukan motornya meninggalkan rumah Vi. Meninggalkan segala hal indah yang pernah mereka lakukan di rumah yang pernah menjadi salah satu tempat favoritnya. Rumah yang pernah menjadi saksi bisu saat ia bercerita tentang perasaan cintanya pada Juna. Rumah yang sejak saat ini tak akan pernah lagi sama seperti dulu.

Ri telah memutuskan. Meninggalkan Vi, Juna, dan cintanya. Meninggalkan semua jauh di belakangnya. Untuk kali ini ia hanya ingin sendirian.  Dan bulir air mata itu menetas satu per satu tanpa bisa dicegahnya.

Ri tenggelam dalam pikirannya sendiri. Berpikir dalam kebisuan yang diciptakannya. Apa sesungguhnya yang paling menyedihkan untuknya saat ini?

Kehilangan sahabat, atau menerima kenyataan bahwa cintanya ternyata memang bertepuk sebelah tangan?

Dan Ri tahu sejak awal. Ketika ia memutuskan untuk mencintai, maka pada saat yang sama ia harus siap untuk patah hati. Dan kini hatinya tak akan pernah lagi utuh seperti dulu. Remuk di beberapa bagiannya.

heart-broken

-bersambung-

Iklan

2 pemikiran pada “Jatuh [karena] cinta?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s