[Berani Cerita #2] Enam Tiga Puluh


Mereka bilang aku nggak waras. Hanya karena aku mencintaimu. Cinta yang mereka nggak paham. Karena mereka nggak ikut merasakannya.

Mereka bilang aku nggak waras. Karena mereka tidak pernah ketemu kamu, dan berbincang-bincang denganmu. Seperti yang selama ini aku lakukan.

Hanya karena mereka tidak pernah tahu dirimu sedalam aku mengenalmu, pantaskah mereka bilang aku nggak waras? Mereka kan tidak mengenalmu sebaik aku mengenalmu?

“Lupakan dia! Kamu sudah tidak waras. Mencintai seseorang yang tidak pernah nyata!” Ayah berkacak pinggang memakiku. Ini sudah yang kelima kalinya dalam seminggu terakhir. Aku bergeming. Biar saja ayah memaki sepuasnya. Karena bagaimanapun juga aku akan tetap menemuinya. Dengan atau tanpa restu ayah.

Perempuanku menatapku iba. Aku tahu posisinya sulit. Membelaku sama halnya dengan menentang lelakinya. Dan dari sorot matanya aku tahu ia sependapat dengan ayahku. Bahwa aku sebaiknya berhenti menemuinya. Menemui Rustin, kekasihku.

Selepasnya ayah berlalu. Ibu mendekatiku yang masih terduduk dengan pandangan kosong. Mungkin tubuhku memang di sini, namun hati dan jiwaku berkelana memikirkan Rustin.

“Hentikan, Maya. Ibu ingin kamu kembali seperti dulu. Semakin sering kau menemuinya semakin jauh ibu kehilanganmu,” ibuku mengusap sayang rambutku dan mencium lembut keningku.

Hari ini aku sedih. Tidak ada yang bisa memahamiku. Nggak ada. Dan akupun teringat padamu. Hanya kamu yang bisa mengerti aku. Yang bisa menenangkanku dan membuatku merasa nyaman. Seperti biasanya.

Kulompati daun pintu jendela kamarku, turun perlahan dari dahan pohon yang tumbuh rimbun mendekati jendela kamarku. Lalu berjalan berjingkat agar tidak ada yang mendengar.

Aku berjalan menyusuri gelapnya malam tanpa rasa takut sedikitpun. Bayangan akan bersandar pada bahu kekarmu membuat segala kekhawatiranku menghilang. Kulirik jam di pergelangan tanganku. Pukul 21.30 WIB, yang sekaligus menjawab pertanyaan dalam benakku mengapa tak seorang pun terlihat di sepanjang jalan yang kulewati.

Begitu melihatmu, aku langsung menghambur dalam pelukanmu. Tanpa banyak bertanya engkau pun mendekapku, mengusap lembut rambutku. Dan seketika hatiku terasa tenang.

Begitulah. Engkau selalu bisa kuandalkan. Selalu bisa membuatku nyaman. Dan akupun mencintaimu. Meski mereka semua bilang aku tidak waras. Hanya karena mereka tidak mengenalmu dan aku tak pernah mengenalkanmu pada mereka.

Cukuplah aku tahu keberadaanmu. Itu saja.

Aku terbiasa menemuimu di kala semua orang sudah lelap tertidur, dan baru kembali pulang tatkala pagi menjelang. Sebelum ayam jantan berkokok dan sebelum mereka semua terbangun dari mimpinya.

Tapi kali ini berbeda. Aku sudah tak perduli lagi. Kuputuskan untuk tetap tinggal dan hanyut tertidur dalam dekapanmu. Hingga pagi menjelang.

***

Pagi itu mentari menampakkan sinarnya yang hangat. Jam menunjukkan pukul 06.30. Seorang lelaki separuh baya mengayuh sepeda tuanya, dan perempuan belahan jiwanya duduk di belakangnya. Mereka menyusuri jalan mencari sang putri tunggal. Putri tunggalnya yang mengaku memiliki kekasih bernama Rustin. Lelaki yang tidak pernah mereka temui sama sekali. Semalam, sang gadis menghilang dan pagi ini mereka berdua mencarinya.

Di samping sebuah pohon rindang mereka berhenti.

“Pak, itu Maya…”

Di bawah pohon rindang mereka menemukan sang anak gadis. Tertidur di samping sebuah nisan bertuliskan Rust in vrede.

-selesai-

Catatan penulis:

Rust in vrede (Belanda): beristirahat dengan tenang

382434_3918367873203_971202719_n

“Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma.”

 

Iklan

8 pemikiran pada “[Berani Cerita #2] Enam Tiga Puluh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s