Nasihat Terindah


Pas saya blogwalking ke salah satu blog sahabat, saya baru tahu kalau ada giveaway dari mba Della Firayama. Jadi kita cuma diminta bikin postingan dengan tema “Nasihat Terbaik dalam Hidupmu”.

Naah.. Kebetulan saya lagi kangen sama kampung halaman, dan kalau inget rumah gini saya selalu ingat pesan dari mama saya. Oh ya, saya ini anak bungsu dari tiga bersaudara. Satu-satunya perempuan. Jadi wajar kalau saya paling dekat sama mama dan bapak saya. Dan ketika saya menikah, ternyata jodoh saya adalah laki-laki berdarah Sunda. Maka saya yang lahir di Jakarta namun tumbuh dan besar di kota Surabaya pun mengikuti suami saya yang memang berdomisili di kota kembang Bandung. Dan sejak saat itu saya jadi perantauan. Hehehe..

Sebelum menikah, saya seringkali ngobrol dengan mama saya. Salah satu pesan beliau yang saya ingat pernah saya posting di sini. Saya pun membaca kembali postingan saya itu dan sekelebat memori berputar di kepala saya. Membawa saya jauh ke masa lalu. Saat saya masih tinggal bersama mama dan bapak saya.

***

“Diiiik!”

Mama memanggilku. Aku mendekat dan mencari asal suara. Senyum tersungging di bibirnya. Mamaku berdiri di depan cermin. Dengan bros di tangan kanan dan sebelah tangan yang lain menggenggam jilbab birunya. Dan aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan. Menyematkan bros itu di bagian samping jilbab birunya. Memastikan jilbab itu tetap rapih, mulai bros itu disematkan sampai nantinya bros itu dilepaskan kembali.

Setelahnya mama menatapku, lalu memintaku duduk di sampingnya. Di samping tempat tidur kayu jati bermotif mawar yang dulunya seringkali menjadi tempatku mendapatkan kemanjaan kedua orang tuaku semasa aku masih kecil.

Seminggu yang lalu seorang pria penjaga hatiku datang bersama keluarganya. Memintaku menjadi istrinya. Gayung bersambut, keluarga besar kami menyambut kedatangannya dengan tangan terbuka. Bapak dan mama memberikan lampu hijau, menyambut baik niat tulusnya mempersuntingku. Sebentar lagi kami akan melangsungkan pernikahan.

Mama menarik napas panjang. Sebelum akhirnya mulai bersuara.

Beliau memberikan petuahnya, memberikan wejangan kepadaku. Katanya, sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri, maka aku harus (belajar) menjadi seorang istri yang shalihah. Calon suamiku tinggal di kota yang berbeda dengan tempat tinggal kami saat ini, maka setelah menjadi istrinya akupun akan mengikutinya tinggal di kota yang sama dengannya, -kota kembang Bandung-, jauh dari kedua orang tuaku.

Mama berpesan.

“Jika suatu hari nanti kamu ingin datang mengunjungi mama, mintalah baik-baik pada suamimu. Namun jika ia tidak (belum) mengizinkan, turuti kemauannya. Jangan membantahnya, karena bisa jadi ia belum mengizinkanmu karena ia tidak ingin kamu pergi sendirian. Ia hanya memintamu menunggunya, itu tak lain karena ia mencari waktu yang tepat untuk dapat mengantarmu menemui (mengunjungi) kami.”

Mama menghentikan ucapannya sesaat. Membiarkan aku menyerap ucapannya untuk kemudian memahaminya dalam hati. Aku mengangguk dan tersenyum kepadanya.

Dan manfaatnya sekarang, saat saya dirundung rindu begini, saya tetap berpikiran positif kalau suami saya nanti akan mengantarkan saya ke Surabaya kalau uang tabungan kami sudah terkumpul waktunya sudah longgar. Selain itu, merindukan seseorang itu ternyata sangat nano-nano rasanya. Dan kalau sudah ketemu maka semuanya jadi menyenangkan. Dan yang selalu teringat untuk dikenang saat berjauhan itu sesuatu yang baik-baik saja. Saat-saat yang manis bareng mama, bapak dan dua abang saya. Hehehe..

Setelahnya mama saya pun memberikan wejangan yang lain.

“Cintailah ibu mertuamu seperti engkau mencintai mama. Pelajari apa yang menjadi kesukaannya, dan ingatlah. Jika kau datang menemuinya, maka bawakanlah makanan kesukaannya tersebut.”

Aku mengangguk dan mengingat pesannya dalam hatiku. Selalu mengingatnya dan menerapkannya tahun demi tahun mengarungi bahtera rumah tangga. Sampai hari ini.

Nah kalau bagian ini, kebetulan ketika awal berumah tangga, saya tinggal bareng sama ibu mertua saya, sementara bapak mertua saya sudah meninggal ketika suami saya masih bayi. Jadi saya praktekkan saja nasihat mama saya itu. Alhamdulillah, hubungan saya sama ibu mertua terbilang mulus. Meski awalnya ada kendala di bahasa, lama kelamaan saya sama beliau termasuk dekat. Apalagi kebetulan juga saat itu kami serumah. Sisi positif lain, meski jauh dari mama saya, di Bandung saya nggak kehilangan kasih sayang karena ada ibu mertua. Bahkan ketika melahirkan anak pertama saya dan mama saya belum bisa datang, ibu mertua saya yang akhirnya menemani. Juga saat kontrol ke dokter kandungan dan suami saya nggak bisa menemani, ibu mertua saya dengan senang hati mengantar saya.

Alhamdulillah.

Nasehat seorang ibu itu pasti memiliki tujuan yang bagus. Dan kalau saya pikirkan, di dalamnya pun terkandung doa. Dan kedua pesan mama saya di atas menjadi bekal saya dalam mengarungi rumah tangga. Satu pesan tentang kehidupan berumah tangga dengan suami dan pesan yang lain tentang hubungan dengan mertua. 🙂

Demikian cerita dan sharing saya tentang salah satu nasihat terbaik dalam hidup. Dan itu tak lain dan tak bukan nasihat dari anugerah terindah dalam hidup saya. Mama saya.

<

***\:D/***

 

 

“Posting ini diikutsertakan pada Give Away Perdana Dellafirayama, seorang ibu labil yang tidak suka warna hijau dan hitam

Iklan

13 pemikiran pada “Nasihat Terindah

    1. Iya Ra. Ditambahin manfaat nasihatnya. Buat ikutan giveawaynya mba Della.. 😀
      Tuh ada tulisan pernah di post di sini. Di sini-nya nyambung ke link sebelumnya.. 🙂
      Ih seneng deh, kamu perhatian sama aku.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s