Pencuri Hati


Aku sedang merebahkan diri di atas ranjang ketika sebuah pesan masuk melalui handphone-ku. Dari Ari.

Jalan yuk.

Tulisnya. Segera kubalas pesan singkatnya dengan pesan yang lebih singkat lagi.

Malas.

Tulisku. Dasar Ari, dia sulit menerima penolakan. Maka tak lagi pesan singkat yang dikirimkannya, ia langsung meneleponku. Dering ketiga, dan akupun mengangkat teleponnya.

“Apa Ri?” tanyaku.

“Jalan yuuk!” Ulangnya. Seolah-olah ia belum pernah mengirim sms dengan kalimat yang sama. Dan aku pun menjawab dengan jawaban yang belum ingin kuubah.

“Malas.”

“Iiihh.. males kok dipiara.”

“Biarin”.

“Udah ah.. Ngabisin pulsaku aja. Buka gih pintunya.”

Dan sesaat kemudian, si jangkung beralis lebat dengan sepasang mata elang itu nyengir lebar saat aku membuka pintu rumahku.

“Pagi cantiiikk…! Ciee.. menangis semalam neng? Itu mata bengkak semua.” Godanya. Sebenarnya aku mau mengelak, tapi percuma saja. Ia akan selalu bisa mendapati sisa-sisa ‘pesta perayaan patah hatiku’. Pesta semalam suntuk yang kuhabiskan untuk memaki, mengenang dan menangisi seorang Andre. Yang kulakukan hanya untuk satu malam saja. Karena hari berikutnya, aku akan menutup semua kenangan tentangnya.

“Mau apa Ri? Aku lagi nggak minat jalan ah. Males. Males. Males.”

“Ayolah…! Mana Raya yang kukenal? Yang ceria, yang asyik dan oke kalau diajak ke mana aja? Apa Andre mengubahmu jadi cewek melankolis, lebay, sensitif dan mudah galau?” cibirnya. Aku tersentak. Sungguh.. Aku tidak marah dengan cibirannya. Aku hanya sedikit terganggu dengan nama Andre yang disebutnya. Aku menatap tajam ke arahnya, mengirimkan pesan tersirat ‘kamu ini apa-apaan siih?’ dengan tatapan mataku.

Seakan bisa membaca telepatiku, Ari buru-buru mengucapkan permohonan maafnya. “Eh sorry Ya.. Gue nggak maksud…”

“Udah ah.. Masuk yuk. Nggak usah jalan. Tapi aku emang butuh temen ngomong. Gimana? Siap jadi tempat sampah?” tawarku.

***

“Cowo kaya Andre mah nggak pantes  ditangisin. Okelah. Empat tahun dia bareng ama elo. Empat tahun itu emang dia setia ama elo. Tapi sekarang? Dia ngeduain elo ama Audi kan? Itu cowo emang kacau. Audi lebih kacau lagi. Dia bukannya sahabat elo?” cecar Ari.

“Gue udah putus kok Ri. Baru mereka jadian.” Aku mencoba memberikan gambaran.

“Elo emang aneh. Ngapain sih pake ngebela-belain mereka? Elo tuh yang disakitin. Aneh bener deh. Gue capek-capek ngebelain elo, eh elonya malah gini. Jadi orang baek bener sih?!” ujar Ari berapi-api.

Mau nggak mau aku terkikik. Antara ge er sekaligus gemes pada mimik wajah Ari yang kelihatan lucu. Dan kalau gini, dia kelihatan cakep juga. Eh?

“Apa lu ketawa-ketawa? Udah ah. Gue cuma mau bilang. Udah lupain aja si Andre. Kalau hidup diibaratkan novel, ini bukan judul terakhir dari bab kehidupan percintaan elo. Ntar di depan sana masih ada bab-bab lain yang lebih indah.” Senyum lebar tersungging di bibirnya. Manis sekali. Gawat. Kok aku jadi deg-degan gini ya?

Aku berusaha untuk tetap tenang. Memberikan senyum padanya.

“Dan kalau bisa sih di bab berikutnya ada gue.” Sambungnya.

Aku terperanjat. “Maksud loe?”

Ari menatap tajam kedua mataku. Kali ini di bibirnya tak lagi kutemukan cengiran. Ia serius dengan ucapannya.

“Raya, loe mau nggak jadi pacar gue?” tanyanya.

Dan tiba-tiba saja, aku merasa nggak berpijak di atas bumi. Aku terlalu bahagia.

tumblr_lw9vikUFAl1qg2xooo1_500

-selesai-

 

Iklan

6 pemikiran pada “Pencuri Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s