Saat yang kurindukan


Perempuan itu duduk termenung. Disandarkannya tubuh pada dinding kamar sementara bantal diletakkan di belakang punggungnya, menghalau dingin yang merambat perlahan melalui dinding putih di belakang tubuhnya. Sudah hal biasa terjadi di kotanya. Jika hari semakin malam, hawa dingin akan perlahan merayap masuk melalui kisi-kisi jendela, dan sebagian tertahan melalui pori-pori dinding kamarnya.

Di sebelah kanan dan kirinya, dua gadis mungil itu tertidur lelap. Diselimutinya si sulung dan si bungsu dengan selimut mereka masing-masing. Meski tak berapa lama selimut itu akan kembali tersibak. Dua gadis mungilnya memang tidak suka diselimuti. Namun naluri seorang ibu tetaplah sama. Jika ia merasa dingin, ia pun berpikir anak-anaknya akan merasakan hal yang sama.

Dirapatkannya mantel yang dikenakannya dan pikirannya pun menerawang. Teringat pembicaraan dengan seorang sahabat siang tadi.

***

tiramisu-ice-cream22.jpg

“Win, apa kabar loe? Anak loe dua sekarang? Rajin bener..” Winda tersenyum.

“Alhamdulillah sehat. Kamu apa kabar Ya?” ia balik bertanya. Sengaja tidak menyebut pertanyaan tentang anak kepada Raya. Ia tahu, berkeluarga bukanlah prioritas utama dalam hidup Raya.

“Ya.. gue juga sehat. Ini kebetulan gue lagi meeting di Bandung, jadi bisalah ketemu sohib gue dulu. Pengen liat ponakan gue juga,” Raya menjelaskan kedatangannya ke kota kembang. Winda tersenyum.

“Elu nggak pengen kerja lagi Win? Posisi lu dulu kan udah bagus. Lu mau dapet promosi kok malah mundur, trus cuma jadi ibu rumah tangga lagi. Apa nggak sayang?” Winda tersenyum. Bingung menanggapi pertanyaan Raya. Haruskah dijawab jujur ataukah memberikan jawaban yang memuaskan Raya?

“Semua orang punya pilihan masing-masing, Raya. Dan inilah pilihan gue,” Winda menjawab diplomatis.

“Tapi suatu hari nanti loe bakalan balik kerja kan?” Raya memberikan tanya. Dan Winda hanya mampu terdiam.

“Nggak tahu juga Ya. Mungkin, kalau mas Rio ngijinin atau malah gue buka usaha di rumah aja kali ya?” Winda tergelak.

“Nggak sayang apa, dulunya mantan manager dengan posisi yang bagus sekarang malah jadi ibu rumah tangga dan melakukan semua kerjaan rumahan? Tanpa pembantu lagi,” cecar Raya.

“Memangnya, ada yang salah ya jadi ibu rumah tangga? Ibu gue dulu juga ibu rumah tangga kok. Sebelum menikah, beliau bekerja juga. Dan menurut gue nggak ada yang salah dengan menjadi ibu rumah tangga. Lu coba deh..” Winda menggoda Raya.

“Oya, satu lagi. Lu nggak capek sendirian sampai sekarang? Terakhir Ardian nanya gue tuh, elu kira-kira mau dilamar kapan?” Winda menatap lurus langsung pada kedua mata Raya.

“Eh serius?! Ardian nanya-nanya ke elu?” Raya membulatkan kedua matanya.

“Emang kenapa? Elu mau nikah ama dia? Ntar gue bilangin supaya dia buruan ngelamar elu..” Winda tergelak.

“Aah… Winda!” Raya meninju sayang sahabatnya. Ia tahu Winda hanya menggodanya.

“Sejujurnya, gue bingung nih Win. Posisi gue sekarang udah cukup bagus. Gue nikmatin banget semua kerjaan gue. Dan gue nggak pernah ngebayangin kalau gue harus diem di rumah nggak kerja. Full jadi ibu rumah tangga. Apa gue bisa? Sementara lu tahu sendiri kerjaan gue udah kaya kerja rodi. Nggak pernah bisa pulang sebelum Isya. Hidup gue udah kaya disetel gitu. Gimana menurut loe?”

“Jujur aja, itu salah satu alasan gue mundur waktu itu,” Winda membuka suara. Raya menatapnya nyaris tak berkedip. Menunggu Winda meneruskan ceritanya.

“Nggak mungkin dong kalau gue udah nikah ritme hidupnya sama kaya gitu? Sementara mas Rio bisa pulang sebelum matahari terbenam, gue harus meeting sampai Isya. Aneh banget kan? Kapan gue bikin minum buat suami gue? Kapan gue mandiin anak-anak gue? Hingga gue berada pada satu keputusan. Mundur dari rutinitas yang menurut gue udah mulai nggak sehat. Ya udah. Gue mundur. Berhenti kerja. Jadi ibu rumah tangga aja. That’s it. And you know what? I’m happy.. :)”

Raya terdiam. Mencerna setiap kata-kata Winda dalam hatinya. Selepasnya mereka berpisah.

***

Di meja kerjanya Raya duduk menatap layar monitor. Laptop biru itu berdering beberapa kali. Beberapa email masuk ke dalam inboxnya. Nyaris tak berhenti selama satu jam terakhir. Tiap sepuluh menit email baru masuk. Begitu seterusnya. Ia menarik nafas panjang. Teringat perbincangannya dengan Winda tiga hari yang lalu. Diliriknya fotonya bersama Andra di sisi kanan meja kerjanya. Ketika tangannya hendak menarik mendekat foto itu ke arahnya, ia mengurungkan niatnya. Tatapannya jatuh pada cincin putih yang tersemat di jari manisnya. Cincin pertunangannya dengan Andra.

Teringat olehnya pertanyaan Andra sebulan yang lalu, menanyakan kelangsungan hubungan mereka dan rencana pernikahan keduanya yang sudah terlalu lama ditunda.

Secepat kilat Raya menggerakkan tangan menggeser mouse ungunya. Membuka folder yang sudah lama disimpannya. Hatinya bulat. Ia mengganti tanggal dan membaca ulang email yang akan dikirimkannya. Ditariknya nafas panjang sebelum akhirnya bulat mantap mengirimkan email tersebut.

Ditutupnya laptop birunya dan tak menghiraukan dering-dering yang menguras habis waktunya selama ini. Ditekannya nomor telepon Andra, menunggu sesaat sebelum ponsel kuning di tangan kirinya menyambungkan suara keduanya.

“Aku mau ketemu sekarang, jemput aku ya. Aku punya surprise untukmu.”

Sebuah email terkirim. Email yang dikirimkan Raya pada atasannya. Email pengunduran dirinya.

***

Di kamarnya Winda termenung. Menatap kedua gadis mungilnya. Mencium sayang mereka satu persatu. Senyum tersungging di bibirnya. Lalu ia teringat satu kesalahan kecil yang dilakukannya. Ada hal penting yang tidak diceritakannya pada Raya. Hal yang baru disadarinya sekarang. Ah, semoga Raya bisa memaafkannya. Dalam hati ia berucap, berharap semoga Raya bisa mendengar isi hatinya saat ini.

 

“Raya, ada yang lupa kusampaikan. Ada satu hal penting yang harus kamu ketahui. Hal yang sangat kurindukan selepas aku berhenti dari pekerjaan.. Ya, ada satu hari di mana aku sangat merindukannya setelah aku memutuskan total menjadi ibu rumah tangga dan tinggal di rumah. Dan saat-saat yang akan kurindukan adalah saat aku menerima gaji bulanan..” 😀 

Iklan

16 pemikiran pada “Saat yang kurindukan

  1. Huaaaaa….aku banget itu mbaaaaak >_<
    Yah, walaupun rindu banget gaji bulanan, momen bersama anak-anak gak bisa dibeli dengan uang 🙂
    Let's make money from home ^__^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s