Menanti Lamaran


Cerita sebelumnya: Untuk Kamu, Apa Sih Yang Enggak Boleh?

Aku berada dalam dekapan Bram. Nyaman rasanya. Aku merasakan tak ada lagi yang harus kusembunyikan. Biar saja semuanya terbuka sekarang. Aku nggak mau jadi pacar pura-puranya! Aku mau jadi pacar beneran!

[Nisa]

***

Semenjak pertemuan di warung bakso tempo hari, aku memutuskan menyudahi hubunganku dengan Bram. Tak ada yang disudahi sebenarnya. Karena selama ini kami nggak pernah benar-benar terikat. Cuma pacar pura-pura. Cuma pacar bo’ongan. Tak ubahnya hubungan tanpa status. Dan hubungan tanpa status itu pantang untuk jatuh cinta. Dan bodohnya, aku jatuh cinta beneran!

Stupid!

Masih teringat dengan jelas wajah Bram yang gelagapan waktu aku menangis dalam pelukannya. Bukan sengaja aku melakukannya. Bukan juga untuk menarik simpatinya. Hanya saja ia menarik lenganku tepat ketika air mataku jatuh tanpa bisa kucegah. Wajahku pun tenggelam pada dada bidangnya. Dan aku menemukan tempat nyaman untuk menangis sepuasnya. Dan setelahnya, ia setuju untuk putus denganku.

Putus jadi pacar pura-puranya.

[Nisa]

***

Nisa memutuskan aku. Di warung bakso langganan kami, dia memutuskan untuk menyudahi hubungan kami. Aku nggak pernah tahu bahwa Nisa bisa begitu terluka dengan permainan bodoh ini. Ya, permainan bodoh yang terlontar dari seseorang yang tak kalah bodohnya.

Aku.

Aku juga nggak pernah menduga mengapa Nisa bisa begitu saja menyetujui untuk jadi pacar pura-puraku. Juga tidak marah saat aku memanfaatkannya untuk mengusir Mona yang tiba-tiba datang menemuiku di rumah. Kalau ingat semua kejadian itu, aku merasa sangat bodoh, juga sekaligus merasa begitu jahat.

Masih teringat dengan jelas wajahnya yang berurai air mata saat terakhir kali kami bertemu. Isak tangisnya yang tak kunjung reda dalam pelukanku. Ingin rasanya aku mengusap mata sembabnya. Tapi aku takut jika itu semua justru akan memperburuk keadaan. Aku bingung. Sungguh bingung.

Kalau boleh jujur, aku benar-benar menikmati saat-saat bersamanya. Dan sama sepertinya, aku pun tak bisa membedakan apakah hubungan kami ini nyata ataukah hanya permainan saja. Aku terlalu dalam memainkan peran menjadi kekasihnya.

Dan ketika ia minta untuk menyudahinya, aku tak bisa berkata apa-apa. Toh ini hanya permainan. Nggak nyata. Tidak pernah nyata. Dan yang justru membuatku sakit adalah, aku tak pernah memiliki kesempatan untuk membuat hubungan ini menjadi nyata. Karena ternyata, ada orang lain yang telah memiliki hatinya.

Dan itu bukan aku.

***

Semenjak pertemuan terakhir kami, aku belum bertemu lagi dengannya. Saat aku meneleponnya, ponselnya tidak aktif, bahkan sms yang kukirimkan pun pending hingga akhirnya failed di hari berikutnya. Nisa seakan menghindari komunikasi denganku.

Yeah right, kamu telah melukai hatinya, stupid! Batinku berteriak. Dan hari ini dia tidak datang. Aku berusaha mencari-carinya. Di teras nggak ada, di kamar Bima, adik semata wayangku, juga nggak ada. Oh ya, selama tiga bulan terakhir Nisa membantu mamaku menjaga Bima di waktu senggangnya, sementara mama menyelesaikan urusan dengan toko souvenirnya.  Kalau Nisa tidak ada di mana-mana, lalu kemana dia?

Samar-samar aku mendengar mama berbicara dengan seseorang di seberang sana. Ponsel merah di sisi telinga kirinya terlihat kontras dengan rambut hitam legamnya. Terdengar sepotong pembicaraan saat aku berpapasan dengan mama di ruang makan.

Ooh gitu. Jadi sekarang Nisa nggak bisa datang ya?/Ooh.. Menanti lamaran?! Alhamdulillah../ Saya nggak diundang nih? Hehehe../Iyaa, nggak pa pa.. Salam manis buat si cantik ya..?/ Wa alaikumsalam/

Dan telepon pun diletakkan.

Aku shock! Aku limbung. Aku kehilangan keseimbangan.

Apa-apan ini? Nisa dilamar? Nisa mau menikah? Aaarrgghh.. Baguuus! Saat aku berniat dan berusaha untuk memperbaiki kesalahan, tetiba aku tak punya lagi kesempatan. Aku terlambat. Bahkan aku juga belum sempat bilang padanya. Bahwa aku.. bahwa.. Ah, semuanya sudah terlambat..

Aku merutuk dalam hati. Berharap sepotong pembicaraan mama dengan seseorang di seberang sana yang kuduga ibunda Nisa tidaklah nyata. Tidak pernah terjadi

Ah Nisa..

***

Esoknya Nisa datang ke rumah. Aku melihat senyum di kedua ujung bibirnya. Ada yang berbeda. Ah Nisa, kamu pasti bahagia. Lelaki itu telah memiliki hatimu dan sebentar lagi cincin di jari manismu akan disematkan, dan aku tak bisa bahkan hanya untuk berharap dekat denganmu.

“Hai Bram!” Sapanya. Aku tersenyum pias. Tak mengucapkan sepatahkatapun. Aku sedang tidak enak badan. Hatiku remuk redam.

“Kamu sakit? Wajahmu pucat,” ia menatapku sedikit terkejut. Seperti tatapan yang.. ah. Aku tak mau banyak berharap. Belum sempat aku menjawab pertanyaanya, mama tiba-tiba saja muncul.

“Nisaa… Gimana acaranya? Sukses ya? Bilang ibumu ya, saya nunggu undangan resminya. Jangan sampai lupa lho!” wajah mama berseri-seri. Sepertinya ikut senang dengan kebahagiaan Nisa. Benar-benar tidak mengerti perasaanku. Nggak punya empati! Aku menggerutu dalam hati. Tak lama kemudian, mama pun berlalu. Meninggalkan kami berdua.

Aku terdiam. Seperti ada kunci kasat mata yang membuat bibirku terkunci. Aku tak bisa mengucapkan apa-apa. Memandang wajah Nisa pun aku tak sanggup. Bayangan lelaki itu menyematkan cincin di jarinya menari-nari di kepalaku. Dia memang bedebah yang beruntung! Rutukku dalam hati.

“Selamat ya,” aku berkata lirih padanya.

“Kamu pasti lega sekarang. Ada lelaki yang kini menjagamu.”

Nisa terdiam. Sepertinya ia memberiku kesempatan menuntaskan kalimatku.

“Selamat ya! Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah, warohmah…”

“Aamiin.. Makasih ya Bram. Nanti kusampaikan kak Nasywa,” jawab Nisa. Aku terperanjat. Nisa tersenyum.

“Yang dilamar itu mba Nasywa, Braam.. Bukan aku. Aku jomblo… Lagi cuti sakit hati,” ia berkelakar. Bram tersenyum. Mengulurkan jari kelingkingnya ke arah Annisa.

“Maafin aku ya,” pintanya. Annisa mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking lelaki di hadapannya. Keduanya tersenyum.

“Kita berdamai?”

“Tentu saja!”

[Bram]

the-best-couple-ever

bersambung

#13HariNgeblogFF Hari ke 9. 😀

Iklan

2 pemikiran pada “Menanti Lamaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s