Jangan kemana-mana, di hatiku saja


Cerita sebelumnya: Bangunkan Aku Pukul 7

Kuraih ponsel di meja sudut di samping tempat tidurku.

“Jangan lupa ya. Bangunkan aku pukul 7.”. Ketikku.

Lalu mengirimkan pesan singkat itu pada Annisa.

“Mau apa?” balasnya.

“Rahasia!” tulisku.

Aku tersenyum lebar. Selepasnya aku terlelap.

***

Esok paginya.

TOK.. TOK.. TOK..

“Bram!”

Aku terperanjat. Suara perempuan yang kukenal menyapa di balik pintu. Segera aku beranjak menuju kamar mandi, menyikat gigi dan membasuh wajahku. Itu Annisa!

Ia menepati janjinya. Ia selalu menepati janjinya!

Aku membuka pintu berwarna merah menyala yang menghalangiku dan Nisa.

Klik.

Pintu pun menjeblak terbuka. Aku menyunggingkan senyumku. Gadis itu, perempuan berkulit sawo matang dengan mata berbinar-binar tersenyum membalas senyumku.

“Udah bangun kan?” Dan ia membalik tubuhnya, bersiap untuk pergi.

“Tunggu sebentar!” tahanku. Nisa menghentikan langkahnya.

“Dengarkan aku dulu,” pintaku.

“Ya?”

“Duduk sebentar,” aku memintanya mengikutiku, duduk di depan pintu kamarku. Keningnya berkerut.

“Di sini?” tanyanya. Aku mengangguk. Ia menarik lenganku dan mengajakku bergeser. Menjauhi pintu kamarku.

“Mendingan di sini aja, jangan di depan pintu!” Ia tersenyum.

Annisa. Dia memang selalu begitu. Mengikuti petuah-petuah dari orang-orang tua serta pantangan-pantangannya. Salah satunya petuah bahwa ‘anak gadis dilarang duduk di depan pintu. Pamali ‘.

Aku membenarkan posisi dudukku, demikian juga dengan Annisa. Setelah kami sama-sama duduk dengan nyaman, aku menatap ke arahnya. Kutarik nafas panjang, lalu perlahan meraih jemari tangannya, menggenggamnya dengan kedua tanganku.

“An, aku mencintaimu. Mau nggak kamu jadi pacarku?” aku bertanya sambil menatap langsung kedua matanya. Nisa memandang mataku tajam, mencari ketulusan di sana. Ia menggeleng.

Ah.. Aku ditolak!

“Penjiwaannya kurang. Kalau gitu terus.. kamu nggak bakalan lulus casting!”

Ah Nisaa.. Aku terdiam. Selama beberapa detik aku memikirkan kalimat apa yang akan kukatakan padanya.

“Kalau saja kita ketemu dari dulu, mungkin segalanya akan berbeda ya?! Mungkin sekarang aku jadi satu-satunya di hatimu..” aku menghentikan ucapanku.

“Aku  juga nggak pernah nyangka kalau kita bisa jadi sedeket sekarang. Seperti ada benang kasat mata yang menghubungkan aku sama kamu. Kamu inget nggak waktu malam hari itu kamu sms aku cuma pengen cerita tentang cowok yang kamu putusin hanya karena kamu nggak pengen nyakitin dia lebih dalam? Di waktu yang hampir berdekatan aku kepikiran kamu lho. Dan belum sempet aku nelpon, kamu udah telepon duluan.” Annisa terdiam. Entah apa yang ada dalam pikirannya.

“Dan kalau memang perasaanku ini benar, aku ngerasa kamu juga ngerasain apa yang kurasa,” kutatap lekat kedua bola matanya.

“Aku sayang kamu An, dan aku nggak mau kehilangan kamu lagi. Kamu mau jadi pacarku?”

Ia menatap kedua mataku dan mencari ketulusan di sana. Lama ia terdiam. Seakan sebuah pusaran memori menghanyutkannya dan menenggelamkannya dalam lautan masa lalu. Ia hanyut di dalamnya. Dan selama sepersekian detik aku kehilangannya.

“Ehm.. Sem-pur-na..” Annisa tercekat. Ia memandangku nyaris tak berkedip. Lalu seakan baru saja disadarkan dari hipnotis, Nisa memutuskan kontak matanya denganku. Ia terlihat salah tingkah, menghindari tatapan mata denganku.

“Aku harus pergi sekarang. Aktingmu sudah oke, sepertinya peran itu bisa kamu dapatkan.” Ia bangkit dari tempat duduknya, dan tanganku dengan cepat menarik lengannya.

“Nis, jangan pergi! Aku serius Annisa. Jangan pergi kemana-mana! Tetap di hatiku saja ya?” pintaku.

Nisa terdiam. Seakan tak mempercayai pendengarannya. Dan Nisa pun tak menarik kedua tangannya saat aku mencium lembut jemarinya. Selepasnya ia menghambur dalam pelukanku. Dan..

…ia menangis lagi!

Tapi kali ini kupastikan, tangisannya karena bahagia..

all,i,wanted,was,you,love,couple,hug,hold,holding-05cf56dbc10fd3cca40ba3717dcc3982_h

bersambung

#13HariNgeblogFF Hari ke 11 😀

Iklan

2 pemikiran pada “Jangan kemana-mana, di hatiku saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s