Cut!


Cerita sebelumnya: Tunggu di situ, aku sedang menujumu!

Bram berdiri di hadapanku. Aku memberikan tatapan sinis ke arahnya. Dari dulu aku tahu. Hal semacam ini pasti bisa saja terjadi. Bram dikelilingi banyak wanita cantik. Tadinya Mona, lalu sebelumnya Tania, lalu entah siapa lagi. Dan kali ini Mayang!

Mayaang?? Mayang itu kan kekasih Dony?

Apa memang benar aktor itu selalu dekat dengan kehidupan seperti ini? Putus – sambung? Kawin – cerai? Selingkuh dan diselingkuhi?

Yang pasti aku nggak cocok dengan gaya hidup seperti ini. Lebih baik aku jomblo saja. Daripada makan hati seperti ini!

“Aku mau putus saja!” Teriakku padanya.

“Ayolaaahh.. Jangan kekanak-kanakkan seperti ini..”

“Kekanak-kanakkan seperti apa?”

“Seperti kamu. Dikit-dikit putus.. Dikit-dikit putus!” Ia meninggikan suaranya.

“Jadi kamu maunya apa? Tetep jadian sama aku sementara aku melihat dengan mata kepala sendiri kalau kamu bermesraan sama dia?!” Aku balik meninggikan suaranya.

“Tapi inikan hanya adegan film,” Bram berkata lirih. Berusaha memberiku pengertian. Ia duduk sembari memegangi kepalanya. Sepertinya ia bingung harus berkata apa. Mau nggak mau aku jadi kasihan padanya.

1120078782

“Inilah kerjaanku, Nisa.. Dari dulu juga kamu tahu..”

Iya. Dari dulu aku tahu. Tapi aku nggak pernah tahu kalau melihat langsung adegan pengambilan gambar di lokasi syuting seperti ini, efeknya benar-benar dahsyat. Aku terbakar cemburu. Kalau saja saat ini hujan tidak mengguyur kota pahlawan, bisa dipastikan aku benar-benar terbakar. Tak hanya karena panas dari lumpur lapindo yang semakin lama semakin meluas, panas terik sinar matahari yang menyengat, dan kali ini ditambah panas api cemburuku pada Bram.

Aku melirik Mayang dengan sinis. Yang dilirik jadi salah tingkah. Lalu ia memutuskan kontak matanya denganku. Ia terdiam menundukkan kepalanya. Mungkin menyesali tingkahnya yang kegenitan dengan Bram, atau mulai memikirkan jika saja Dony kali ini tidak bekerja dan melihat perbuatan yang tadi dilakukannya dengan Bram. Apa kiranya dia akan sama cemburunya denganku?

Aku menarik napas panjang. Berusaha meredam emosiku.

“Ya sudah, lakukan saja apa maumu. Aku pergi!” putusku.

“Maksudmu?”

“Iya, aku pergi dari sini. Aku nggak tahan dengan keadaan seperti ini”

“Kamu mau putus?” tanyanya.

Aku meradang. Kenapa jadi bahas putus sih?

“Siapa yang mau putus? Aku cuma bilang mau pergi… Mau pergi -dari-lokasi-syuting- tidak sama dengan mau pergi -selamanya-dari-hatimu-. Aaarggh!!” Aku benar-benar hampir kehabisan kesabaran.

“Eits tunggu dulu!” Bram memutuskan kalimatku.

“Apa?!”

“Ini tanggal berapa?” tanyanya.

“25. Kenapaa?”

“Kamu PMS ya?” tebaknya.

Aku terdiam. Eh iya ya? Apa aku PMS? Kulirik Bram yang terduduk dengan wajah berhiaskan cengiran khasnya. Mau nggak mau akupun tersenyum. Tetiba aku menyesali kebodohanku. Menyesali tingkah konyolku yang kekanak-kanakkan. Duuh.. kenapa baru sadar sekarang ya? Tuh kan aku jadi malu. Karena PMS, aku tak hanya mempermalukan diriku sendiri. Tapi juga Bram. Ya Tuhan.. Apa yang sudah aku lakukan?

Bram mendekat ke arahku. Setelah memastikan singa betina yang merasuk ke dalam tubuhku pergi, ia mengusap sayang kepalaku. Melupakan bahwa aku yang sebelumnya serupa ‘singa betina terluka hatinya karena anaknya diambil dari sisinya’. Kulihat ketulusan di kedua matanya. Dan sekali lagi aku tenggelam dalam kenyamanan yang kurasakan setiap kali menatapnya. Kenyamanan yang tidak kudapatkan dari siapapun.

“Ma-aph.. yakh?” aku tercekat.

Bram mengangguk. Ia memandangku nyaris tak berkedip. Aku kehabisan kata-kata. Bram meraih tanganku dan menciumnya lembut. Aku bergeming. Bram menatapku tak bersuara. Senyum tersungging di bibirnya.

“Nisa…” ia menggantung kalimatnya.

“Annisa Dara Paramita, kita putus saja ya? Kita hentikan kekonyolan ini,” aku terpana dengan ucapannya. Ia memutuskan aku? Di hadapan belasan kru dan pemain film? Mau ditaruh di mana wajahku ini? Walaupun menurutku ini adalah cara tersopan yang pernah dilakukan seorang laki-laki untuk memutuskan kekasihnya.

Belum sempat aku mengeluarkan suara, Bram melanjutkan kalimatnya.

“Kita sudahi saja semuanya…” ia pun berlutut di hadapanku.

“..dan menikahlah denganku..!”

Aku menatap matanya dan mencari kejujuran di sana. Bram serius dengan ucapannya. Bulir-bulir air mata menetes di pipiku. Selama sepersekian detik aku merasa hampir saja kehilangannya. Perasaan indah memenuhi relung hatiku. Aku mengangguk menerima pinangannya.

Ia berdiri memelukku. Dan untuk kesekian kalinya aku menangis dalam pelukannya.

“CUT!” Suara mas Deny, sang sutradara, terdengar di udara. Semua mata memandang ke arahnya. Mas Deny salah tingkah. Mau tak mau aku dan Bram jadi tertawa geli.

Semua kru dan pemain film bersorak. Ikut merasakan kebahagiaan kami.

This is one of my best part in my life. To finding and be found by you..

feel_the_love_by_biggirlsdonotcry-d4grwef

-selesai-

Hari terakhir #13HariNgeblogFF Hari ke 13.. 🙂

Selesaaiii… 😀

Iklan

4 pemikiran pada “Cut!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s