Bangunkan Aku Pukul 7


Cerita sebelumnya: Menanti Lamaran

Aku memasukkan anak kunci pada pintu di hadapanku. Memutarnya dua kali ke arah kanan.

Kieet..

Pintu itu menjeblak terbuka. Lampu-lampu sudah dipadamkan. Hanya menyisakan sepercik cahaya yang berasal dari akuarium di ruang tamu. Kembali kututup dan kukunci pintu di belakangku, lalu berjingkat ke arah tangga dan berjalan cepat menuju ruangan di sebelah kirinya. Pada pintu kayu berwarna merah menyala, aku berhenti.

Klik.

the-door

Kubuka perlahan pintunya.

Ruangan itu masih gelap gulita. Satu-satunya cahaya yang tampak, berasal dari  lampu meja di sudut kamar. Mama tidak pernah lupa menyalakannya jika hari telah berganti malam. Dan aku selalu pulang malam. Nyaris saat semua orang sudah terlelap. Seperti hari ini.

Aku merebahkan diri di atas pembaringan. Menatap langit-langit kamar. Sekelebat ingatan tentangnya berputar-putar di kepalaku.

***

“Selamat ya! Peranmu jadi orang nggak waras berhasil menarik perhatian majalah ‘Mistik’,” Mayang menyalamiku.

“Kok majalah ‘Mistik’ sih?” jawabku. Cemberut.

“Dianggap berhasil itu kalau wawancaranya oleh majalah ‘Film’. Ini malah majalah ‘Mistik’,” aku menggerutu.

“Itu berarti peranmu jadi orang nggak waras benar-benar meresap di hati pemirsa,” Mayang terkikik.

Benar juga ya? Ah diambil sisi positifnya saja. Batinku. Mayang di sampingku tertawa tergelak. Ia yang memerankan Sinta, gadis yang diguna-guna oleh lelaki sedikit nggak waras, Bimo, yang diperankan olehku. Meski di dalam film kami berperan saling membenci, tapi dalam keseharian kami cukup dekat.

Aku menatap Mayang yang masih asyik tergelak. Di pangkuannya majalah ‘Mistik’; kumpulan cerita horror, misteri, dan dunia hitam, terbuka. Pada halaman 46 ulasan film “Pada Pukul 2 Dini Hari” terpajang. Juga fotoku dengan sekujur tubuh bermandikan kembang tujuh rupa. Aku mendengus kesal. Entah sejak kapan majalah misteri itu mengulas film. Apa wartawan pencari beritanya kekurangan bahan?

“May,” aku memanggil gadis manis berlesung pipi di hadapanku. Meraih majalah di pangkuannya dan menatap langsung ke arahnya. Memintanya untuk hanya fokus pada diriku saja.

Gadis itu terlihat bingung. Tapi rupanya caraku berhasil membuat perhatiannya beralih padaku.

“Seandainya ada lelaki seperti Bimo di dunia ini, bagaimana menurutmu?” aku bertanya kepadanya.

Mayang terlihat bingung. “Gimana ya?”

“Mm.. pasti ada alasan yang cukup kuat mengapa ia melakukannya kan? Dan Bimo melakukannya untuk menyadarkan Sinta karena Sinta mencintai Rio yang playboy meski akhirnya Bimo termakan sendiri oleh mantra yang dirapalnya dan membuatnya jatuh hati pada Sinta. Endingnya sih oke kan? Bahwa Sinta akan tetap mencintai Bimo dengan atau tanpa mantra yang dirapal oleh Bimo,” jawab Sinta.

“Kamu kok malah ngeresensi film sih?” tetiba aku jadi kehilangan minat.

Mayang terkikik.

“Susah bener ya bilangnya?” aku berkata lirih. Tapi kacaunya Mayang ternyata mendengarnya.

“Bilang apaan?” aku terperanjat. Sama sekali nggak menyangka kalau Mayang memiliki kekuatan super bisa mendengar suara infrasonic. Eh infrasonic apa ultrasonic ya?! 😀

Aku menatap Mayang nyaris tak berkedip. Melihat langsung pada kedua matanya yang lentik.

“Aku jatuh cinta padamu Mayang,” ucapku dengan suara yang sedikit tercekat.

Mayang menatapku nyaris tak berkedip. Lalu ia tersenyum lebar.

“Kereen! Kamu hampir saja membuatku percaya kalau kamu menembakku!” ia menatapku kagum. Aku tertawa cekikikan.

“Dasar aktor! Paling bisa yaa?! Eits aku pergi dulu ya! Oya, sekali lagi, selamat ya!”

Aku menarik napas panjang. Ini susahnya jadi aktor, nggak ada yang percaya kalau kamu ngomong serius sekalipun. Semua dianggap cuma bermain peran. Tapi kali ini aku memang sedang bermain peran padanya. Karena memang bukan Mayang target cintaku sesungguhnya. Dan Mayang bisa dengan mudah membacanya. :mrgreen:

***

wpid-laras.jpg

Kuraih ponsel di meja sudut di samping tempat tidurku.

“Jangan lupa ya. Bangunkan aku pukul 7.”. Ketikku.

Lalu mengirimkan pesan singkat itu pada Annisa.

“Mau apa?” balasnya.

“Rahasia!” tulisku.

bersambung

Hari ke 10 #13HariNgeblogFF

Iklan

4 pemikiran pada “Bangunkan Aku Pukul 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s