Ti Amo


Jam baru menunjukkan pukul 04.30 pagi. Lelaki itu baru saja berniat mengetuk pintu kayu di hadapannya, ketika dilihatnya seorang perempuan separuh baya berjalan mendekat ke arahnya. Ia tersenyum dan bertanya dengan sopan.

“Assalamu alaikum, bu.. Adik sudah bangun?” tanyanya.

Perempuan yang baru selesai menunaikan sholat Subuh di masjid itu mengenali lelaki muda di hadapannya. Ia membalas tersenyum dan membuka pintu kayu di hadapannya. Dilihatnya sang putri sedang menunaikan sholat Subuh di rumah. Ia meminta sang lelaki untuk menunggu.

Lima menit kemudian gadis itu menemui sang pemuda. Meski bukan kali ini saja kedatangan pemuda itu di pagi hari seperti ini, tak ayal gadis itu bertanya-tanya. Kejutan apa yang akan diberikan sang pemuda padanya kali ini?

***

Namanya Resa. Lelaki tinggi kurus, sedikit introvert namun penuh dengan kejutan. Lelaki yang selalu memiliki caranya sendiri untuk membuat hidupku lebih berwarna.

Resa.

Dari bahasa Italia sorpresa, yang berarti kejutan. Sesuai dengan namanya ia selalu memiliki banyak kejutan.

Pagi ini ia datang ke rumahku. Pukul 04.30 pagi. Saat kebanyakan orang masih terlelap dan tidur dengan selimut membungkus hampir seluruh tubuhnya, Resa sudah sampai di depan pintu rumahku. Tanpa memberiku kesempatan bertanya, ia meminta izin pada ibu untuk mengajakku dan menyerahkan helm ke arahku. Setelahnya ia membawaku melintas membelah keheningan pagi hari di kota pahlawan dengan sepeda motornya. Memberikan aku kesempatan untuk menerka-nerka kemana kiranya ia akan membawaku.

Sepeda motor berhenti di sebuah stasiun. Rupanya ia akan mengajakku menaiki komuter, kereta api jarak dekat yang membawa kami dari kota Surabaya menuju Sidoarjo. Resa merogoh dua lembar dua ribu rupiah dan menyerahkannya pada petugas. Menukarnya dengan dua buah tiket komuter. Tak lama komuter sudah membawa kami dari Surabaya menuju Sidoarjo.

Ia memintaku duduk di dekat jendela. Tentunya dari sisi jendela pemandangan akan terlihat lebih jelas. Lelaki itu melepaskan jaketnya dan meletakkannya di atas pundakku, berusaha menghalau rasa dingin yang terasa menusuk kulit. Seketika rasa hangat pun menyelimutiku. Tak hanya rasa hangat yang didapat dari jaket itu, tapi juga rasa hangat yang menjalar di hatiku.

Seharusnya aku memikirkannya. Di mana-mana pagi hari selalu dingin. Tapi karena terburu, aku tak sempat membawa jaketku. Untung ada jaket Resa. Aku tersenyum. Setelahnya ia mengeluarkan kameranya DSLR-nya. Lalu memasang dan mengecek satu persatu bagian kameranya, memastikan kamera itu dapat berfungsi dengan baik. Barulah ia mulai mengambil gambar.

camera-canon-couple-cute-girl-Favim_com-139188

Ia memang menyukai fotografi. Tak perlu banyak pertanyaan, hasil tangkapan kameranya bisa dibilang nyaris mendekati sempurna. Aku selalu dibuat takjub olehnya. Seperti kali ini. Saat ia menunjukkan foto-foto dalam kamera yang berhasil diabadikannya selama perjalanan kami.

Meski aku tak banyak tahu tentang dunia fotografi aku senang mengikuti kegiatannya. Ketika ia sibuk menangkap moment melalui kamera dalam genggamannya, aku di sebelahnya sibuk menikmati moment kebersamaan bersamanya. Aku selalu suka ekspresi wajahnya saat ia melihat hasil foto yang menurutnya bagus. Senyum itu, senyum bahagianya. Senyum yang selalu melelehkan aku.

Jam menunjukkan pukul delapan pagi ketika ia menuntaskan kegiatannya. Kami pun kembali pulang. Sebelumnya ia menatapku sembari tersenyum.

“Makasih ya udah nemenin aku. Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku mengajakmu sepagi ini kan?” ia membuka suara.

Aku menggeleng. Dan tak lama ia menjitak sayang kepalaku.

“Ouch!” jeritku. Tentu saja aku bercanda.

“Entahlah, tetiba aku teringat padamu dan terbersit ide untuk mengajakmu jalan-jalan menggunakan komuter. Aku membayangkan suasananya pasti seru. Dan Alhamdulillah memang seru. We were enjoying the time together kan?” ucapnya.

Aku mengangguk, “dan makasih juga untuk pinjaman jaketnya,” jawabku.

Tiga hari setelahnya, ia menunjukkan hasil jepretan kameranya padaku. Sambil bercanda aku memintanya untuk mengajakku lagi jika ia hendak mengambil gambar.

Resa. Ada sesuatu yang berbeda saat aku bersamanya. Sebuah perasaan indah yang membuat hatiku berdesir saat berada di dekatnya. Ia seorang pria yang tak mudah mengucapkan kata sayang. Dan aku berharap apa yang kurasakan ini tidak hanya bertepuk sebelah tangan.

tumblr_lw9vikUFAl1qg2xooo1_500

Suatu hari ia pernah menanyakan sesuatu padaku, “sebenarnya, hubungan kita ini bagaimana?”

Aku terperanjat. Aku sudah lama menantikan ia membuka suara tentang kejelasan hubungan kami.

“Bagaimana apanya?” tanyaku.

“Iya, kita ini lho bagaimana?” ia memberikan penekanan dalam kalimatnya. Aku menarik napas panjang. Mulai memahami arah pembicaraannya. Seharusnya lebih gampang kalau kamu tak perlu bertanya seperti diskusi begini. Cukup bilang, ‘maukah kamu jadi kekasihku’, atau ‘apa kamu merasakan hal yang sama denganku.. bla.. bla.. bla..’ atau sekedar pernyataan ‘aku sayang kamu’. Batinku.

Jadi aku tak perlu jadi cenayang! Sesalku.

“Maksudnya gimana?” tanyaku. Dan Resa seperti kehabisan kata-kata. Lalu berkata padaku.

“Ya sudahlah, terserah. Yang pasti…” ia menggantung kalimatnya.

“Yang pasti apa?” kejarku.

Ia hanya menatapku dalam. Dari tatapannya aku seakan membaca sesuatu yang tersirat dari kedua matanya. Kedua mata yang mengisyaratkan bahwa ia juga mencintaiku.

Ti amo, Asmie.. Ti amo..”

Since that day, I know that I’m in love with him. My heart is belong to you, and I hope your heart is belong to me.. 🙂

-selesai-

camera-couple-love-photography-Favim_com-424508

PS: Cerita ini di(g)ubah semena-mena oleh rinibee setelah membaca cerita di sini. Nama Tony tokoh utama laki-laki sengaja dirombak habis-habisan supaya cocok dengan jalan cerita. Tokoh aku yang tidak diberi nama, disesuaikan dengan karakter aslinya. :mrgreen:

Enjoy! 😀

Iklan

4 pemikiran pada “Ti Amo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s