Cerita sebelumnya: Cintaku Mentok Di Kamu

Aku duduk sambil menopang dagu dengan tangan kiri. Sebelah tangan yang lain mengaduk-aduk coklat panas di dalam cangkirku. Di hadapanku, Dony terdiam cukup lama. Mencerna ucapanku.

“Jadi, kamu menerima tawarannya untuk jadi pacar pura-puranya? Kenapa?”

Kenapa.

Iya. Kenapa ya? Pertanyaan yang aku sendiri nggak tahu jawabannya. Aku memang baru mengenal Bram, tapi rasanya ada ikatan yang membuatku terasa begitu dekat dengannya. Entah apa namanya. Seakan kalau dia memintaku, maka otomatis seluruh jiwaku menyanggupi dan batinku akan dengan spontan berkata ‘untuk kamu, apa sih yang enggak boleh?’.

Tapi aku tidak bisa mengatakannya pada Dony. Dia pasti akan sangat terluka.

“Ayolah, Nisa. Jawab aku! Kenapa kamu diam saja?”

Aku terdiam. Menimbang apa sebaiknya berterus terang atau membiarkan Dony larut dalam pikirannya sendiri. Entah sampai kapan.

“Apa kamu mencintainya?” Dony menatapku untuk melihat kejujuran di mataku. Aku tak mampu lagi berbohong lebih lama padanya.

“Awalnya, aku berniat menolongnya. Tapi semakin lama menjalaninya aku semakin merasa bersalah.” Aku terdiam sesaat. Meneguk coklat panas dalam cangkirku. Dony bergeming. Memberikanku waktu untuk menuntaskan kalimatku.

“Aku tak tahu batasan antara pacar pura-pura dengan pacar beneran. Dan jujur saja, beberapa waktu yang lalu aku merasa telah membagi hatiku menjadi dua. Kamu dan dia. Aku mendua Dony. Bukan secara status. Karena statusmu tetap pacar resmiku. Tapi jujur saja, hatiku tak lagi utuh untukmu,” aku berkata lirih sambil menatap kedua matanya. Mengirimkan sinyal bahwa aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Tak ada gunanya lagi aku berbohong.

“Dan kamu lebih memilihnya, kan?!” Dony mengambil kesimpulan sepihak.

“Kamu nggak harus bilang, aku bisa merasakannya!”

Baguuus… Dony jadi cenayang sekarang!

“Dan tujuanku memintamu datang sekarang, adalah untuk mengakhiri hubungan kita. Tak sepantasnya aku menyiksamu dengan cara seperti ini. Ya. aku salah. Dari awal aku memang salah. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Kamu berhak mendapatkan yang terbaik untukmu. Maaf untuk semuanya,” aku menatap lelaki berambut ikal di hadapanku. Untuk pertama kalinya aku baru menyadari bahwa kedua matanya berwarna cokelat terang. Entahlah. Aku ini kemana saja? Apa itu karena efek pantulan matahari pagi yang langsung mengarah ke wajahnya?

Dony menatapku nyaris tak berkedip. Aku bisa melihat kekecewaan di matanya. Namun mungkin rasa marah karena dikhianati lebih mendominasi hatinya. Dan aku bisa merasakan. Jika aku berada di posisinya, harga dirinya tentu tercabik. Maafkan aku Don.. Ucap batinku.

“Oke!! Kita sudahi saja semuanya. Tiga tahun kita bersama itu ternyata tak pernah ada artinya untukmu! Kamu lebih memilih hubungan tanpa status dengan lelaki itu?! Fine!”

“Bukan begitu.. Aku..”

Dony memilih untuk pergi. Pergi sebelum aku bisa menjelaskan semuanya. Dan memang tak ada lagi yang perlu dijelaskan. Kuraih ponselku dan mengetikkan pesan. Ada satu hal lagi yang harus aku selesaikan. Kali ini dengan Bram.

***

Bram duduk di hadapanku. Berada tepat posisinya seperti ketika aku bertemu dengan Dony. Tapi kali ini kami berada di warung bakso, bukan di caffee seperti sebelumnya.

“Seharusnya aku berterus terang sejak awal. Seperti ketika kamu bercerita tentang Tania.” Aku memulai percakapan di antara kami.

“Aku memang belum sempat bercerita apa-apa. Dan kuakui itu memang salahku,” Bram memandangku nyaris tak berkedip. Hampir sama dengan pandangan Dony sesaat sebelumnya, tapi alis mata lebatnya membuat tatapan itu menjadi terasa sangat dalam. Aku tak pernah kuasa melihat tatapannya terlalu lama. Seakan ada pusaran yang akan menenggelamkan aku jika aku menatap kedalaman di kedua manik matanya. Itu sebabnya aku memilih untuk menunduk.

“Dan kali ini, giliran aku yang bercerita. Oke?” Bram menyanggupi. Meneguk teh dingin dalam gelasnya.

“Saat kamu memintaku jadi pacar pura-puramu, aku tidak menjelaskan statusku. Ya. Aku sudah memiliki kekasih. Sejak tiga tahun yang lalu. Tapi selama itu pula kami hanya backstreet. Nyali Dony tak cukup kuat menghadapi tatapan sinis kedua orang tuaku setiap kali ia datang menjemputku. Tapi, itulah Dony. Ia percaya bahwa waktu akan mencairkan segalanya.” Aku menghentikan ucapanku dan meneguk es jeruk di hadapanku.

“Sejauh ini aku tidak mengalami masalah yang berarti. Aku menikmati kebersamaan kita. Aku nggak pernah merasa terpaksa. Sungguh aku nggak keberatan. Apa sih susahnya menjadi pacar pura-pura? Menolong sahabat ketika ia dilanda masalah?”

“Tapi ternyata, begitu dijalani semuanya nggak semudah yang aku bayangkan. Jujur aja, saat menjalaninya aku merasa ini jadi rumit. Aku nggak tahu apa batasannya antara pacar pura-pura dan pacar sungguhan. Mungkin aku bisa memanipulasi keadaan. Yang nggak pernah terpikirkan sama sekali adalah hatiku. Ternyata, aku nggak bisa memprediksikan rasa di hatiku.” Aku terdiam. Memberikan waktu pada Bram untuk mencerna kalimatku yang belepotan di mana-mana. Memberikannya jeda untuk memahami arah pembicaraanku.

“Sekarang.. aku merasa semuanya sudah tidak bisa aku kendalikan. Ada perasaan lain yang tidak seharusnya hadir. Dan kali ini aku cuma ingin mengatakan. Aku nggak bisa lagi jadi pacar pura-puramu. Kita putus saja. Putus dari status pacar pura-pura ini!” Aku melirik jam di pergelangan tanganku. Saatnya aku pergi.

“Dan sekarang, aku harus pergi.” Aku beranjak dari tempat dudukku dan hendak melangkahkan kaki meninggalkan Bram sebelum ia melihat bulir bening di kedua mataku jatuh dan membasahi pipiku.

Namun Bram lebih dulu meraih lenganku dan menariknya. Aku kini berada dalam pelukannya. Aku tak kuasa menahan jatuhnya bulir-bulir bening itu. Dan di bahunya aku menangis, mengeluarkan segala rasa sesak yang kurasakan saat ini. Menumpahkan segala rasa di hatiku yang kini seakan tercabik-cabik. Dan Bram hanya terdiam. Mendekapku erat dalam pelukannya.

Untuk pertama kalinya aku merasakan kenyamanan yang luar biasa.

Apakah ini berarti, hatiku telah menjadi miliknya?

tumblr_mg8dn0EgYT1qg3a5po1_r2_500

bersambung.. pasti-

Hari ke 8 dengan judul yang galau. Di mana lagi kalau bukan #13HariNgeblogFF bareng @WangiMS dan @Momo_DM.

Ikutan ajaa! Dijamin seru.. 😀

Cek juga di @riniebee yaaa… 🙂

Gambar diambil di sini.

Iklan

9 pemikiran pada “Untuk Kamu, Apa Sih Yang Enggak Boleh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s