Cintaku Mentok Di Kamu


Sebelumnya: Bales Kangenku Dong!

Entah apa yang ada dalam pikiranku. Aku menerima tawaran Bram. Berpura-pura jadi pacarnya. Lalu Dony? Ia masih jadi kekasihku. Dan selama tidak bertemu dengannya aku cuma memberikan alasan kalau aku sedang sibuk. Jadi, dua minggu terakhir aku lebih banyak bersama Bram daripada Dony. Ibuku justru kelihatan semakin sering tersenyum. Beda banget kalau yang datang ke rumah itu Dony. Ironis.

Hubunganku dan Bram lebih diwarnai kegiatan santai seperti nonton, makan atau cuma ngobrol selama aku menjaga Bima di rumah Bu Wati. Nggak ada yang istimewa hingga sebuah sms Dony membuat aku gelagapan.

“Nis, kuliah kamu sibuk banget ya? Aku kangen nih. Kapan kita bisa ketemuan? Ada yang harus aku bicarakan.” tulisnya.

Sebenarnya itu sms biasa yang dikirim seorang lelaki pada kekasihnya. Dan seharusnya kalau seorang perempuan mendapatkan sms seperti itu dia akan berjingkrak bahagia. Seharusnya begitu kan? Tapi aku justru perlu waktu lama sebelum membalas smsnya. Membutuhkan waktu untuk memastikan akan menerima ajakannya atau menolaknya untuk yang kesekian kalinya.

Aku bingung.

“Annisa?!” Aku tak tahu kapan Bu Wati datang tapi beliau sudah ada di depanku sekarang. Aku tersenyum ke arahnya.

“Kamu sakit?” Tanyanya. Dan aku menggeleng.

“Nggak kok, bu..” jawabku.

“Minggu depan, Nisa istirahat saja dulu ya. Saya sama Bima, Bram dan papanya ada acara gathering kantor. Sekitar tiga hari. Nanti kalau sudah pulang lagi, saya minta bantuan Nisa lagi masih boleh, kan?” Senyum tersungging di bibirnya.

“Iya, bu. Tentu saja boleh,” jawabku. Aku membalas sms Dony dengan pasti. Aku akan menemuinya.

***

“Lama banget kita nggak ketemuan ya? Aku sampai kangen,” Dony membuka percakapan. Aku terdiam, meneguk coklat hangat dalam cangkirku. Dony memutuskan mengajakku minum kopi di sebuah caffee, tapi aku memilih coklat hangat saja. Perutku tak pernah bersahabat dengan kopi.

“Nis.. Nisa? Kamu tumben diam aja. Kamu nggak kangen sama aku?” Kedua matanya menatapku nyaris tak berkedip. Aku jadi jengah.

“Kamu apaan sih?” Aku berusaha mengalihkan tatapannya dariku. Kusentuh pipinya dan menggesernya sedikit menjauh agar tidak terlalu fokus menatap wajahku. Dan tangannya dengan cekatan menangkap lembut jemariku. Meletakkannya di pipinya. Aku langsung salah tingkah. Sekelebat pikiran bersalah menyelimutiku. Aku merasa nyaris seperti Tania. Apa bedanya aku dengan dia? Memiliki kekasih tapi aku juga memendam rindu pada lelaki lain. Aku merasa seperti…

Aah.. Kutepiskan perasaan-perasaan negatif yang berputar-putar di kepalaku. Segera kutarik tanganku dan berusaha mengatur debar jantungku yang kian tak menentu. Setelah aku bisa menguasai diri, aku mulai bersuara.

“Jadi, katanya ada yang pengen kamu bicarakan?” tanyaku, berusaha mengalihkan pembicaraannya tentang masalah kangen.

“Ini tentang kita,”

JDER..

Aku nggak suka arah pembicaraan kami.

“Kita udah lama barengan kan Nis? Tiga tahun bukan waktu yang sebentar,”

“Lalu?”

“Kamu pasti sudah tahu arah pembicaraanku. Cintaku mentok di kamu Nisa.. Cuma kamu.”

Mudah-mudahan dia nggak nanya balik perasaanku. Karena jujur saja saat ini aku sedang galau.

“Aku pengen tunangan sama kamu,” pintanya.

Aku terperanjat. Ini apa-apaan sih? Kenapa dia jadi seperti ini?

“Nis.. Nisa? Kok kamu diam saja? Kamu mau kan?”

“Aku nggak bisa Don.. Sorry. Kamu tahu ibuku. Selama ini kita backstreet kan? Aku nggak bisa melakukannya. Dan lagi, aku belum kepikiran untuk menikah. Kuliahku juga baru dimulai kan?” Aku memberikan alasan.

“Kita cuma tunangan, belum menikah,” ia meralat ucapanku. Aku terdiam. Tak berniat memberikan alasan pembenaran yang lain. Dony menatap langsung pada kedua mataku. Dan spontan aku menghindari tatapannya. Entahlah. Tatapan Dony membuatku nggak nyaman.

“Ada orang lain ya?” Ia mengambil kesimpulan. Kesimpulan yang nyaris tepat.

“Jangan mikir yang aneh-aneh. Yang pasti aku belum siap tunangan. Aku masih fokus untuk kuliah. Tolong, hargai keputusanku.”

Setelahnya kami lebih banyak terdiam. Mungkin Dony kecewa dengan jawabanku. Atau mungkin juga karena aku merasa sangat bersalah sekali padanya. Menghindari kontak mata dengannya membuat aku terlihat sangat mencurigakan. Tapi aku lalu teringat dengan keputusanku menerima tawaran Bram untuk jadi pacar pura-puranya. Entah mengapa, status menjadi pacar dua orang pria ini membuatku merasa jadi perempuan paling jahat sedunia. Aku merasa tidak adil pada keduanya.

***

Dan di sinilah aku sekarang. Sendirian menatap langit-langit kamarku. Memikirkan kedua pria yang memiliki status yang sama. Pacarku. Kekasihku. Meski yang satu resmi dan yang lainnya pura-pura. Apa sih batasan pacaran pura-pura dengan sungguhan? Karena rasaku pada keduanya sama. Aku membagi cintaku pada dua pria. Dan aku tak bisa berlaku adil pada keduanya.

“Cintaku mentok di kamu”

Kata-kata Dony terngiang-ngiang dalam pikiranku. Sementara cintaku? Nggak mentok kemana-mana.

bersambung

Turut meramaikan #13HariNgeblogFF Hari Ke 7 😀

Iklan

11 pemikiran pada “Cintaku Mentok Di Kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s