Bales Kangenku Dong!


Cerita sebelumnya: Sambungan Hati Jarak Jauh

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Kedua mataku yang bulu matanya nggak lentik sama sekali. Ini apaan sih? Beneran ini dari Bram? Ah ini pasti penipuan. Apalagi sekarang banyak penipuan. Para penipu yang memanfaatkan kepolosan gadis muda seperti aku. Qiqiqiqi.. Aku terkikik.

Aku mengulang-ulang membaca pesan singkat yang masuk ke handphone-ku. Keraguan menyelimutiku. Ah ini pasti ulah seseorang yang berniat mengerjai aku. Ini hampir sama dengan sms ‘tolong isi mama pulsa, mama ada di kantor polisi’ itu. Dan kebetulan saja saat ini si pelaku mengirim smsnya padaku dan mengatasnamakan pengirimnya bernama Bram. Aku membuat kesimpulan asal-asalan. Maka tanpa merasa bersalah sedikitpun aku membalas sms-nya.

“Hai, ini siapa? Bram? Bram yang mana? Nis? Nis siapa? Bener kamu nggak salah nomor?”

Pesan sukses terkirim. Dan tak lama kemudian ponselku kembali berdering.

TRING.

Pesan masuk ke ponselku.

“Kamu tuh ya? Sekali sms nyecar beragam pertanyaan. Gak mau rugi ye?! :D. Udah buruan siap-siap! Aku jemput lima belas menit lagi!”

Siyal! Ini Bram. Bener-bener si Bram yang ngeselin itu! Lho kok jadi ngeselin? Padahal beberapa menit yang lalu aku prihatin sama nasibnya. Ah, lima belas menit lagi? Mau apa dia? Aku memonyongkan bibirku demi membaca sms perintah Bram. Iih.. apa aku pura-pura tidur saja ya? Sekelebat pikiran usil menyergapku, hingga tak lama terdengar suara.

“Nisaaa.. Ada nak Bram niiih..!”

Aku langsung bangkit dan mengambil jaketku. Untung saja aku belum mengganti bajuku dengan baby doll.

***

Pria tampan itu tersenyum lebar ketika mata kami bertemu. Eh maksudku pria jangkung itu. Aku melirik sekilas ke arah ibu yang entah mengapa kali ini terlihat ramaaah sekali. Beda dengan ekspresinya waktu Dony datang sebulan yang lalu. Aku pun mengarahkan pandangan ke arah Bram, yang tak henti-hentinya tersenyum. Tapi senyumnya beda. Senyumnya aneh. Ada sesuatu yang mencurigakan di sana.

“Tante, saya mau ngajak Nisa pergi sebentar. Boleh nggak?” Tanya Bram langsung meminta izin pada ibuku. Tanpa banyak pertanyaan ibuku mengangguk setuju.

“Tapi jangan kemaleman ya!” pintanya.

“Iya, tante..”

Bram menggamit lenganku dan menuntunku menuju sedan birunya. Tetiba aku merasakan getaran aneh yang menjalar dari pergelangan tanganku langsung ke dalam dadaku. Perasaan aneh yang membuatku urung marah-marah pada Bram. Dan bahkan aku lupa sama sekali apa yang menjadi alasanku untuk marah padanya. Ah.. aku… aku amnesia! 😐

“Nis?! Nisaaaa?!” suara Bram mengembalikanku ke bumi. Setelah sebelumnya aku merasa seakan melayang.

“Kamu sakit?”

“Oh, nggak. Eh kita mau kemana?”

“Ikuut aja deh!” Ia tersenyum lebar ke arahku, dan semuanya pun kembali normal. Kusingkirkan perasaan-perasaan aneh yang menyergapku dan berusaha tampil senormal mungkin.

“Namanya Tania,” Bram membuka pembicaraan ketika ia selesai menulis pesanan bakso dan menyerahkannya pada mbak-mbak pelayan. Aku terdiam. Memberikannya kesempatan untuk menjelaskan.

“Dia kekasih sahabatku, Hadi. Aku juga nggak tahu kenapa kami bisa menjadi begitu dekat. Awalnya Tania hanya minta untuk dikenalkan ke beberapa agency karena ia tertarik di dunia modelling. Aku yang kebetulan punya beberapa kenalan pun mencoba mengenalkannya. Seringnya memberi informasi dan menghubungkan Tania dengan beberapa agency membuat kami jadi sering bertemu. Kedekatan yang terlalu akrab membuat Hadi salah paham,” Bram menghentikan kalimatnya karena pesanan teh manis kami sudah datang. Ia mengaduk teh di gelasnya lalu meneguknya sedikit, kemudian melanjutkan ceritanya.

“Singkat kata, Sabtu kemarin Tania minta bertemu denganku. Dia bilang kalau sudah putus, dan di saat itu pula ia memintaku menggantikan posisi Hadi di sisinya. Menjadi kekasihnya…” Bram menggantung kalimatnya.

“….dan aku menolaknya.”.

“Bagaimanapun dia kekasih sahabatku. Aku sudah gila kalau menerima Tania meski mungkin pernah terbersit rasa andaikan kami dipertemukan lebih awal. Hadi itu teman baikku. Dan aku pantang berpacaran dengan kekasih sahabat, mantan pacar sahabat ataupun orang yang pernah di-pedekate-in sama sahabatku. Dan aku memilih mundur. Sebelum semuanya jadi terlambat. Dan sepertinya, Tania tidak bisa menerimanya.”

“Lalu menghadiahimu kenang-kenangan itu?” tunjukku ke arah pipinya.

“Hahaha.. Iyaa. Souvenir!” Ia tergelak.

“Mm.. Lalu? Tujuanmu menceritakannya kepadaku?”

“Aku minta kamu menolongku!”

Great!

Aku sudah kadung janji pada diriku sendiri. Kalau ia membutuhkan aku, dia bisa mengandalkan aku. Selamat Nisa! Bisakah kamu menepati janjimu? Terdengar suara-suara di kepalaku. Tak lama bakso pesanan kami pun datang. Aku menambahkan saus, sambal dan mulai memotong kecil-kecil bakso dalam mangkukku.

“Jadi, aku harus gimana?” tanyaku sambil meniup bakso dalam sendokku dan menyuapkannya perlahan.

“Pura-pura jadi pacarku,” Bram berbicara tanpa penekanan dalam kalimatnya. Dan aku langsung tersedak. Bakso yang sudah kupotong kecil-kecil itu tetiba tidak bersahabat dengan tenggorokanku.

Suara Maudy Ayunda menyanyikan soundtrack film Perahu Kertas terdengar di sela percakapan kami.

Ponselku berbunyi. Aku mengabaikannya dan memilih untuk meneguk teh manis dalam gelasku. Kutatap wajahnya dan melihat keseriusan di kedua matanya. Lagu Perahu Kertas terlanjur berhenti sebelum aku sempat mengangkatnya.

“Tujuannya?”

“Ya supaya Tania benar-benar percaya. Aku bilang kalau aku menolaknya karena aku sudah punya kekasih.”

Great! Alasan klise yang masih saja dipakai orang sampai sekarang. Aku menatap kedua matanya. Dan tak terlihat senyum di bibirnya. Ia serius dengan ucapannya.

“Untuk berapa lama?” tanyaku.

“Enam bulan?!” Bram tersenyum sambil memicingkan matanya. Takut kalau aku akan menghadiahinya tamparan seperti yang pernah dilakukan Tania tempo hari.

TRING… TRING..

Ponselku kembali berbunyi, kali ini menandakan ada pesan masuk melalui ponselku.

“Angkat dulu saja. Mungkin penting,” Bram memberikanku jeda sebelum aku memberikan jawaban atas penawarannya. Kuturuti ucapannya, dan membuka pesan masuk dalam ponselku.

“Kalau udah nggak sibuk, bales kangenku dong!”

Sms dari Dony!

1_407727013l

bersambung

Masih tetap setia dengan #13HariNgeblogFF. Sekarang udah hari ke 6.. 🙂

Iklan

6 pemikiran pada “Bales Kangenku Dong!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s