Sambungan Hati Jarak Jauh


Cerita sebelumnya: Cuti Sakit Hati

Tak lebih dari lima belas menit aku telah tiba kembali di kamarku. Ah… gerah sekali. Kubuka jendela kamarku dan tetiba semilir angin menerpa wajahku. Sesaat kemudian kurebahkan tubuhku di atas kasur. Menatap langit-langit kamar. Sekelebat memori tentang peristiwa sore hari di depan kedai kopi kembali memenuhi benakku.

PLAK!

Sebuah tamparan keras melayang tepat di pipi seorang pemuda. Sontak aku menoleh ke asal suara. Laki-laki itu bergeming, meski dari tempatku berdiri aku bisa melihatnya sedikit meringis. Namun sikapnya tetap tenang. Kalau aku di posisinya, mungkin aku sudah kepancing emosi. Membela diri, marah-marah atau apalah. Bagiku, ditampar di tempat umum itu memalukan. Tak puas hanya dengan menampar, perempuan itu kembali memakinya.

“Aku benci kamu!” teriaknya lantang.

Semua pengunjung yang berada di sekitar mereka kini telah memfokuskan diri menatap keduanya.

Sejujurnya, aku nggak peduli apa yang dilakukan lelaki itu padanya. Tapi kalau melihat dari gelagatnya yang tetap tenang, aku justru bersimpati padanya. Pada lelaki korban penamparan. Ia tidak perlu membela dirinya berlebihan. Menandakan sejak awal lelaki itu sudah pasrah dengan perlakuan apapun yang akan dialamatkan padanya.

Pasrah.

Dan kepasrahannya membuat si perempuan berpikir untuk tidak perlu melakukan tindakan anarkis lainnya. Ia memilih pergi, sementara semua mata kini tertuju pada si lelaki berjaket coklat itu. Termasuk aku. Dan samar-samar aku mengenali wajahnya. Dia Bramantyo. Anak Bu Wati!

***

Aku meraih guling di sisi kananku dan memeluknya. Pikiranku masih tertuju pada kejadian Sabtu sore itu. Dan kali ini aku jadi merasa serba salah. Seharusnya aku mendatanginya waktu itu. Ah, tapi aku ini siapa? Bisa saja yang kulihat itu kebetulan mirip dengan Bram. Dan ketika pagi tadi aku cuma iseng mengatakan kalau aku bertemu dengannya di BIP, toh Bram hanya terdiam saja. Tidak mengatakan itu memang dirinya ataupun menyangkalnya.

Ah, tentu saja dia diam saja. Mungkin dia trauma. Dia baru saja ditampar di wajahnya! Di tempat umum, disaksikan puluhan mata yang menatap curiga! Bram yang malang.

Seharusnya aku mendekatinya. Ya, seharusnya aku menunjukkan rasa simpatiku. Menggandengnya dan  mengatakan padanya bahwa semua akan baik-baik saja. Mungkin dengan begitu aku bisa sekaligus menyelamatkannya dari tatapan curiga yang menuduhnya sebagai lelaki penjahat wanita.

Aduh! Kenapa aku jadi begitu peduli dengan harga dirinya? Aku ini bukan siapa-siapa untuknya. Sesekali aku memang membantu menjaga adiknya. Tapi bukan merangkap sebagai pengasuh kakaknya! Sebagian diriku menolak untuk bersimpati pada Bram.

Bram.. Bram.. Bram..

Yup! Hari ini Bram sukses mendominasi pikiranku. Entahlah. Hanya dengan mengingatnya, aku bisa tersenyum sendiri. Tapi itu lebih dikarenakan mengingat hal-hal konyol tentangnya. Aku terkikik membayangkan saat aku menyuapi Bima dan Bram langsung mengambil posisi duduk di sebelahnya. Dengan wajah konyolnya ia membuka lebar-lebar mulutnya. Menirukan gerakan Bima, memintaku menyendokkan bubur ke dalam mulutnya. Ia selalu melakukannya! Dan aku selalu terkikik dibuatnya. Di mataku, Bram seorang laki-laki yang baik. Mungkin sedikit konyol dan badung, tapi aku tidak yakin kalau ia penjahat perempuan. Itu sebabnya ketika insiden Mona terjadi, aku mengikuti permainannya. Mungkin melotot sedikit, tapi tidak merusak skenario yang sudah dibuatnya.

***

Dan kini perasaan bersalah kembali menyelimutiku. Ingin rasanya aku kembali ke rumah Bram untuk meminta maaf padanya. Maaf karena aku lebih memilih pergi dan mengacuhkannya, seakan tidak berada di tempat yang sama ketika ia membutuhkan seorang sahabat. Ya. Sahabat itu tetap tinggal kan ketika orang lain pergi dan meninggalkan kita seorang diri? Seorang sahabat tidak akan meninggalkan sahabatnya sendirian ketika ia melakukan kesalahan dan seluruh dunia membencinya. Seperti Sabtu sore kemarin. Aku bisa memastikan bahwa hampir semua mata yang memandangnya saat itu akan menunjukkan rasa benci, alih-alih bersimpati kepadanya. Dan itu terlihat dari raut wajah mereka semua. Aku mungkin bersimpati, dan mungkin hanya aku satu-satunya. Tapi aku tidak menunjukkannya.

Kali ini aku hanya mampu menuliskannya pada buku harianku. Berharap suatu saat nanti aku bisa mengucapkan langsung di hadapannya.

“Bram, aku minta maaf. Untuk ketidakpedulianku padamu sore kemarin. Aku tahu, mungkin kau sedikit kecewa ketika mengetahui bahwa kemarin aku berada di tempat yang sama denganmu. Tapi aku lebih memilih bersembunyi dan tidak peduli pada keadaanmu. Kau tahu Bram? Aku sungguh-sungguh menyesalinya.

Dan apa kau tahu bagaimana perasaanku saat ini? Aku merasa menjadi orang paling jahat sedunia! Kau mungkin akan tersenyum lebar dengan wajah konyolmu jika aku benar-benar mengucapkan hal ini di hadapanmu. Ya, aku bisa membayangkannya.

Dan Bram, untuk membuatku merasa lebih baik, jika lain kali kau membutuhkan aku, jangan ragu-ragu memintanya. Karena kau tahu? Kau selalu bisa mengandalkan aku..”

ist2_4179102-red-diary-book-cover

Kututup buku harian berwarna merah di hadapanku saat kudengar bunyi pesan masuk melalui ponselku.

“Nis, kalau ada waktu, sore ini kita bisa ketemu? Aku perlu bicara.”
-Bram-“

Aku terbelalak membaca pesan singkat pada handphone dalam genggamanku. Tak perlu banyak pertanyaan darimana ia tahu nomorku. Hanya satu yang terlintas di benakku. Apakah ini yang namanya sambungan hati jarak jauh?

to be continue

Dipersembahkan untuk #13HariNgeblogFF Hari ke 5. Masih tetep semangaaat!!! 😀 :mrgreen:

Iklan

5 pemikiran pada “Sambungan Hati Jarak Jauh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s