Cuti Sakit Hati


Cerita sebelumnya: Orang Ketiga Pertama

“Braaaaaaammm…! Turuuuuuunnn…! Sarapaaaann…” mama berteriak memanggilku. Aku melirik jam weker di sebelah kiri tempat tidurku. Pukul 7 lebih 4 menit. Masih terlalu pagi. Apalagi ini hari Minggu. Aku tak merencanakan melakukan kerjaan apapun hari ini. Biasanya pagiku jauh lebih indah. Tanpa perlu diminta sepagi ini aku sudah nongkrong di depan teras sambil memegang koran di kedua tanganku.

Tidak membacanya sih. Hanya untuk menutupi wajahku supaya aksiku tidak ketahuan. Yup, mengintip si manis berkulit sawo matang itu. Yang selalu tersenyum ceria mengajak adikku bermain. Annisa. Ah, Annisa siapa ya namanya?

BRAK.

Pintu kamarku menjeblak terbuka. Lamunanku langsung buyar!

Si kecil Bima berlari sambil tergelak. Di belakangnya ada mama yang mengejarnya sambil membawa semangkuk bubur. Mama mendelik ke arahku, demi melihat aku masih terbaring santai dengan badan terbungkus selimut menutupi tubuh sampai di bawah dagu.

“Bramaaaa!! Banguuun ih. Males amaattt!!” mama menarik selimutku dengan paksa. Melupakan misi sebelumnya untuk mengejar Bima dan memasukkan sesendok bubur ke mulut mungilnya. Kini mama lebih fokus memaksaku bangun dan melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Cuci muka, sikat gigi, sarapan! Ah mama. Nggak bisa liat orang seneng barang sebentar.

Aku berjalan malas-malasan menuju ruang makan. Dengan kaos biru superman kesukaanku dan celana pendek selutut.

“Kamu sakit?” Tanya ayahku.

“Nggak, Yah..”

“Nggak ada kerjaan? Syuting kek, hang out kek.. Tumben bener,” ayah melirik mama, memberikan kode rahasia melalui tatapannya. Dan keduanya pun tertawa bersama. Aku cuma bisa manyun.

“Ada yang lagi patah hati, Yah. Ada yang baru diputusin pacarnya,” mama mulai bersuara.

UHUK..!

Aku tersedak. Bagaimana mungkin mama bisa tahu? Aku memutar otak. Mengumpulkan serpihan memori dan mulai menerka-nerka dari mana mama bisa mengetahui informasi tentangku? Dan aku pun mendapatkan jawabannya!

“Mama usil ih. Pasti buka-buka handphone Bram ya?” tuduhku.

Mama tersenyum penuh kemenangan. Lalu tertawa puas. Aku jadi serba salah. Kacau ih. 😳

“Kamu serius bener sih Bram?! Itu mama baca naskah di meja belajar kamu. Cerita cowok patah hati yang diputusin pacarnya trus mandi kembang?!” mama terkikik.

UHUK.

Kali ini giliran papa yang tersedak.

“Ada acara mandi kembang segala?” papa bertanya sambil membulatkan matanya. Mama mengangguk. Dan keduanya tertawa bersama-sama.

“Nggak sabar ih ngeliat akting Bram. Kapan ditayangin?” papa malah jadi bersemangat.

Tetiba pagiku jadi hancur lebur. Duuh mau ditaruh di mana wajah ini? Seandainya aku bisa cuti. Sekalii saja. Nggak ikutan sarapan. Karena hari ini aku merasa tidak sehat. Sakit lahir bathin!

“Tolong ditaruh di situ saja. Sekalian ikutan sarapan, yuk!” Suara mama kembali terdengar. Sementara aku menyusun strategi supaya bisa kabur dengan elegan.

“Duduk saja di deket Bram. Di sana masih ada kursi kosong, kan?”

Aku menggeser kursiku. Memberikan ruang agar tamu mama bisa menempati kursi itu. Aku sudah bersiap untuk bangkit, lalu melangkahkan kaki. Kabuurr..! :lol:. Tapi mama sepertinya sudah menduga aksiku. Feeling ibu itu memang kuat ya? Terlalu kuat.

“Hayooo.. Mau kemana?! Tetap di sana!” Ucapan mama tak bisa dibantah. Aku kembali duduk dan menghadap piring nasi gorengku.

“Halo, superman!” terdengar bisikan.

Aku menoleh untuk mencari asal suara.

JDER!

Itu Annisa! Ngapain dia di sini? Ini hari Minggu kan? Antara kaget tapi juga senang, lalu berubah malu dan kini penasaran. Duh, sejak kapan Annisa ada di sini? Apa dia mendengar pembicaraan kami sebelumnya?

Annisa tersenyum lebar. Senyum yang aku sendiri tidak tahu maknanya. Senyum karena melihatku, senyum sapaan atau senyum ‘sekarang aku tahu rahasiamu’? Senyum yang mana?!

Aku balas tersenyum. Senyum pias. Lalu buru-buru kembali menatap piringku.

“Aku kira kamu libur,” aku membuka suara setelah ayah dan ibuku bergegas menemui seorang tamu yang datang.

“Memang. Ini kan hari Minggu?! Tapi ibuku menitipkan undangan pengajian. Jadi aku di sini. Nggak seneng ya kalau ada aku di sini? Sekarang juga mau pulang kok,” Annisa terlihat sedikit manyun. Tapi hanya sebentar. Karena setelahnya ia melanjutkan ucapannya sambil membereskan piring-piring kotor di atas meja, “kamu sendiri, nggak ada acara?”

“Nggak. Aku cuti” jawabku.

“Cuti sakit hati?” tanyanya menebak.

“Hah?!”

Aku masih berusaha mencerna ucapannya. Bagaimana dia bisa tahu? Ah, dia pasti cuma menebak. Aku berusaha menenangkan diri. Tapi cuma sementara, sebelum ia melanjutkan ucapannya.

“Eh iya, kemarin aku lihat kamu di BIP. Di depan kedai kopi yang deket pintu masuk. Pake jaket coklat, tas selempang? Kamu kan? Bareng sama.. Yah pokoknya itu. Eits udah siang, aku pulang dulu ya..” Annisa buru-buru beranjak setelah melirik jam di pergelangan tangannya.

“Sepertinya dia meninggalkan tanda di pipimu kan? Sepertinya agak keras. Ah ya. Masih sedikit merah tuh..”

Segera aku menyentuh pipiku. Pipi yang kemarin ditampar Tania.

Ah, kacau! Annisa bener-bener tahu…!

 

 

-bersambung nggak yaa? :D-

Bersambung aja deh..

 

Di sini ya…!

cat_with_glasses

Tulisan ini untuk meramaikan #13HariNgeblogFF hari ke empat! :mrgreen:

logo 13haringeblogff

Iklan

12 pemikiran pada “Cuti Sakit Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s