Orang Ketiga Pertama


Cerita sebelumnya: Pukul 2 Dini Hari

“Nisa, saya tinggal dulu ya! Nanti kalau ada apa-apa telepon saya saja. Nomornya ada di buku telepon. Saya cuma sebentar kok. Mungkin nanti sebelum Ashar sudah sampai di rumah,” perempuan separuh baya yang masih terlihat ramping itu tersenyum padaku. Lelaki kecil di sampingku mengulurkan tangannya. Memberi salam hormat pada sang bunda. Sebuah kecupan sayang pun mendarat di keningnya.

Hari kedua aku mengasuh Bima. Lelaki kecil yang kini asyik dengan boneka Barney-nya. Sebenarnya ia tidak termasuk bocah yang sulit. Aku jadi penasaran, mengapa sampai sekarang tak ada satupun baby sitter yang cocok untuk Bima? Padahal ia termasuk anak yang manis. Selain tampan dan suka tersenyum, selama dua hari aku di sini, Bima tak pernah menunjukkan gelagat negatif seperti memukul, menyerang atau menggigitku.

Tak lama, terdengar suara mobil berhenti. Aku bergegas mendekati jendela dan menyibak sekilas tirainya. Cepat sekali Bu Wati pulang. Apakah ada barang yang ketinggalan?

Dari dalam sedan hitam yang diparkir di bawah pohon mangga, seorang perempuan berambut panjang sepinggang dengan kacamata hitam dan tas putih tergantung pada pergelangan tangannya berjalan mendekat ke arah rumah Bu Wati. Tangannya sigap membuka pagar kayu yang tidak terkunci dan berjalan cepat menuju ke arahku. Ujung jari telunjuknya menekan bel pintu rumah.

Klik.

Aku membuka perlahan pintu yang memisahkan kami.

“Bram ada?” tanyanya.

“Bram?” ulangku. Bram itu siapa ya? Tanya hati kecilku.

“Hai Braaam!” Tetiba gadis di hadapanku melambaikan tangannya. Mendorong tubuhku dengan bahu mungilnya. Lalu berjalan masuk dan menghambur ke arah lelaki yang entah sejak kapan telah berada di belakangku.

Aku hanya bisa terpana melihatnya. Laki-laki itu. Dia laki-laki yang pernah membuatku salah tingkah. Jadi, namanya Bram?!

“Eits.. Apa-apaan ini?” Bram terlihat jengah dengan tingkah gadis semampai di hadapannya. Sang gadis sepertinya tak mudah menyerah. Ia lebih mendekat ke arah Bram. Aku jadi serba salah. Seharusnya aku memang tidak berada di sini. Saat aku membalikkan badan, Bima sudah berlari menghambur memeluk pinggangku. Aku jadi kesulitan bergerak.

“Siapa dia?” Tanya gadis itu pada Bram. Ia melihat ke arahku. Mata kami saling bertatapan. Lalu ia tersenyum dan bergegas mendekat ke arahku. Melingkarkan lengannya di pundakku. Aku tak dapat menghindar. Pelukan Bima di pinggangku terlalu keras. Kucoba melepaskan jari-jari mungilnya, tapi lelaki kecil itu hanya tergelak.

“Ini tunanganku,” Bram menjawab asal-asalan. Aku terkejut. Mataku membulat.

“Tunangan apa?” tanyanya penuh selidik.

“Iya Mona, aku dan Nisa telah bertunangan. Kami akan segera menikah!” Bram menjawab tegas. Ini apa-apaan sih? Aku menatap galak ke arah Bram. Yang ditatap justru tersenyum lebih lebar.

Mona terlihat geram. Matanya membulat dan bibirnya sedikit terlipat. Ia menatapku penuh kebencian.

wpid-fight.jpg

“Kamuu… Kamuu..! Iiih.. Dasar orang ketiga! Kamu perusak! Kamu… kamuu.. Orang ketiga….”

“Pertama!” Bram menyela ucapan Mona.

“Hah..?!” Aku menatap Bram tak mengerti.

“Dia perempuan pertama dan satu-satunya di hatiku, Mona. Sorry..” Bram menjawab tegas.

Mona menjerit kesal dan menatapku penuh kebencian. Ia mempercepat langkahnya dan berlalu meninggalkan kami bertiga.

BRAK!

Ia menutup keras-keras pintu mobilnya. Lalu terdengar suara sedan hitamnya melaju kencang. Bima mengangkat kedua tangannya ke arahku, memberikan tatapan ‘aku mau digendong’. Bram tersenyum puas. Aku meliriknya, memberikan pesan melalui tatapanku bahwa aku tak nyaman dengan keberadaan lengannya di pundakku. Ditariknya tangannya dengan terburu.

“Ups.. Maap ya. Maap juga udah nggak sopan. Kamu Nisa kan? Aku Bram. Bramantyo.” Ia mengulurkan tangannya ke arahku. Aku menerima jabat tangannya.

“Annisa,” jawabku.

Kembali mata kami saling bertatapan. Jantungku berdetak lebih cepat, lalu buru-buru mengalihkan pandanganku ke arah pintu yang menjeblak terbuka. Bram mengulurkan tangan ke arah Bima, memberi kode untuk menggendongnya. Bayi itupun mengarahkan badannya pada sang kakak, menerima ajakannya. Lalu diangkatnya Bima tinggi-tinggi sembari membuat gerakan memutar, yang membuat sang bayi tertawa-tawa kegirangan. Aku memberanikan diri bertanya. “Dan gadis yang tadi?”

“Ooh.. Dia cuma fans,” jawab Bram santai sambil berlalu.

Mau tak mau aku tertawa geli.

Fans? Dia punya fans? Tanya hati kecilku. Ada-ada saja.

masih bersambung, sepertinya

Tulisan ini dipersembahkan untuk #13HaringeblogFF hari ketiga 😀 😉

Iklan

14 pemikiran pada “Orang Ketiga Pertama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s