Pukul 2 Dini Hari


Cerita sebelumnya: Kenalan Yuk!

Aku mengingat-ingat percakapan yang kulakukan dengannya tadi siang. Entah mengapa aku tidak bisa tenang. Semua pesannya melekat kuat dalam ingatanku. Pokoknya dia berpesan, agar aku tidak melupakan satupun hal penting yang tadi dia sampaikan. Semuanya.

Aku membuka catatanku. Mencocokkan tulisan dengan barang-barang yang kini berserakan di sekitarku. Membaca daftar dan mencentangnya jika kupastikan benda itu telah berada di dekatku. Kulirik jam di pergelangan tanganku. Kurang sepuluh menit lagi. Saatnya aku bersiap.

Kumasukkan satu persatu benda-benda itu ke dalam wadahnya. Lalu beranjak sebentar ke dalam kamar. Mengambil selembar kain yang telah kupersiapkan. Kain yang akan menyelimutiku jika nantinya aku kedinginan. Sarung kesayanganku. Kutarik napas panjang dan merapal doa untuk menentramkan hatiku.

Kubuka buku harianku dan mengambil selembar foto yang terselip di sana. Ia tersenyum menatapku. Foto yang sedikit lusuh. Yang kuambil paksa dari pemiliknya. Ah, mengapa hubungan kita harus seperti ini, sayang? Mengapa kau pergi dan meninggalkan aku dengan luka yang tak jua sembuh setelah kepergianmu? Mengapa? Aku sungguh merindukanmu.

Dan seketika aku tersadar. Ada yang harus aku lakukan sekarang! Aku berjalan tergesa menuju dapur. Mematikan kompor yang di atasnya bertengger panci dengan air panas yang menggelegak. Kutuang airnya perlahan ke dalam baskom dan menambahkan sedikit air dingin untuk menjadikannya hangat. Lalu akupun bersiap.

Kulirik jam tangan yang telah kulepas dari pergelangan tanganku. Pukul 2 dini hari.

Sekaranglah saatnya.

Kuaduk-aduk baskom di hadapanku. Bau harum seketika menyerbak ke seluruh ruangan. Kurapal sebuah doa yang kubaca dari secarik kertas dalam pangkuanku. Sesuai petunjuk dan petuah yang kudengar siang tadi. Masih terngiang dalam benakku pesan yang dia sampaikan.

“Mandi kembang pada pukul 2 dini hari. Letakkan fotonya dalam pangkuanmu dan guyurkan air ke seluruh tubuh sambil merapal mantra yang baru saja kau tulis. Ulangi sampai tiga kali. Niscaya, dia akan kembali dan bertekuk lutut mencintaimu.”

misteri-bunga

Kuguyurkan kembang tujuh rupa dalam baskom itu ke seluruh tubuhku, sembari merapal mantra yang kubaca perlahan dari secarik kertas lusuh di pangkuanku. Membacanya perlahan, mengulangnya sampai tiga kali. Sebelum akhirnya terdengar suara.

“YAAKK… CUTT..!” teriak Seno lantang.

“Bagus! Penjiwaannya udah dapet. Gitu doong..! Kalau nggak pake ngulang-ngulang adegan, kita bisa cepet pulang kan?” Lelaki itu tersenyum lebar. Puas dengan aktingku kali ini. Aku tersenyum miris. Menggigil kedinginan.

[Bram]

iStock-cameraman-Medium1

bersambung

Tulisan ini diikutsertakan pada event #13HariNgeblogFF hari ke dua.. :mrgreen:

Gambar diambil dari sini.

Iklan

17 pemikiran pada “Pukul 2 Dini Hari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s