Aku termenung di depan meja belajarku. Mengetuk-ngetukkan pensil kayu ke atas meja. Pandanganku menerawang. Mengingat-ingat perkataan ibu semalam. Tentang tawaran Bu Wati.

Ah, kenapa harus sekarang? Batinku bertanya.

Tok.. tok..

Suara ketukan pelan menandakan ibu tengah berdiri di depan kamarku. Kuraih karet rambut berbahan kain halus berwarna pink lalu mengikatkannya ke rambutku. Menghasilkan sebuah ekor kuda sederhana. Kubuka pintu kamar secepatnya.

“Makan dulu, yuk! Bapakmu sudah menunggu,” aku mengangguk dan bergegas berjalan di belakang ibu.

“Jadi, sudah kamu pikirkan tawaran Bu Wati kemarin?” tanya ibu setelah kami semua duduk di meja makan. Bapak berdeham sebelum aku sempat menjawab. Ibu menghentikan pertanyaannya.

Aku tersenyum. Diselamatkan oleh deheman bapak. Ya, bapak termasuk penganut aturan ‘kalau makan jangan ngomong’ dan selama lima belas menit dalam keheningan membuatku cukup memiliki jawaban jika nanti ibu menanyakan hal serupa.

Kami tetap tinggal di ruang makan, membereskan piring-piring kotor di atas meja. Sementara bapak sedang mengobrol dengan paman yang kebetulan datang berkunjung.

Aku terdiam.

Bagaimanapun aku sudah memikirkannya. Meski aku tak tahu apa yang sebaiknya aku lakukan ke depannya.

“Nduk? Sudah kamu pikirkan?” ibu bertanya tak sabar.

“Sudah. Tapi Nisa masih bingung,’ jawabku.

“Bingung apalagi tho? Cepat kamu bersiap. Kita ke rumah Bu Wati sekarang,'” perintah ibu.

WHATTT…?

Selama dalam perjalanan aku memohon agar ibu tidak memaksaku. Perjodohan ini sudah mulai tidak jelas. Aku nggak suka dipaksa-paksa seperti ini. Aku belum siap. Aku masih mau meneruskan sekolah.

“Dicoba dulu saja, Nis!” ibu merayuku.

“Tapi Nisa masih mau meneruskan kuliah”, aku memberikan alasan.

“Ya nggak pa pa. Nanti bisa diatur lagi. Ini penawaran bagus. Jarang-jarang lho ada penawaran seperti ini.”

Mana mungkin aku bisa meneruskan sekolah kalau nantinya aku sudah terikat? Aku membatin.

Merapal doa dalam hati. Semoga saja ia tak tertarik padaku. Lalu aku batal menjadi ‘yang terpilih’ dan bisa semangat menata masa depanku lagi.

Aku mau kuliah! Titik.

***

rumah-impian.jpg Dan di sinilah kami berada. Di depan sebuah rumah besar bertaman indah. Rumah orang yang cukup berada. Pantas ibu bersemangat mengajakku kemari. Sepertinya, Bu Wati bukan orang sembarangan. Ibu menekan bel dan seorang perempuan tinggi langsing membuka pintu mempersilakan kami masuk. Ia mencium pipi ibuku di kiri dan kanannya. Membuat jarak sosial ekonomi kami yang sebenarnya njomplang menjadi tak terlihat. Lalu mereka bercakap. Sepertinya sudah saling mengenal selama ribuan tahun.

Dugaanku tepat. Ibu dan Bu Wati bersahabat sejak dulu. Dan grup pengajian mempertemukan kembali keduanya. Suara derap langkah membuat percakapan keduanya terhenti. Langkah-langkah itu semakin lama semakin jelas terdengar. Kami semua terdiam. Memberikan konsentrasi penuh pada seseorang yang kini berjalan semakin dekat ke arah kami.

Hatiku tetiba menjadi tak tenang. Inilah saatnya. Ia melihat ke arahku. Mengawasiku dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Membuatku jengah seperti ditelanjangi. Ia melihatku penuh tanda tanya. Jujur saja, wajah tampannya sempat membuatku jatuh hati.

Ah tapi aku tidak akan mudah terpedaya. Aku masih tetap dengan keinginanku. Aku mau melanjutkan sekolah!

Bu Wati menatap putra kesayangannya. Memberikan waktu lelaki itu ‘menilai’ku. Ibu tersenyum mengawasi kami berdua. Aku berusaha menjaga jarak agar tatapan kami tidak saling bertemu. Dan lelaki itu mengalihkan pandangannya ke arah bu Wati.

Tersenyum penuh arti.

Kudengar Bu Wati berbisik ke arah ibuku, “sepertinya ia menyukai Nisa.” Dan keduanya tertawa kecil. Bu Wati mendekap sang putra dan memintanya duduk di sampingnya. Lalu ia menatapku yang masih enggan menatap putranya. “Sana kenalan dulu!” Bu Wati mendorong putranya mendekat ke arahku. “Kenalan yuk!” pintanya. Yang disuruh pun langsung melangkahkan kaki mendekatiku.

Ibu menyikut pinggangku. Dan aku mengulurkan tanganku. Lelaki kecil itu mencium tanganku sambil tersenyum malu-malu. Bu Wati dan ibuku tersenyum bahagia.

“Waah.. cocok ya?” Bu Wati terlihat bahagia. Dari ceritanya, selama ini tak ada satupun pengasuh yang klop dengan Bima, putra bungsu Bu Wati. Semuanya tidak cocok. Saat pertama kali dikenalkan saja, Bima sudah menjerit-jerit tidak karu-karuan. Berbeda denganku. Entah mengapa lelaki tampan itu langsung bisa lengket denganku. Ini musibah atau anugerah?

Ibu Wati memintaku untuk membantunya mengasuh Bima sementara ia mengurus beberapa usaha souvenir dan kerajinan tangan yang dikelola di rumahnya. Sementara itu pada sore harinya aku boleh meneruskan kuliah dengan bantuan biaya dari Bu Wati, sebagai bentuk rasa terima kasihnya. Ia bersedia menjadi ibu asuhku. Tentu saja aku bersedia. Aku senaaang sekaliii. Kemudian kami pun berpamitan. Dan saat itulah mataku menangkap sesosok bayangan lain. Pria muda yang usianya sekitar tiga tahun di atasku. Tersenyum menatapku. Ah, kenapa aku jadi salah tingkah begini?

[Nisa]

bersambung

Tulisan ini untuk meramaikan #13HariNgeblogFF Hari Pertama. Ayoo semangat! :mrgreen: 😀

Iklan

11 pemikiran pada “Kenalan yuk!

  1. “Tentang ‘tawaran’ bu Wati.”
    cmiiw: bu? huruf kapitalnya?

    “Save by ‘dehem’an bapak.”
    cmiiw: lebih baik menggunakan bahasa indonesia, kan bukan kata umum yg harus diucapkan dalam bhs. inggris.

    “Suara derap langkah membuat percakapan keduanya terhenti. Hatiku tetiba menjadi tak tenang. Inilah saatnya.”
    cmiiw: pada bagian ini sebenarnya point penting, tapi tidak dapat perhatian lebih. majas dan pemilihan katanya kurang, sehingga paragraf berikutnya terasa aneh. semacam yang tadinya berjalan lancar jadi tersendat-sendat.

    keseluruhan:
    ide cerita o.k, eksekusi bagian inti kurang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s