“Winnn.. Please, jangan putusin gue kaya gini dong,” Roy merengek-rengek di kakiku. Aku mendengus kesal. Susah bener sih menyampaikan apa yang kuinginkan. Padahal sudah berulangkali aku bilang ‘tidak’ padanya.

“Wiin?” ulangnya.

“Nggak Roy! Aku nggak mau!” aku berkata tegas. Meninggikaan suaraku.

“Aku mau putus saja,” segera aku berlalu meninggalkannya. Masuk ke dalam kamar kost-ku. Biar saja dia menungguku di luar. Atau biar saja dia pergi sekalian. Aku sudah kesal sekali.

Aku terduduk di depan pintu kamar. Menatap kosong seisi kamarku. Bunga mawar pemberian Roy masih tergeletak di atas meja belajarku. Bunga yang menandakan hari jadi kami yang ke tiga tahun.

Ya. Tiga tahun sudah Roy menemaniku. Tak kupungkiri melepaskannya adalah salah satu hal terberat yang kulakukan dalam hidupku. Tapi aku tak punya pilihan lain.

***

“Win, elo putus sama Roy?” Saskia menyapaku saat kami berpapasan di dalam kelas. Aku melirik ke arahnya. Menarik napas panjang lalu menghembuskan kembali. Mengangguk mengiyakan.

“Tapi kan sayang Win.. Kalian sudaahh…”

“Aku nggak mau membicarakannya,” potongku.

Aku tak dapat berkonsentrasi penuh pada perkuliahan. Ah. Aku benci saat-saat seperti ini. Kuputuskan langsung pulang saja begitu perkuliahan berakhir.

Saat aku sampai di kost, Roy sudah menungguku.

“Win, aku mau bicara,” pintanya.

“Mau apalagi sih Roy?!” aku menjawab tak sabar.

“Tak bisakah kau memberiku kesempatan?” pintanya lagi.

“Kesempatan apa lagi?”

“Untuk memperbaiki semuanya?”

Aku gerah. Ini apa-apaan sih? Apa dia tak bisa memahami perasaanku? Bagaimana kalau dia ada di posisiku? Apa dia akan melakukan hal yang sama seperti yang dimintanya padaku? Memaafkannya?

Aku menatapnya langsung ke arah dua bola matanya. Menunjukkan keseriusanku. Lalu berbicara tegas padanya.

“Aku tak bisa Roy. Untuk kali ini aku tak bisa. Aku tak bisa mentolerir sebuah pengkhianatan. Kamu selingkuh, kita putus. Itu sudah keputusanku. Tolong, hargai aku.  We Are Never Ever Getting Back Together. Okay?”

Dan aku berlalu padanya.

Kali ini aku yakin. Dia tak akan merengek lagi.

-selesai-

creeeeeeeepo

Iklan

2 pemikiran pada “Never

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s