Cerita sebelumnya

Aku berlari tergesa. Berharap bisa mengejar Wina. Semoga belum terlambat. Pikiranku berputar-putar. Mengingat kebodohan yang kulakukan. Kenapa aku harus sekasar itu? Mengapa pula harus memaki-maki Wina dan menuduhnya yang bukan-bukan. Ah bodoh. Aku memang bodoh!

(Dony)

***

Dasar pria!

Kau pikir cuma dirimu saja yang minta dimengerti? Dimana-mana wanita yang ingin dimengerti. Ada band juga bilang begitu! Wina merutuk dalam hati. Hari ini adalah salah satu hari terburuk dalam hidupnya. Bagaimana tidak? Maksud hati ingin membuat kejutan ulang tahun. Justru ia dikejutkan oleh sikap Dony, sang kekasih.

Awalnya Wina mengira Dony cuma berpura-pura. Pura-pura tidak ingat kalau hari ini ia sedang berulang tahun. Maka Wina pun sengaja mendatangi tempat kost Dony dan berharap Dony bersedia memundurkan jadwal naik gunungnya yang memang rutin dilakukan bersama teman-teman pencinta alamnya. Biasanya setiap 2 atau 3 bulan sekali Dony dan teman-temannya akan bersama-sama menaklukkan gunung. Dan kali ini tujuan mereka adalah gunung Semeru.

Wina datang ke kost Dony dan melihat sang kekasih asyik berkutat dengan tumpukan pakaian serta tas ransel butut kesayangannya. Wina tahu kedatangannya tentu akan disambut dingin oleh Dony.

Dony memang dingin. Sangat bertolak belakang dengan Wina yang hangat dan romantis. Wina juga tak habis mengerti bagaimana ia bisa jatuh hati pada sosok Dony yang berantakan dan jauh dari sikap romantis.

“Kamu pasti kena batunya!” Siska sahabat Wina, memberikan komentarnya.

“Maksudmu?”

“Iya. Kamu terlalu sering membaca novel romantis ala Harlequin. Itu semua cuma dongeng! Bahwa seorang pria dewasa akan datang memohon sambil berlutut minta maaf, membawakan seikat mawar dan mengatakan kau cantik hari ini. Itu omong kosong! Apa Dony pernah mengatakan satu pujian di depanmu? Apa saja.. Pernah, nggak?”

Wina terdiam. Siska tertawa terbahak-bahak.

“Tentu saja tidak! Boys will be boys. Semua laki-laki sama. Mereka akan selalu jadi anak-anak. Nggak bisa romantis.”

“Nggak semuanya. Papaku orang yang romantis.” Wina menyangkal.

“Itu papamu kan? Bukan Dony! Dan nggak semua mimpimu itu bisa terwujud neeng. Cowok romantis itu mungkin ada. Tapi itu cowok jaman dulu. Jaman bapakmu, bapakku. Jaman sekarang, romantis itu udah hampir punah! Udah dianggap kuno..” Seperti biasa, Siska memberikan pendapat sok tahunya.

Sok tahu mungkin, tapi kalau diresapi terkadang ada benarnya. Itu sebabnya Wina tidak pernah merasa sakit hati dengan kata-kata Siska. Baginya, Siska itu ibarat cermin. Cermin yang mampu merefleksikan gambaran keseluruhan dirinya yang mungkin terlewat dari pandangannya sendiri. Siska memberikan gambaran lain jika selama ini Wina hanya mampu melihat sebagian kecil yang tampak oleh dirinya.

***

Wina berjalan tergesa. Kesal sekali. Bagaimanapun ia berharap kata-kata Siska itu salah. Bahwa Dony tidak seperti yang dikatakan Siska. Bahwa meski sedikit, Dony pasti punya sisi romantis. Menjemputnya saat pulang kuliah, itu romantis kan? Memberikannya waktu bersenang-senang dengan teman-temannya, itu juga romantis kan? Atau Dony sengaja melakukannya karena di saat yang sama ia tengah asyik main playstation bareng Giman dan Tono ya?

Aaarrgghh.. @@#$%%^&*&*(

Mau nggak mau Wina jadi memikirkan yang tidak-tidak. Hilang sudah segala hal baik dan menarik tentang Dony di matanya. Ia benci sekali. Benci pada sikap Dony yang merendahkannya, juga benci pada dirinya sendiri mengapa selalu bisa memaafkan Dony meski ia tahu lelaki itu akan mengulangi kembali sikapnya yang terkadang kasar dan menyebalkan.

Tapi Wina masih mencintainya.

Sejak awal Wina sudah tahu kalau Dony memang berantakan, sedikit kasar dan tidak romantis. Namun sisi lain dari diri Dony juga tak bisa diabaikan. Dony sangat care pada teman-temannya. Ia juga selalu bisa diandalkan. Dony pula yang mendorong Wina untuk lebih percaya pada dirinya sendiri. Dony punya andil cukup besar membuat Wina yang pemalu lebih ekspresif dan berani menampilkan potensi dirinya. Jika Dony tidak memberikan motivasi, mungkin Wina tidak akan pernah menyadari potensi dirinya sendiri untuk menjadi asisten dosen dan kini akhirnya berhasil menjadi seorang dosen pengganti.

Wina teringat sebuah kata-kata bijak yang pernah dibacanya pada sebuah note di salah satu jejaring sosial.

“Orang yang menginginkan seseorang untuk berubah menjadi ‘seperti yang dia inginkan’ sebenarnya hanyalah sebuah keinginan untuk menciptakan gambaran dirinya sendiri pada diri orang lain..”

Jadi sepertinya memang tak perlu alasan dan penjelasan mengapa ia mencintai Dony. Mungkin karena segala sifat dan sikap Dony yang berbeda dengan dirinya yang justru membuatnya lebih menarik. Karena jika mereka memiliki sifat yang sama persis, bukankah hidup justru akan terasa sangat membosankan?

***

Drrt.. drrtt.. drrtt..

Ponsel Wina bergetar. Ditatapnya layar sentuh ponsel bercasing hijau itu. Nama Dony berpendar di sana. Wajah keduanya tengah tersenyum, meluluhkan amarah Wina.

“Win, kamu di mana? Aku nyari kamu kemana-mana,”

Wina terdiam.

“Wiin?”

“Iya.. Aku di rumah,”

“Aku di depan rumahmu..”

“Oh. Ngapain?”

“Kok ngapain? Buka pintunya ya sayaang?” Dony merajuk. Berharap hati Wina nggak berubah keras seperti batu.

Klik.

Pintu rumah Wina menjeblak terbuka. Wina memandang Dony dengan tatapan dingin. Dingin sekali. Dony merasa serba salah. Ia memberanikan diri tersenyum. Senyum kecil, senyum serba salah.

“Mau apa ke sini?” Wina bertanya datar.

“Win, aku.. Aku minta maaf. Maaf untuk semuanya. Untuk kekasaranku, untuk ketidakpekaanku, untuk keegoisanku. Untuk semuanya..”

Wina bergeming. Tak berkata sepatahkatapun.

“Wiin? Kamu mau maafin aku kan? Aku memang bodoh..”

“Iya.”

Dony terperanjat.

“Iya apa?”

“Ya “itu”. Yang kamu bilang tadi.”

“Kalau ‘kamu mau maafin aku’?”

“Bukan. Setelahnya,”

Dony mengingat-ingat kalimatnya.

“Ka-lau ‘a-ku-me-mang-bo-doh’?” Dony menebak.

“IYA,”

“Iya. Aku memang bodoh. Maafin aku ya? Please..?! Syalnya bagus deh. Makasih ya..”

Wina tersenyum kecut. Ia masih kesal pada Dony meski harus diakui ia juga tak tega sebenarnya.

“Win,”

“Apa?”

“Kita baikan kan?”

“Tapi katamu kita putus?”

Dony terperanjat. Wina berubah! Mengapa sekarang Wina jadi seperti ini. Biasanya kalau mereka marahan seperti ini, Wina dengan mudah memaafkannya. Kenapa Wina jadi seperti ini? Apa Wina benar-benar mau putus dari dirinya?

“Kamu nggak serius kan Win?”

“Aku kan bertanya. Tadi kamu bilang mau putus. Jadi kita putus apa nggak?”

“Nggak. Aku cuma emosi.”

“Tapi kamu selalu emosian.”

“Iya,” Dony menjawab lirih.

“Aku nggak bisa kalau begini terus. Aku nggak mau maksain kamu terus bareng aku kalau memang kamu nggak suka. Aku capek harus selalu ngalah. Harus selalu ngertiin kamu sementara kamu nggak pernah mau ngertiin perasaan aku. Aku nggak bisa bareng-bareng sama orang yang nggak yakin sama dirinya sendiri,”

“Tapi Win..”

“Kamu selalu begitu. Emosian. Dikit-dikit putus, dikit-dikit udahan. Kalau mau putus ya sudah!” Wina meninggikan suaranya. Entah mengapa kali ini nada-nada tinggi mendominasi kalimatnya. Ia meluapkan amarahnya.

“Aku nggak mau putus, Win. Serius. Aku baru sadar kalau aku yang selama ini terlalu egois. Kalau kamu mau, kita mulai dari awal lagi ya? Semuanya..” tawar Dony.

“Seperti suratmu.. Aku ingin ngurangin galak dan emosian,”

“Kamu yakin?”

Dony mengangguk dan menjawab mantap, “Iyaa”

“Tapi aku yang meragu,”

Dony terperanjat. Ia tak menduga jawaban Wina memupuskan semua harapannya. Hilang sudah kesempatannya untuk tetap bersama gadis mungil periang yang penuh kasih sayang itu. Manja mungkin, tapi Wina selalu bisa menceriakan hari-harinya. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Selalu belakangan. Kalau duluan namanya pendaftaran :mrgreen:

“Me-ra-gu?” ulang Dony. Ia nggak rela hubungannya dengan Wina harus kandas seperti ini.

“Iya Don. Aku meragu, apa aku sanggup kehilangan kekasih jelek, emosian, galak dan egois seperti kamu!”

Wina tersenyum lebar. Merasa puas berhasil mengerjai Dony. Dan Dony pun melingkarkan lengannya pada leher gadis mungil di hadapannya, mencium sayang kepala Wina.

“Maapin aku ya? I mean it. And you know, what?!  I love you too… and three and four..”

OUCH.

Sebuah cubitan keras mendarat di pinggang Dony. Menghentikan kalimatnya.

-selesai-

305567_445607162172814_83354308_n

Iklan

8 pemikiran pada “Meragu..

  1. Ping-balik: No doubt! | Rini bee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s