“Kamu tetep mau pergi?” Wina berdiri di sampingku sambil berkacak pinggang.

Aku diam saja. Masih asyik dengan baju-baju yang kupilih untuk kugunakan, dengan tas ransel terbuka di atas tempat tidur. Tanpa kujawab aku yakin ia bisa menyimpulkannya sendiri. Ia tidak bodoh.

“Dony! Dengarkan aku..” ia melipat kedua tangannya di depan dada. Aku meliriknya sekilas. Menatap tajam ke arahnya.

“Kamu mau apa?” Aku menatap benci padanya. Aku muak padanya. Seharusnya ia tidak membentakku seperti ini. Siapa dia?

“Kamu tetap akan pergi?” ia bertanya. Menurunkan nada suaranya.

“Ya!” justru aku yang kali ini meninggikan suaraku. Pertanyaan retoris. Tentu saja aku akan pergi. Aku sedang berkemas!

“Meski aku memohonmu untuk tidak pergi?” pintanya memelas.

Apa-apaan ini? Ia selalu begini.

“Kamu ini kenapa sih? Kenapa selalu seperti ini? Kamu tahu aku sudah merencanakan ini semua jauh-jauh hari? Tak bisakah kau biarkan aku melakukan apa yang kusuka?”

Wina terdiam. Bibirnya sedikit terlipat. Khas anak mama. Selalu ngambek kalau keinginannya tak diluluskan. Selalu menuntut segalanya sesuai yang dia inginkan!

Apa yang kamu cari dari Wina? tanya teman-temanku.

Ya, Wina dan aku memang bagai bumi dan langit. Dandanan Wina yang feminin bertolak belakang dengan gaya serampanganku. Kalau Wina mengajak aku menghadiri undangan pernikahan. Aku pasti menolaknya. Aku tak bisa menyesuaikan diri dengan baju batik dan celana panjang dengan sepatu resmi yang disodorkannya untukku. Sepatu yang akhirnya berguna saat aku diwisuda.

Wina suka hal-hal yang manis dan romantis. Bagaikan putri dari negeri dongeng. Entah apa yang dilihatnya dariku. Dan mimpi apa aku dulu memintanya jadi kekasihku. Bagaimanapun aku pernah mencintainya.. Dan mungkin masih mencintainya asalkan dia tidak berkacak pinggang dan membentakku seperti ini!

Aku meneruskan kegiatanku. Memastikan tak ada barang yang terlewat. Menutup resleting tas ranselku dan keluar dari kamar kost-ku. Membiarkan Wina terdiam.

Sedetik.. dua detik.. tiga detik..

Aku yang mengalah! Aku yang harus mengalah!

Segera kuputar tubuhku dan masuk kembali ke dalam kamar.

“Kamu masih mau di sana? Aku mau pergi.” Dan Wina terisak sambil melangkahkan kaki mungilnya keluar kamar kostku.

“Kamu jahat..” ia menyerangku. Menyerang harga diriku. Aku galak, mungkin. Kuakui aku keras padanya. Tapi aku tidak jahat!

“Kamu mau apa siiih Wiin? Melarangku lagi? Merayu-rayu aku dan memohonku untuk tidak pergi?? Seperti yang dulu-dulu itu? Membuatku merasa bersalah membatalkan janji dengan teman-teman pencinta alamku? Membuat mereka menungguku bertengkar denganmu dulu? Membuatku harus kesal baru kau biarkan aku pergiiii.. Begituu? Atau lebih baik kita putus saja ya?” aku luapkan semua. Aah.. Apa-apaan sih aku ini. Mengenal Wina membuatku menjadi terlalu terbuka. Ini bagus. Tapi juga jelek untukku. Aku jadi pengeluh, meski kata Wina meluapkan emosi itu terkadang juga diperlukan. Tapi kenapa aku jadi merasa bersalah?

Ting.. ting..

Ponselku berbunyi. Bara mengabarkan bahwa keberangkatan kami ditunda sampai 4 jam ke depan. Ada beberapa hal yang harus dilakukannya.

Kuketikkan kalimat, “Oke, bro!” untuk membalas smsnya.

Pandanganku beralih pada Wina. Wajahnya pucat bersimbah air mata. Aku merasa sangat bersalah. Apa aku memang jahat seperti pikirannya? Ya Tuhan..

Aku mendekat padanya. Memintanya duduk di kursi meja belajarku. Membiarkan pintu kost tetap terbuka, menghindari tatapan penghuni kost lain yang curiga. Bagaimanapun, aku dan Wina belum resmi menikah. Dan kamar kost yang kusewa dengan Giman ini memang biasa untuk menerima tamu siapapun. Jadi, jika nanti Giman ingin masuk atau mengambil sesuatu dari dalam kamar, ia tidak akan sungkan untuk melakukannya.

“Wiin, maafkan aku ya? Aku.. Aku nggak bermaksud kasar sama kamu. Tapi, ah pokoknya aku minta maaf ya?” pintaku lembut sambil berlutut di depannya.

Aku ini memang bodoh. Baru bisa berkata lembut setelah bicara kasar dengan seenaknya. Egois sekali. Ya, aku memang egois. Seperti yang pernah diucapkan Wina dulu.

Gadis itu sudah bisa mengendalikan dirinya. Isak tangisnya sudah menghilang. Ia mengusap air matanya. Tak membiarkan setetespun air mata tersisa di pipi dan pelupuk matanya. Lalu bangkit berdiri, dan membuka tasnya. Ia meraih sebuah benda dari tas mungilnya. Mengeluarkannya dan menyerahkannya padaku.

“Aku tahu aku tak bisa mencegahmu pergi. Aku tahu kamu pasti tetap akan pergi. Iya, aku memang menyebalkan. Asal kamu tahu, kamu jauuh lebih menyebalkan!” Ia langsung keluar dari kamar kostku.

“Semoga harimu menyenangkan!” Ia berteriak.

Arrgghh.. @#$%^&***

SURP..

Teriakan itu terhenti. Wajah-wajah penuh tanda tanya tetiba memenuhi kamar kostku. Ada Bara, Leo, Bima, Bayu, dan Tono. Juga ada Giman dan Dania. Teman-teman kampusku yang masih sering bertemu karena hobby kami. Teman-teman sesama pencinta alam. Mereka masuk tanpa diminta. Entah sejak kapan mereka berdiri di luar kamar kost.

Bara memandangku heran. Juga Giman, Bayu, Leo. Yang lain aku nggak melihatnya. Mungkin semua memandangku penuh kebencian.

“Elu kenapa siih Doon?! Wina tuh udah nyiapin ini sejak sebulan kemaren. Elu kekeuh bener ngajak berantem. Dia cuma pengen ngasih loe surprise tahu,” Dania si tomboy menjawab semua pertanyaan dalam benakku.

Kue ultah, topi-topi kertas aneh di kepala sahabat-sahabatku. Lilin di atas kue dan bungkusan yang diserahkan Wina sebelum ia pergi.

kue ulang tahun

Sebuah syal untuk menghangatkan leher! Ia tidak bermaksud melarangku pergi. Secarik kertas di dalam bungkusan itu mendorongku untuk membacanya.

“selamat ulang tahun sayang, semoga panjang umur, sehat selalu dan tetep jadi yayangku yang terbaik. oya, semoga semakin dewasa dan sedikit ngurangin galaknyaa, gak gampang emosian.

Ya.. biarlah egois dikit tapi jangan banyak-banyak. mudah-mudahan semua urusannya dimudahkan dan dilancarkan..

Happy birthday, honey..!

and you know what??

Biar kamu galak, jelek dan egois…

I DO LOVE YOU, yes beib.. I love you. That’s it..!”

 

Tetiba aku merasa bersalah. Ada yang harus aku lakukan! Aku harus menemui Wina. Ya.. ada yang harus aku sampaikan…

Bahwa aku juga mencintainya..

Yes beib, I love you too, no doubt!

-to be continue-

Lanjutannya di sini

beautiful-couple-happy-hate-love-Favim.com-218826

Iklan

11 pemikiran pada “No doubt!

  1. hehehe.. kayaknya banyak yang ngalamin gini ya mbak. sebenernya saling sayang ya 😀
    memang komunikasi dan saling pengertian itu juga penting 🙂

  2. Ping-balik: Meragu.. | Rini bee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s