I can fly


wpid-yuuk.jpg

Ding.. ding.. ding.. ding..

Telepon genggamku berbunyi. Menandakan ada sebuah pesan masuk. Segera kubuka buku catatanku dan mulai menuliskan pesan yang tertera pada layar ponselku. Aku menghela nafas panjang. Menutup kembali buku catatanku dan meletakkan benda mungil seukuran pergelangan tanganku.

Raisya melirikku. Lalu meneruskan kembali pekerjaannya. Menyalin materi perkuliahan dari buku catatanku yang belum sempat ditulisnya saat kuliah tadi. Tak lama, ponselku kembali berdering. Aku melihat layarnya dan kembali meletakkannya. Raisya menangkap rasa kecewa pada raut wajahku.

“Sms iseng lagi?” tanyanya.

Aku mengangguk. Ya, semenjak aku memasukkan nomor telepon-ku pada sebuah harian pagi di kotaku, ponselku jadi keranjingan sms. Ada sms iseng, sms kenalan, cacian, puisi gombal dan macam-macam yang lain.

Bagaimanapun aku telah memprediksikannya. Tentunya memasukkan nomor telepon pada sebuah harian pagi bukan tanpa alasan. Aku sudah kehabisan ide. Aku terpaksa, dan juga ini adalah cara satu-satunya untuk mendapatkan responden pada penelitianku. Tugas akhirku.

“Kamu sih aneh-aneh, memangnya ada orang yang operasi kelamin lalu mau diinterview?!” suara Dara mengagetkanku.

Aku tak menyangka ia akan berkomentar seperti itu. Aku terdiam. Dan Dara seperti mendapatkan kesempatan meneruskan komentarnya. “Bagaimanapun, penelitianmu itu bunuh diri! Nggak akan ada orang yang mau. Satu-satunya yang kita tahu melakukan operasi kelamin itu ya si D*rc*!”.

Raisya menatapku penuh arti. Bagaimanapun, komentar Dara cukup banyak mempengaruhiku. Aku semakin merasa ciut. Ah, apa benar aku bunuh diri?

***

Dua tahun kemudian

“Selamat ya San! Kamu mendapatkan cumlaude. Orisinalitas penelitianmu juara! Di kampus kita belum pernah ada yang meneliti tentang operasi kelamin….”

Transexual,” aku membenarkan kata-kata Mia.

“Eh iya, itu maksudku. Transexual.” Gadis cantik itu tersipu.

Aku bahagia! Sangat bahagia. Bagaimanapun penelitianku yang kulakukan tak kurang dari 18 bulan sejak awal penelitian ini membuahkan hasil yang memuaskan! Aku mendapatkan nilai A. Tak henti-hentinya aku bersyukur.

“Terima kasih ya Allah, atas segala nikmat-Mu. Atas segala kemurahan-Mu..”

 

Seketika segala suka duka penelitian berputar-putar di benakku. Aku teringat kata-kata Raisya saat menguatkan aku ketika aku hampir menyerah kalah.

“San.. Tetep semangat ya! Nggak ada yang nggak mungkin. Semua mudah bagi Allah. Jangan pedulikan kata-kata yang membuat pesimis. Kita kan nggak bergantung sama manusia. Serahkan semuanya sama Sang Pemilik Hidup. Oke, San?”

Dan aku mengangguk mengiyakan. Orang yang pertama kali akan kupeluk selepas aku dinyatakan lulus dalam sidang skripsi ini adalah Raisya.

Terima kasih Raisya. Engkau orang pertama yakin bahwa aku bisa melakukan penelitian ini. Kau yang membuatku percaya bahwa aku bisa terbang tinggi. Meraih predikat cumlaude.

Ya Raisya, keberhasilanku ini karena engkau percaya akan impianku. Kau mendorongku untuk terbang menggapainya.

Because of you, I believe I can fly..

Iklan

2 pemikiran pada “I can fly

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s