Kenangan


Perempuan itu duduk di sebelahku. Perempuan berkerudung hijau dengan baju lengan panjang serta rok lebar berwarna senada. Perempuan paruh baya yang kelihatan lebih muda dari usianya. Ia tengah bercerita padaku. Bercerita tentang masa lalu. Tentang mendiang suaminya dan juga tentang anak-anaknya yang kini telah beranjak dewasa. Sesekali senyum tersungging di bibirnya. Senyum kebanggaan.

Meski ia tak mengucapkannya, aku bisa melihat raut bahagia saat ia bercerita tentang keenam anak-anaknya.

Si sulung dengan bisnisnya yang semakin berkembang pesat, juga anak kedua dan ketiganya yang kini menjadi seorang pendidik, lalu anak-anaknya yang lain dengan kehidupannya masing-masing. Pun dengan si bungsu yang memiliki nilai akademik yang membanggakan. Sangat membanggakan.

Cita-citanya tercapai sudah. Agar anak-anaknya lebih terpelajar dan mengenyam pendidikan lebih tinggi darinya. Keberhasilan anak-anaknya dalam pekerjaan, cucu-cucu yang menyejukkan mata, serta para menantu yang mencintainya hanyalah buah dari apa yang telah ditaburnya.

Cinta. Ia memiliki cinta luar biasa yang tak terbatas.

Tak hanya untuk keenam anaknya, kelima menantunya dan ke dua puluh dua cucunya. Juga pada kerabatnya dan semua orang yang dikenalnya. Pada siapa saja.

Perempuan itu menghentikan ceritanya. Menghirup dalam-dalam teh pahit yang diseduhnya sejak pagi. Aku mengulurkan sepiring kue basah ke arahnya. Mempersilahkannya. Memberikan waktu sesaat untuknya mengambil kue yang disukainya, lalu setelahnya mengarahkan piring yang sama pada kedua balita di sebelah kiri dan kananku.

Si bayi tersenyum, kakaknya pun tersenyum. Lalu keduanya bergandengan tangan dan berjalan menjauhi kami. Membiarkan kami melanjutkan perbincangan kami yang sempat tertunda.

Perempuan itu kembali meneruskan ceritanya. Kali ini ia mengingat mendiang suaminya. Bagaimana lelaki hebat itu mengajarkan banyak pelajaran hidup. Menasehatinya dan memberikan pesan-pesan kepadanya semasa hidup. Pesan yang dahulunya hanya didengarkan dengan hati dan direspon dengan anggukan kepala. Pesan yang baru diresapi manfaatnya sepeninggal sang lelaki.

***

Aku mendengarkan dengan seksama. Nasehat-nasehatnya. Petuah-petuahnya. Wejangan-wejangannya. Mengingatkan aku pada ibuku sendiri. Ketikaย  ibu menuturkan nasehat-nasehatnya untukku. Ada persamaan mendasar dari keduanya. Bahwa mereka sangat mencintai keluarganya, dan mendedikasikan hidupnya untuk keluarga. Tapi semua ibu pasti melakukan hal yang sama kan?

Perempuan itu meneruskan ceritanya. Cerita yang sama yang mungkin akan kembali diceritakannya untukku. Cerita yang sudah belasan kali kudengar. Entah mengapa, tak sedikitpun aku berniat menyela ucapannya untuk berkata, “Ibu sudah menceritakan hal itu pada saya. Berkali-kali bahkan.”. Bagaimanapun semua orang tua mungkin akan melakukan hal yang sama. Mengulang cerita demi cerita. Kenangan demi kenangan. Memutarnya kembali seperti kita memutar player vcd dan menikmati film favorit kita. Selalu dan selalu.

Itulah kenangan.

Siapa yang bisa mengalahkan kekuatan sebuah kenangan? Dan jika seorang perempuan mengenang sesuatu, ia akan menyimpannya dalam hati dan ingatannya.

Untuk selamanya.. ๐Ÿ™‚

***

Lelaki berkacamata oval itu mendekat pada kami, meraih tangan perempuan renta di sebelahku. Menciumnya dengan hormat. Aku menyambutnya dengan senyum. Ia membalas senyumku lalu kucium hormat tangannya. Bayi kecil dalam gendongannya, yang ditemuinya di depan rumah bergelayut manja dalam lengan kekarnya.

Ia mengambil posisi duduk di sebelah perempuan renta itu. Mengambil alih posisi dudukku. Aku berdiri untuk membuatkannya secangkir kopi hitam. Dan terdengarlah suara percakapan.

“Mamah sudah dari tadi?” tanyanya.

“Ah, nggak. Baru saja”

Dan dari bibir mungilnya cerita pun kembali mengalir. Cerita-cerita tentang masa lalu, tentang kenangan, tentang cinta. Cerita yang akan selalu diceritakannya pada kami. Cerita yang membuat kami tersenyum. Karena dengan mendengarnya bercerita kami tahu, kami akan selalu dalam ingatannya.

Teruntuk ibu, yang telah melahirkan dan membesarkan dengan penuh cinta seorang lelaki hebat.

Terima kasih, telah mengajarkannya tentang cinta. Dan cintamulah yang kini membuat lelaki berkacamata oval itu bisa mencintaiku dan kedua putri kami dengan penuh kasih.

Untitled

Iklan

8 pemikiran pada “Kenangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s