“Diiiik!”

Mama memanggilku. Aku mendekat dan mencari asal suara. Senyum tersungging di bibirnya. Mamaku. Dengan bros di tangan kanan dan sebelah tangan yang lain menggenggam jilbab birunya, aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan. Menyematkan bros itu di bagian samping jilbab birunya. Memastikan jilbab itu tetap rapih, mulai bros itu disematkan sampai nantinya bros itu dilepaskan kembali.

Mama menatapku, lalu memintaku duduk di sampingnya.

Seminggu yang lalu seorang pria penjaga hatiku datang bersama keluarganya. Memintaku menjadi istrinya. Gayung bersambut, keluarga besar kami menyambut kedatangannya dengan tangan terbuka. Bapak dan mama memberikan lampu hijau, menyambut baik niat tulusnya mempersuntingku. Sebentar lagi kami akan melangsungkan pernikahan.

Mama menarik nafas panjang. Sebelum akhirnya mulai bersuara.

Beliau memberikan petuahnya, memberikan wejangan kepadaku. Katanya, sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri, maka aku harus (belajar) menjadi seorang istri yang shalihah. Calon suamiku tinggal di kota yang berbeda dengan tempat tinggal kami saat ini, maka setelah menjadi istrinya akupun akan mengikutinya tinggal di kota yang sama dengannya, jauh dari kedua orang tuaku.

Mama berpesan jika suatu hari nanti kamu ingin datang mengunjungi mama, mintalah baik-baik pada suamimu. Namun jika ia tidak (belum) mengizinkan, turuti kemauannya. Jangan membantahnya, karena bisa jadi ia belum mengizinkanmu karena ia tidak ingin kamu pergi sendirian. Ia hanya memintamu menunggunya, itu tak lain karena ia mencari waktu yang tepat untuk dapat mengantarmu menemui (mengunjungi) kami.

Mama menghentikan ucapannya sesaat. Membiarkan aku menyerap ucapannya untuk kemudian memahaminya dalam hati. Aku mengangguk dan tersenyum kepadanya.

Mama pun memberikan wejangannya yang lain kepadaku.

Cintailah ibu mertuamu seperti engkau mencintai mama. Pelajari apa yang menjadi kesukaannya, dan ingatlah. Jika kau datang menemuinya, maka bawakanlah makanan kesukaannya tersebut. 

Aku mengangguk dan mengingat pesannya dalam hatiku. Selalu mengingatnya dan menerapkannya tahun demi tahun mengarungi bahtera rumah tangga. Sampai hari ini.

***

Kutatap tampilan wajahku dalam cermin. Menyematkan bros pada jilbab pink yang kukenakan. Gadis kecil berlesung pipit itu tersenyum padaku. Katanya, “mama sudah siap?”

Aku mengangguk. Tangan kanannya meraih tanganku. Menggandengku, lalu sebelah tangannya yang lain menggamit tangan renta mamaku.

Kelak.. aku akan memberikan wejangan yang sama untuknya. Pesan yang pernah disampaikan mama padaku. Ya, suatu hari nanti. Ketika ia telah beranjak dewasa dan menemukan penjaga hatinya.

<
anugerah terindah yang pernah kumiliki.. 🙂

Teruntuk mama, anugerah terindah yang kumiliki..

Selamat hari ibu ma, meski bagiku hari ibu sesungguhnya adalah tanggal 31 Oktober. Hari dimana engkau berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan aku.. 😀

Iklan

11 pemikiran pada “Pesan mama

  1. Ping-balik: Kenangan | Rini bee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s