Percuma


Kemajuan teknologi itu harusnya untuk memudahkan manusia kan? Makanya jaman sekarang kerjaan ibu rumah tangga nggak seberat jaman dulu. Misalnya aja masalah baju kotor. Sekarang ada mesin cuci. Jadi kita bisa menghemat banyak waktu untuk melakukan kegiatan lain. Ga melulu berkutat dengan sikat, papan penggilesan, air dan detergent. Tinggal masukkan baju kotor, detergent/sabun cair, tekan tombol dan biarkan mesin cuci melakukan tugasnya.

Ato masalah baju lecek. Tinggal masukkan laundry, eh maksudnya tinggal ambil setrika dan colokkan sambungan listriknya. Gosok dengan tingkat panas yang bisa disesuaikan. Ga ribet lagi nyari arang untuk mendapatkan panas yang sesuai keinginan. Belom lagi kalau kepanasan. Ato baju justru kotor terkena abu sisa pembakaran arang.

Itu baru masalah baju. Belom lagi urusan dapur. Ada kompor gas atau malah kompor listrik yang didesain sedemikian rupa dengan kecanggihan teknologi dan diharapkan memberikan kenyamanan bagi penggunanya.

Nah sekarang saya beralih pada teknologi komunikasi. Jika dulu handphone hanya berfungsi untuk menelepon dan menerima panggilan telepon, lalu bertambah bisa digunakan sms. Semakin lama handphone dilengkapi dengan kamera, lalu games, tv dan aplikasi lainnya. Termasuk jaringan internet yang menghubungkan dengan social network. Semua bisa dilakukan ‘hanya’ dengan menggenggam benda mungil segenggaman tangan dan menekan tombol-tombol. Tentu saja dengan mengatur jaringan internet terlebih dahulu serta memastikan jumlah pulsa yang memadai. 😀

Seharusnya semua jadi mudah kan?

Dan kemajuan teknologi pun mau tak mau akhirnya mengundang rasa ingin tahu anak-anak. Apalagi aplikasi games yang bejibun mengundang mereka untuk turut mencobanya. Fungsi ponsel beralih jadi mainan alternatif bagi anak-anak. Lalu fungsi komunikasinya kemana?

Ini yang bikin saya gregetan. Nggak sekali dua kali saya ditelepon oleh para balita. Anak dari teman-teman saya. Tentu saja tidak dengan sengaja. Tapi hasil pencet-pencet ponsel emaknya. Udah jelas bedanya kan? Kalau kita jawab “halo/assalamu alaikum” yang jawab suara bayi berceloteh. Hahaha
Kalau sudah begitu biasanya saya tutup lalu kirim pesan ke teman/sahabat saya, kalau anaknya baru saja menelepon saya. 😛

Tapi itu masih mending. Ada lagi kejadian dengan teman saya yang memiliki anak lebih besar. Sudah bisa baca/tulis. Dan ini yang akhir-akhir ini bikin saya sewot.

 

Ceritanya, saya butuh banget menghubungi sahabat saya ini. Ditelepon gak bisa. Whatsapp dan sms ga ada reaksi. Sekalinya bisa nyambung diangkat anaknya. Udah dipesenin supaya menyerahkan hp pada sang bunda nggak dilaksanakan. Buktinya sampai dengan hari ini nyaris 2 minggu saya gagal terus untuk bisa berbicara dengan sahabat saya itu.

Kesel saya!

wpid-4444-cemburu.jpg

Ditelpon, sms, whatsapp ga ada satupun yang bisa.
Untuk apa punya hp bagus kalo ga bisa dihubungin?

Percuma!

 

Ah pokoknya saya masih kesel. Gimana coba kalau kabar yang saya sampaikan ini urgent pisan? Antara hidup dan mati. *halaagh

Makanya sebisa mungkin saya gak mau anak-anak saya menggunakan hp saya. Kalaupun sesekali main games harus dalam pengawasan saya. Itupun jarang. Menghindari kejadian yang saya alami terulang pada kerabat yang hendak menghubungi saya.

Karena bagaimanapun, ponsel bagi saya tetap alat komunikasi. Dan kalau gak bisa berfungsi sebagaimana mestinya itu namanya percuma.
Iya. Percuma.
P.E.R.C.U.M.A

Iklan

2 pemikiran pada “Percuma

  1. dulu pas jadi mahasiswa lebih sering laundry, sekarang lebih happy cuci sendiri 😐
    karena tau bagian yang kotor yang mana 😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s