Alhamdulillah. Sudah 5 tahun saya berhijab. Tepatnya pada bulan Maret 2007. Tepat di hari suami saya (waktu itu masih calon) diwisuda. Tanpa proses ‘pencarian jati diri’ yang terlalu rumit, hati kecil saya berkata.

“Saya mantap berjilbab. Mulai hari ini. Pun hari-hari setelahnya dan besok-besoknya lagi.”

Iya. Begitu saja.

Waktu itu, suami saya -yang memang kuliah dan berdomisili di Bandung- meminta izin pada kedua orang tua saya agar saya diperbolehkan untuk mendampinginya saat diwisuda. Ayah dan ibu saya yang memang kebetulan ada acara di Bandung -dan lagi-lagi kebetulan- berdekatan waktunya dengan acara wisuda calon suami saya, akhirnya membolehkan saya ke Bandung karena perginya didampingi beliau berdua.Β Jadi saya, bapak Β dan ibu saya serta seorang keponakan pun akhirnya berangkat ke Bandung.Β Saat suami saya meminta izin (lagi) untuk mengajak saya pada acara wisuda (sebelumnya calon suami sudah datang ke Surabaya jauh-jauh hari untuk meminta izin) setibanya kami di Bandung, ayah saya pun mengizinkan, dengan syarat meminta suami memperkenalkan keluarga calon suami saya dengan cara datang berkunjung ke tempat kami menginap di Bandung. (Saya tinggal dan dibesarkan di Surabaya). Intinya sih supaya bapak saya tahu, yang mengajak putrinya itu anaknya siapa? Tinggal dimana? dsb. Kebetulan sahabat suami saya menikah dengan sepupu saya. Jadi acara ‘perkenalan’ pun berjalan cukup mulus. :mrgreen:

Eh saya kan mau cerita tentang jilbab ya? Ya sudah, kita kembali ke obrolan awal. Tentang jilbab.

Singkat cerita, jadilah saya berangkat ke acara wisuda mengenakan jilbab. Inilah penampakan saya di hari pertama saya mengenakan jilbab.

S
My 1st hijab.. πŸ™‚
SANYO DIGITAL CAMERA
smile πŸ™‚

Hehehe.. Masih berantakan ya? Ah. Pokoknya begitu. Nah, setibanya di Surabaya, saya dihadapi oleh masalah tentang baju untuk ke kantor. Nggak terlalu banyak masalah sebenarnya. Mengingat saya kerja di salah satu bank swasta dan di bagian back office pula. Jadi saya nggak diwajibkan memakai seragam. Baju blazer pun lengan panjang kan? Jadi tinggal menyesuaikan. Singkatnya ‘cuma mengganti rok mini’ (itupun ngga pernah saya pakai, saya lebih nyaman mengenakan celana panjang) dengan celana panjang dan mengenakan jilbab di atas kepala saya.

Semudah itu.

Tapi saya nggak pernah memikirkan apa HRD akan keberatan dengan penampilan baru saya. Sungguh, saya hanya berdoa semoga dimudahkan dan dilancarkan. Dan alhamdulillah, semuanya memang dimudahkan. πŸ™‚

Ini penampakan baru saya saat ngantor. Kebetulan itu difoto pas ada acara gathering, jadi ya.. Nggak pakai blazer. :mrgreen:

Me n 'celle

Nah kalau yang ini penampakan saya dalam seragam. Setelah saya dipindah ke depan. Jadi frontline..

office.jpg2edit
at the office

Setelah ngubek-ngubek file di komputer (niat bener :mrgreen:), sayangnya saya ngga menemukan foto saya (saat berada di kantor) yang lain. Mungkin ada di Surabaya. Atau emang ngga ada yang moto.. :D. Ah pokoknya begitu. Nah sekarang beralih ke foto narsis saya di awal saya mengenakan jilbab bersama sahabat, (calon) suami maupun sendirian. Foto waktu belum menyandang gelar Bu Agus. πŸ˜€

rinibee editt
me and my hijab

Nah yang ini foto ketika saya sudah menikah. Sudah menyandang status baru sebagai pengangguran perempuan rumah tangga. Jadi bu Agus sekaligus mamanya Syifa dan Reina.. πŸ˜€

445
jilbab lebar πŸ˜€

Dan kalau teman-teman perhatikan, semakin ke sini, saya lebih menyukai jilbab lebar. Bukan. Bukan sok alim. Tapi jujur saja selain melindungi lekuk tubuh yang termasuk aurat perempuan, jilbab lebar juga membuat saya lebih tenang. Rasanya aman dan nyaman.. πŸ™‚

Nggak khawatir akan pandangan nakal yang menusuk. Iya, sebelum berhijab saya sering melihat pandangan laki-laki yang tajam dan membuat tak nyaman. 😐

Apalagi sejak menikah Juli 2008 yang lalu, alhamdulillah saya langsung mengandung. Dan di bulan Maret 2009 saya dikaruniai seorang putri yang mungil. Selang 2 tahun 3 bulan kemudian, di bulan Juni 2011, putri kedua saya lahir. Dan alhamdulillah keduanya tumbuh menjadi anak sehat wal afiat. Dan jilbab lebar ternyata juga berfungsi ganda.

1. Jilbab lebar bisa membantu melindungi anak-anak dari terik matahari jika saya kelupaan membawa payung. Ya. Tinggal masukkan saja si kecil dalam jilbab. :mrgreen:

2. Jilbab lebar juga bisa digunakan sebagai pengganti Nursing Cover atau Breast Feeding Cover. Ya, tinggal masukkan sang bayi ke dalam jilbab saja. Lalu berikan ASI.

Hehehe.. Praktis kan?

Nursing Cover
Nursing Cover

Itu sedikit cerita saya tentang hijab. Bagaimana denganmu?

Iklan

6 pemikiran pada “Jilbab lebar

  1. Wah…..riwayatnya lengkap ama foto mba πŸ™‚ waktu pertama kali pake, ngak kepikiran foto hehe, alhamdulillah mulai berhijab sejak kelas 2 SMA πŸ™‚ lingkungan sangat mendukung, dan sampai sekarang belum ada masalah karena penampilan saya yang berhijab. πŸ™‚

    1. Hehehe.. kebetulan pas pertama pakainya karena aku ikut wisuda itu. Jadi ada sesi foto-foto.. πŸ˜‰

      Bukan disengaja.. Hehehe

      Alhamdulillah ya Ushi, semua dimudahkan..

      Seneng deh liat foto Ushi yang bisa berbagai macam gaya berjilbab.. πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s