Mengenalmu belasan tahun tak cukup untukku meraba isi hatimu. Tak cukup membuatku memahami isi hatiku. Terkadang diam memang lebih baik. Karena ketika salah bicara, maka kita tak dapat dengan mudah menarik ucapan kita.

Hati terlanjur tergores, luka terlanjur tertoreh. Dan ingatan akan kata-kata yang menusuk akan terus membekas. Teringat bahkan ketika hari berganti dan tahun bergulir. Tak akan ada yang pernah tahu sampai kapan ingatan tak menyenangkan itu akan terus dikenang.

Aku dan kamu. Bersahabat tanpa pernah menghitung hari. Membiarkan waktu mengukuhkan kita sebagai teman sejati tanpa perlu mengumbar dan menjanjikan apa-apa. Waktu akan menguji segalanya. Bahwa sebuah ketulusan akan membawa kita pada persahabatan yang indah.

Diam itu (mungkin) emas. Membiarkan kau dengan sendirinya akan membagi derita dan ceritamu seperti yang selama ini aku lakukan.  Aku tak akan memaksamu bercerita jika bagimu berbagi itu sama saja membawamu pada sebuah tempat tak aman bernama keterpaksaan. Bercerita  itu seharusnya membuatmu nyaman dan berbagi itu seharusnya membuat hati bahagia. Jika keduanya tak kau dapatkan maka aku tak akan pernah bisa memaksamu.

Sempat terselip tanya dalam benakku. Kapan waktu yang tepat bagimu membagi cerita padaku. Kapan kau akan merasa nyaman ‘membagi kisah’mu padaku. Apa aku tak sungguh cukup pantas menjadi teman berbagi. Apakah memang persahabatan ini hanya satu arah?

Dan semuanya tak mampu aku sampaikan. Diam mungkin memang emas. Karena ketika kutanyakan hal itu mungkin akan menorehkan luka mendalam di hatimu. Dan aku tak sampai hati untuk menanyakannya. Meski kekhawatiran terbesarku adalah apa kau sanggup menanggung bebanmu sendirian sedangkan aku selama ini membaginya (bebanku) bersamamu.

Meski tak seluruhnya, namun harus kuakui, bercerita dan menumpahkan perasaan yang mengganjal sedikit membuatku merasa lebih lega. 🙂

***

Berbagilah. Berceritalah. Sampaikan perasaanmu dan tumpahkan emosimu.

Meski itu hanya dengan menulis. 

***

Dan akhirnya kau mulai menulis. Membuat sebuah catatan harian tentang kegiatanmu. Menumpahkan (meskipun sedikit :mrgreen:) perasaanmu. Dan kau tahu. Itu melegakan(ku).

Setidaknya aku tak lagi menerka-nerka. Aku bisa membaca ceritamu dan memahami sedikit perasaanmu selama ini.

Terima kasih. Untuk membaginya. Meski tak secara lisan. Membiarkanku menjadi salah satu pembaca ceritamu itu sudah cukup. Membiarkan aku untuk lebih mengenalmu. Melalui tulisanmu.

Menulis itu, melegakan kan?

Setidaknya buat saya.. 😀

***

Cat:

Gambar nemu di sini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s