Untuk malam ini saja..


“Happy anniversary, sayang..” sebuah kecupan lembut menyentuh leherku dan membuatku terperanjat. Belum sempat aku menenangkan debar jantungku tangan lembut Bryan merangkul pinggangku. Aku memejamkan mataku. Ah.. buru-buru aku melangkah maju dan melepaskan pelukannya. Bryan terkejut.

“Sayang.. jangan sekarang,” tolakku. Lalu buru-buru melanjutkan ucapanku. “Gimana kalau bi Inah melihat,” aku memberikan alasan.

Bryan tersenyum. Lalu menyerahkan sekuntum mawar merah kepadaku. Aku tersenyum menerima hadiah manisnya. Lalu ia buru-buru beranjak pergi.

“Aku berangkat, sayang. Sampai jumpa nanti malam ya..” Ia memberikan kode dengan mengedipkan sebelah matanya. Aku bertanya dalam hati. Ada apa ini?

Aku menatap mawar merah dalam genggaman tanganku dan menemukan selembar kertas yang menjawab pertanyaan dalam benakku. Bryan mengajakku makan malam di restoran favorit kami.

***

 

Jam delapan malam. Aku menanti Bryan sambil meneguk minuman bersoda di gelasku. Kulirik ponsel berharap menemukan jawaban mengapa Bryan terlambat tak kurang dari tiga puluh menit.  Biasanya ia datang lebih awal.

Mataku menyapu ruangan berharap menemukan lelaki jangkung bermata biru di antara pengunjung restoran dan di sudut ruangan aku menemukan sepasang mata yang seketika membuat jantungku berdetak lebih kencang. Mata itu. Sepasang mata yang selalu mampu membiusku. Aku tak melepaskan pandangan mataku darinya. Dan sang pemilik mata pun melakukan hal yang sama. Sama sepertiku, ia sepertinya tak menduga bahwa ketika kedua mata kami bersiroboh akan menghasilkan energi yang maha dahsyat seperti ini.

Aku menemukannya. Aku menemukan lagi mata teduh itu. Mata coklat dengan kacamata persegi yang selalu melindunginya dari tatapan-tatapan perempuan yang selalu membuatku cemburu. Jauh belasan tahun yang lalu.

Separuh hatiku ingin mendekatinya dan mencari jawaban pada mata indah itu. Namun sebagian diriku yang lain tetap pada kesadarannya. Hingga seorang perempuan bergaun hijau tua memaksanya mengalihkan pandangan mata coklat itu dariku. Tepat saat Bryan mengucapkan permohonan maafnya padaku.

“Maafkan aku sayang. Hey, apa kamu menangis?” Bryan terlihat sangat bersalah.

“Maaf ya. Kuharap tiramisu kesukaanmu bisa sedikit mengobati rasa sedihmu?” harapnya.

Aku menatapnya nyaris tak berkedip.

 

Ah sayang.. Seandainya kau tahu tak ada tiramisu manapun yang bisa mengobati kesedihanku hari ini. Tidak ada. Setidaknya untuk malam ini. Maafkan aku sayang.. 

“Tentu saja. Tiramisu dengan porsi besar ya..” candaku.

 

-selesai-

Iklan

6 pemikiran pada “Untuk malam ini saja..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s