Vivi, aku mencintaimu..


Dia selalu jadi yang terindah. Selalu. Setidaknya itu bagiku. Bagaimanapun juga aku telah mencintainya sejak pertama kali aku melihatnya. Dari caranya menatapku pun aku tahu ia menyayangiku.

“Sudah siap semua Vi?” tanya bunda.

Vivi menatap bunda. Tersenyum sambil mengangguk. Lalu direngkuhnya badan mungil bunda. Mendekapnya erat dalam pelukannya seakan tak ingin melepaskan.

“Bunda ikhlas kan kalau Vivi berangkat ke Jakarta?” dan bunda mengangguk. Meski air mata bercucuran di pipinya.

Aku menatap keduanya dengan perasaan sedih. Bagaimanapun juga kami mencintai Vivi. Vivi segalanya bagi kami. Kini Vivi menatapku lekat. Pandangannya menusuk jantungku.

“Dan kau Ronny..” tuturnya lembut. “Jangan bilang kau tak rela aku pergi!” tegasnya. “Titip bunda untukku ya,” pintanya. Baru saja ia hendak menciumku sebagai tanda perpisahan. Pintu seketika menjeblak terbuka. Seorang lelaki bertubuh kekar membuyarkan harapanku.

“Kita berangkat sekarang?” tanyanya pada Vivi. Dan Vivi melepaskan tangannya dariku.

Segalanya berputar keras. Aku tak rela Vivi pergi.. Aku tak relaaaaaaaaaaa!

 

 

Vivi membalikkan tubuhnya dariku. Aku berlari mengejarnya. Memohonnya agar jangan pergi. Tapi ia berlalu begitu saja. “Vivi…….” jeritku. Namun ia tak menghiraukan ucapanku. Ia tak akan memahaminya.

 

“Miauu.. ” jeritku lagi. Semoga Vivi bisa memahami ucapanku.

Aku mencintaimu…

 

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s