Ngeblog itu terapi


Semenjak menerima pinangan lelaki pendiam berkacamata kotak yang memiliki mata teduh *ehem.. :mrgreen: serta berkulit bersih itu, hidup saya berubah 180 derajat. Oke, mungkin terdengar berlebihan, tapi ketika memutuskan menikah dengan laki-laki yang memberikan dua orang putri yang cantik-cantik nurun dari ibunya, mau tak mau saya yang besar di kota pahlawan – Surabaya, -yang tentu saja panas bukan kepalang- akhirnya mulai beradaptasi dengan suasana kota kembang – Bandung yang sejuk mendekati dingin ketika pertama kali saya menjejakkan kaki di tanah Pasundan ini.

Selepas menikah, saya sangat menikmati peran baru saya. Hanya saja, setelah mengikuti suami pindah ke kota Bandung, saya yang akhirnya memutuskan menjadi perempuan rumah tangga saja, memiliki banyak sekali waktu luang.

Jika sebelumnya saya bekerja dari pukul 8 pagi sampai 5 sore, maka sekarang selepas suami saya berangkat kerja pada pukul 7 pagi. Saya hanya membutuhkan tak kurang dari 120 menit untuk melakukan tugas saya sebagai perempuan rumah tangga sejati. Sehingga, sekitar pukul setengah 9 pagi saya sudah tidak melakukan kegiatan apapun. Tapi ini berlaku ketika saya baru pertama menikah lho ya? :mrgreen:

Kalau sekarang? 24 jam sehari juga nggak kelar-kelar kerjaannya.. Hehehe..

Nah.. karena banyaknya waktu luang ditambah belum memiliki momongan saat itu membuat saya dilanda kejenuhan. Untungnya tak lama kemudian, kami pindah dari tempat kost dan suami saya memilih berlangganan layanan internet di rumah, sehingga saya bisa mengambil banyak manfaat dari sana. Salah satunya dengan nge-blog.

Sejak saya masih bersekolah, saya memang senang sekali menulis diary, dan dengan kemajuan teknologi, diary saya pun bermetamorfosa menjadi blog. Namun, kecintaan saya akan dunia menulis tak hanya sekedar curcol alias curhatan terselubung. Blog pun menjadi ajang uji coba saya untuk menumpahkan ide-ide saya yang berseliweran di dalam kepala menjadi sebuah tulisan. Ada yang berbentuk puisi, cerita pendek dan beberapa cerita flash fiction.

Ide yang saya dapatkan pun bisa dari orang-orang terdekat saya, atau bahkan dari beberapa buku dan film yang pernah saya tonton. Blog membuat saya berani berekspresi. Karena saya yang cenderung introvert bisa dengan leluasa menumpahkan ide-ide dalam bentuk karya tulis, dan beberapa cerita yang saya tulis terkadang bisa sangat liar. Blog memberikan saya ‘wadah’ yang membuat saya nyaman dalam mengekspresikan diri.

Seperti sebuah diary, blog pun bisa menjadi sahabat yang paling memahami saya. Dan untuk saya pribadi, saya butuh keseimbangan dalam hidup. Dan menulis blog adalah salah satu cara saya untuk menjaga keseimbangan itu. Berdasarkan pengalaman, saya akan lebih mudah mengekspresikan diri ketika berada pada saat yang paling sedih atau justru yang paling membahagiakan dalam hidup. Dan di sinilah fungsi blog sebagai terapi.

Jika pada beberapa orang mereka mudah mengekspresikan dirinya dengan curhat/bercerita pada orang-orang terdekat, saya justru lebih nyaman dengan menulis. Meskipun yang saya tulis mungkin hanya sebuah puisi atau sekedar cerita flash fiction saja. Dan setelah menumpahkan perasaan saya dalam bentuk tulisan di blog, biasanya saya akan merasa lega. Itulah sebabnya, menulis menjadi sebuah kebutuhan bagi saya.

Apalagi ketika sekarang menjadi istri, sekaligus ibu bagi dua putri saya yang masih balita. Menulis benar-benar bisa menghilangkan rasa jenuh saya akan rutinitas yang terkadang terasa sedikit monoton. Nge-blog adalah salah satu cara ampuh untuk mendapatkan me time yang murah sekaligus menyenangkan. Tak hanya itu, aktivitas blogwalking pun juga membuat saya menikmatinya.

Saya merasa banyak terbantu ketika melakukan blogwalking dan mengunjungi beberapa blog rekan dan sahabat yang memberikan tips resep masakan atau info pengasuhan anak. Dan nge-blog adalah cara termurah dan menyenangkan yang bisa saya dapatkan.

Saya mulai mengenal dunia nge-blog semenjak saya mengenal friendster di tahun 2005, meski kemudian sempat vakum setelah dua tahun aktif menulis. Baru setelah saya menikah, atas saran suami saya, saya pun mencoba untuk kembali rutin menulis  yang menjadi hobby saya di tahun 2008. Jadi, saya masih terbilang baru di dunia nge-blog.

Bagi saya, ngeblog itu terapi termurah untuk bisa mendapatkan keseimbangan dalam hidup. Bagaimana dengan anda? 😀

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes “Ngeblog di Mata Perempuan” yang diselenggarakan oleh EmakBlogger.

 

Gambar diary diambil dari sini

Iklan

5 pemikiran pada “Ngeblog itu terapi

    1. Hahaha… mba Lina, itu kerjaan yang 120 menit itu waktu pertama kali saya menikah mba. Karena waktu itu saya tinggal di kost (cerita ini ada di postingan sebelumnya). Jadi waktu itu kerjaan cepet kelar, ditambah belum ada anak-anak.

      Kalo sekarang?

      24 jam sehari juga nggak beres-beres.. :mrgreen:

      Hehehe.. sama aja kita ya? 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s