Tirta Amerta


Aku terbangun dengan serbuan ciuman bertubi-tubi di pipiku. Tak hanya satu-dua ciuman saja. Namun lebih dari empat kali!

Aku terkesiap. Sedikit terengah. Ciuman bertubi itu membuat oksigen di sekitarku menguap dengan seketika. Aku kaget setengah mati. Siapa mereka? Apa yang mereka lakukan?

Aku? Di mana aku?

Wajah-wajah asing itu menatapku dengan riang. Wajah-wajah yang bersahabat. Bukan wajah lelaki bejat yang tak punya rasa hormat. Dan ciuman itu.. maksudnya?

“Selamat pagi mama….! Selamat ulang tahun..!” tiga wajah riang itu kembali mendekat padaku. Salah seorang dari mereka mendekatkan sepiring cheesecake  dengan sebuah lilin mungil di atasnya.

Oke. Kejutan ini memang mengejutkanku. Tapi panggilan mama jauh lebih mengejutkan lagi. Dan ulang tahun? Ah.. Kenapa semuanya memusingkan? Belum sempat aku menyatukan kembali puzzle memori yang masih berserakan di kepalaku, tetiba suara laki-laki mengagetkanku.

“Tunggu apalagi? Tiup lilinnya sayang..” pintanya. Tak menunggu ia meminta sampai dua kali, aku bergegas meniup lilin di hadapanku. Meskipun dadaku bergemuruh. Aku gugup sekali.

 

Aku terserang amnesia. Amnesia akut. Bagaimana mungkin aku bisa melewatkan detil penting semacam ini? Bahwa aku memiliki dua anak-anak yang lucu berusia 3 dan 2 tahun. Lalu aku memiliki seorang suami yang tampan.

Ya Tuhan.. Dia benar-benar tampan!

Dan aku berusia tiga puluh tahun. Bayangkan! Aku tiga puluh tahun. Tiga-puluh-tahun.

Sedangkan sehari sebelumnya aku masih berusia tujuh belas tahun. Menangis meraung-raung tatkala si playboy Ronald mencampakkanku di hari valentine dan memacari Mona si anak cheerleader itu.

 

Dan kini? Aku tiga puluh tahun. Dengan anak-anak lucu yang menyayangiku serta suami tampanku yang tampak bahagia bersamaku. Ah.. kemana saja aku selama 13 tahun terakhir ini?

***

Aku sudah mulai bisa beradaptasi. Aku mulai bisa menerima jika suami tampanku itu selalu memelukku saat tertidur. Dan mencium pipiku untuk membangunkanku. Sementara dua balita itu eh maksudku dua anakku itu -laki-laki dan perempuan-, memanggilku bunda dan sangat bergantung padaku.

 

Hey. Aku bahagia! Sangat bahagia. Bahkan aku tak lagi dapat memahami apa yang kulihat dari seorang Ronald yang egois dan selalu menuntutku itu? Aku bahkan lupa untuk apa aku menangisi dirinya tempo hari. Eh maksudku 13 tahun yang lalu.

Sudahlah. Yang penting aku menikmati hidupku saat ini.

“Mama, tangkap bolanya!” pinta Rania, putriku. Minggu pagi nan cerah ini kami memutuskan untuk menghabiskan waktu bermain di pantai. Aku, Rania, Reza dan Bara. Ya, Bara suamiku. Apakah aku sudah mengatakan bahwa ia sangat tampan?

 

JDUG!

Sebuah lemparan bola volly dari Reza tepat mengenai keningku. Dan tetiba segalanya menjadi gelap.

***

 

Aku terbangun dengan tepukan keras di pipi kiriku. Tepukan yang berasal dari tangan seseorang berkulit gelap. Tepukan yang terasa sedikit kasar. Bukan ciuman lembut anak-anak dan suamiku.

Aku terperanjat. Pria berjenggot tebal itu berada tepat di hadapanku. Aku kaget setengah mati. Siapa dia? Mau apa dia?

Aku segera bangkit dan memberi jarak pada pria bercincin akik itu. Bola mataku berputar-putar, memaksa memoriku menyusun kepingannya sendiri.

“Neng.. sudah sadar? Ini air yang neng minta.”

Air? Air apa?

Wow.. wow.. wow..

Jangan macam-macam bapak tua! Saya sudah sering membaca berita kriminal pelecehan seksual pada anak usia remaja. Jadi, nggak semudah itu memperdaya saya. Ucap batinku.

“Ini tirta amerta yang neng minta. Air keabadian,” ucapnya.

“Iya. Air keabadian, sayang. Untuk keabadian cinta kita. Untuk selamanya,” kali ini suara seseorang yang kukenal ikut membujukku. Aku menoleh untuk melihat asal suara. Seperti dugaanku. Ada Ronald di sana.

“Tanggal berapa ini?” tanyaku.

“13 Februari” jawab Ronald.

Tepat satu hari sebelum peristiwa itu. Sebelum aku melihatnya menduakanku dengan Mona. Dan akupun segera beranjak. Meninggalkan pak tua berjenggot, Ronald dan air keabadian. Amerta? Ah entahlah apa itu.

Aku tak butuh keabadian. Aku tak butuh itu semua. Yang kubutuhkan hanya menikmati hidupku saat ini. Dan di saat yang tepat aku akan bertemu dengan Baraku.

Ya, aku akan tetap menantikanmu, Bara.

-selesai-

Iklan

4 pemikiran pada “Tirta Amerta

  1. Kenapa aku baru baca ini yaa? -___-
    Udah lama nggak baca2 FF, pun nulisnya. Ah, jadi kangeeeeen. Kangen saling berkunjung dan nungguin komen2 pedas dari Mbak Rini juga. :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s