Perempuan itu memintaku duduk di dekatnya. Kutaksir usianya hanya terpaut tiga atau empat tahun denganku. Seandainya penampilannya tidak berantakan, tentu ia akan terlihat jauh lebih menarik.

Dari jarak sedekat ini, aku bisa dengan leluasa melihat kecantikannya. Namun lingkaran hitam di sekitar mata lentiknya sedikit menyamarkan paras indahnya.

“Aku mencintaimu Ben. Sangat mencintaimu. Masih sama seperti dulu. Tidak berkurang sedikitpun. Kumohon, kembalilah padaku..” bisiknya. Meyakinkanku atas  ketulusan cintanya padaku.

Aku bergeming.

Entahlah. Aku bingung apa yang harus kukatakan padanya. Tak sepantasnya  gadis secantik dirinya mengiba padaku. Bukankah gadis cantik itu sejatinya untuk diperebutkan? Bukan mengemis cinta pada lelaki seperti aku. Dan untuk kesekian kalinya pertanyaan itu berkelebat di benakku.

Mengapa harus aku?

***

 

Namanya Agni. Agni yang dalam bahasa Sansekerta berarti api. Sesuai dengan nama yang disandangnya, gadis itu mampu membangkitkan cinta yang meledak pada lelaki yang menjadi kekasihnya. Ia juga mampu menciptakan kehangatan sekaligus menghantarkan pada luapan cinta yang membara.

Agni adalah cinta itu sendiri. Cinta yang penuh luapan emosi. Cinta yang penuh hasrat. Yang menuntut untuk selalu dipenuhi. Yang tak pernah bisa menerima penolakan. Yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Dan Agni mencintaiku.  

 

Awalnya, aku  merasa sangat beruntung memilikinya dalam hidupku. Semua nyaris sempurna. Kami sangat mencintai satu sama lain. Hingga akhirnya rasa cinta itu perlahan mulai menyiksaku.

Agni tak pernah merasa puas akan apa yang telah kulakukan untuknya. Ia tak pernah merasa cukup. Aku pun kehabisan cara untuk menunjukkan cintaku padanya. Keposesifannya mulai menyiksaku. Aku tak lagi bisa mengimbangi Agni dan cintanya yang meluap-luap.

 

Suatu hari, perempuan cantik itu membawa sebotol cairan untukku. Ia menuangnya dalam dua buah gelas. Satu untukku dan satu untuknya. Ia mendekatkan gelasnya pada gelasku, mengajakku bersulang. Tanpa ragu Agni meneguk cairan dalam gelasnya. Katanya ia bersulang untuk keabadian. Cairan merah dalam gelas itu pun perlahan membasahi kerongkongannya.

Mata lentiknya kini menatapku, memberikan isyarat agar aku melakukan hal yang sama. Tapi aku bergeming. Tak sedikitpun berniat meneguknya.

Kutatap gelas berisi cairan merah dalam genggamanku. Keraguan menyelimutiku. Dan kali ini aku mengikuti kata hatiku. Kutuang cairan merah itu tepat di hadapannya. Selepasnya aku berlalu. Berlalu dari hidupnya. Selamanya.

***

 

“Jadi ia tidak meneguknya?” tanyaku, setelah perempuan kesayanganku menyelesaikan ceritanya. Cerita yang dibacanya dari sebuah buku harian berwarna coklat tua, dengan halaman kertasnya yang mulai menguning. Perempuan itu menggeleng.

“Lalu apa yang terjadi?”

“Ia meninggalkan kota kelahirannya dan menikahi perempuan sederhana bernama Kanaya. Mereka hidup bahagia selamanya. Ben meninggal dunia di usianya yang ke 70 tahun.

“Dan Agni?” tanya Raya, ibu dari kedua putraku.

Tangan renta Bunda menutup perlahan buku harian dalam pangkuannya.

“Tak seorang pun tahu dimana keberadaannya saat ini. Beberapa orang mengatakan ia mati bunuh diri, namun sebagian yang lain percaya bahwa ia tetap hidup sampai kini. Tak sedikitpun menua. Cairan yang diteguknya itu adalah amerta. Minuman yang diyakini akan memberi kehidupan yang abadi bagi siapapun yang meneguknya.”

***

 

Di suatu tempat di tepi sebuah danau, seorang perempuan cantik tengah terduduk di bawah sebuah pohon. Termenung seorang diri. Di lengan kirinya terlihat samar luka sayatan yang mengukir sebuah nama. Nama yang dirajahnya sendiri sebagai bukti cintanya pada sang kekasih. Berulangkali ia mengulang sayatan pada lengannya, namun sekuat apapun ia mencoba, nama yang diukirnya akan selalu menghilang. Dan luka sayatan itu pun akan tertutup kembali. Seakan tak pernah ada sayatan apapun di sana.

Agni yang diceritakan ibuku adalah perempuan yang sama yang kini duduk di bawah pohon itu. Agni Chahna Larasati. Dan sesuai namanya, perempuan itu memilih untuk tetap menyimpan cinta membaranya yang terdalam untuk kakek buyutku.

–selesai–

 

Catatan:

Agni Chahna Larasati = api cinta yang terdalam.

 

Cerita di atas hanya sekedar fiksi belaka, ditulis dalam rangka meramaikan Kontes Flashfiction Ambrosia yang diselenggarakan Dunia Pagi dan Lulabi Penghitam Langit.

Iklan

Satu pemikiran pada “Agni Chahna Larasati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s