Papa paling suka kopi tubruk.

Kopi tubruk yang diseduh di gelas belimbing. Bukan di cangkir, mug atau di tempat lain. Pokoknya papa suka gelas belimbing. Tak ada alasan lain.

Setiap sore hari, kopi tubruk pasti tersedia di teras depan rumah. Dua kopi tubruk. Milik papa dan kakek. Kalau papa diseduh di gelas belimbing, kopi tubruk kakek diseduh di cangkir seng kunonya. Dan setiap sore mereka menikmati kopi tubruk sembari mengobrol dan menikmati sebatang rokok. Selalu. Hanya berdua. Seakan saat itu hanya milik mereka berdua.

Selepas kepergian kakek, papa sangat terpukul. Ia tak lagi ingin menyeduh kopi tubruknya di gelas belimbing. Papa akan selalu teringat pada kakek. Maka kini mug cinta yang menjadi temannya.

Tante Dinda pernah bercerita, bahwa papa sangat mendambakan memiliki seorang anak laki-laki. Sepertinya beliau memiliki impian untuk bisa menikmati kopi tubruk berdua setiap sore seperti biasa dilakukan papa dan kakek. Tapi hingga lahirnya Mayang adik bungsuku, papa nyatanya tak memiliki satu orang anak laki-laki pun. Papa harus menerima kenyataan bahwa keempat anaknya perempuan. Aku, Dara, Rania dan Mayang.

“Reva…! Bawa kopinya ke sini. Temani papa ngobrol.” pinta papa di suatu sore. Saat itu aku duduk di kelas tiga SMU. Semenjak mendengar cerita duet kopi tubruk papa dan kakek versi tante Dinda, aku pun mulai sedikit mengenal sosok papa. Aku mulai bisa memahami alasan di balik kecintaan papa akan kopi tubruk. Bagaimanapun, kopi tubruk membawa kisah lain antara papa, kakek dan kenangan keduanya.

Menemani papa di sore hari, lambat laun membuatku semakin mengenalnya. Namun sayangnya, kecintaan papa akan kopi tubruk tidak menurun padaku Aku pernah sedikit mencicipinya, tapi rasanya terlalu pahit di lidahku.

***

“Jadi, kapan aku bisa bertemu kedua orang tuamu?” tanya Lutfi pada suatu hari.

Aku terdiam. Bingung harus menjawab apa. Bagaimanapun juga, aku tak bisa terus menerus menutupi hubunganku dengan Lutfi. Terlebih pada kedua orang tuaku. Maka kuputuskan untuk mengiyakan permintaan Lutfi mengantarku pulang kuliah sore itu.

Di teras, papa sudah menungguku. Beliau sedikit terkejut mendapati putri sulungnya pulang dengan diantar seorang laki-laki. Tapi papa bukan seorang lelaki sulit. Ia mudah beradaptasi. Segera Lutfi mengambil tempat duduk di sebelah papa. Aku masuk dan memberikan mereka waktu untuk saling mengenal.

 

Lima tahun kemudian.

Dua kopi tubruk terhidang di atas meja. Dua pria tampan duduk berhadapan. Sesekali terdengar tawa keduanya. Aku seakan terbawa jauh ke putaran masa lalu. Saat ayah duduk berhadapan dengan kakek. Menikmati sore berdua.

Kini, aku melihat lagi binar bahagia di kedua mata papa. Meski hubunganku dan Lutfi tak berjalan sesuai rencana, sampai kini Lutfi masih setia menemani papa menikmati sore dengan secangkir kopi tubruknya.

“Kakeeek…” suara teriakan bocah berusia tiga tahun itu membuyarkan lamunanku. Papa tersenyum dan mencium keningnya.

“Mama mana?” tanya papa pada sang bocah.

Terlihat seorang perempuan berjalan mendekat sembari menggendong bayi mungil dalam pelukannya. Dara mencium hormat tangan papa dan Lutfi. Ya, Dara adikku yang akhirnya menikahi Lutfi dan sekaligus mengembalikan senyum di wajah papa.

Sedang aku?

Terkunci dalam kamar berterali besi, dengan pasung mengikat kedua kakiku. Kata orang, aku kehilangan kewarasanku, setelah aku mengamuk dan melemparkan secangkir kopi tubruk panas pada Dara saat memergokinya berciuman dengan Lutfi.

-selesai-

Gambar di sini.

Iklan

7 pemikiran pada “Kopi Tubruk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s