Soto Koya


Aku selalu suka makan soto. Tapi di antara semua soto yang ada di Indonesia, aku cuma suka soto koya. Kenapa soto koya? Karena soto koya mengingatkan aku pada Diana. Gadis periang pencinta soto sejati. Awalnya aku nggak terlalu suka makan soto. Maka, ketika Diana mengajakku makan siang di soto koya langganannya yang sekaligus makanan favoritnya, terus terang aku sudah mencibir duluan. Mencibir dalam hati tentu saja.

“Dri… laper nih. Makan dulu yuuk.” ajak Diana di suatu siang.

“Boleh, mau makan apa?” tawarku.

“Soto ajah. Yuuuk.. aku tahu soto paling enak se-Surabaya.”

Dan ia pun membawaku menembus teriknya matahari di kota pahlawan. Tak lebih dari dua puluh menit kamipun telah sampai di warung soto favorit kekasihku. Tentu saja ia yang mengemudikan motornya. Kalau aku yang nyetir, bisa-bisa baru nanti sore sampainya. Mengingat aku nggak tahu jalan di kota Surabaya. Dan tentu saja ia capek kalau harus menunjukkan arah kiri dan kanan sepanjang perjalanan. Maka, ia pun memilih menyupiri sendiri motornya sementara aku duduk di boncengannya. Anggap saja emansipasi. Hihihi

Kesan pertama selepas aku menyibak tirai berwarna kuning bertuliskan SOTO AYAM LAMONGAN itu adalah warung yang bersih. Meskipun hanya warung sederhana, untuk ukuran warung kaki lima, tempat ini bersih dan nyaman. Lima menit setelah kami memesan, semangkok soto ayam hangat sudah tersedia di hadapan kami. Hmm.. Harum aroma soto merebak di udara. Nikmatnya..

Akupun melirik si cantik. Ia memejamkan matanya sambil menghirup dalam-dalam aroma soto di hadapannya. Hmm.. kali ini dia lebay sekali. Kucicipi soto di hadapanku.

Sruup.

Enak sih. Tapi rasanya nggak jauh beda sama soto ayam lain yang pernah kucoba. Soto ya soto. Rasanya ya kaya gini.

“Enak?’ tanyanya padaku.

“Enak sih… Tapi rasanya soto ya gini kan?” aku berbisik. Khawatir ucapanku terdengar si empunya warung.

Ia melirik soto di hadapanku. Lalu berbisik lembut, “kalau gitu, kamu merem dulu deh. Tapi jangan ngintip ya.” Segera kupejamkan mataku. Tak lama ia menjawil tanganku, dan memintaku mencicipi kembali soto di hadapanku.

Ajaib!

Tetiba rasanya berubah. Yang ini… yummie! Lezat sekali. Mau tak mau aku pun curiga atas apa yang telah dilakukannya dengan sotoku. Maksudku, soto di mangkokku. Si cantik tertawa lebar.

“Gimana? Enak kan?” tanyanya.

Aku hanya bisa mengangguk, sementara di mulutku penuh suapan soto ayam.

“Kok bisa? Tadi mah rasanya standar.” aku kembali berbisik.

“Sayaang… kamu ini aneh. Ini soto koya. Jadi kamu harus menambahkan koya. Dan dengan bubuk ajaib ini, dijamin rasa sotonya semakin maknyusss..” Ia menirukan gaya presenter tv yang sedang menikmati lezatnya masakan.

Ooh.. bubuk ajaib ini rahasianya? Isinya apa sih?

“Itu kerupuk udang yang digerus dengan bawang putih. Curigaan amat sih..!” seperti bisa membaca pikiranku, si cantik menjawab pertanyaan dalam benakku. Kami pun tergelak.

***

“Kita makan siang di mana nih Dri?” tanya Bayu. Ah ya, sudah jam makan siang. Tetiba aku teringat akan soto koya.

“Kita makan soto ayam Lamongan saja yuuk!” tawarku. Bayu mengangguk. Tetiba aku ingat Diana. Dan hari ini, aku sangat merindukannya. Karena gurih, renyah dan lezatnya kuah soto koya selalu mengingatkan aku pada renyahnya tawa si cantik.

-selesai-

Gambar dari sini.

Iklan

Satu pemikiran pada “Soto Koya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s