“Bener Ra loe mau nikah?” tanya Nana memastikan.

Yang ditanya hanya mengangguk. Senyum simpul tersungging di bibirnya. Terlihat sedikit salah tingkah. Tersipu malu.

“Kok lo nggak ngabar-ngabarin temen-temen sih kalo mau nikah? Iihh.. gue masih gemes aja. Tega lo.. tega..” Nana mencubit pinggang Rara.

“Belum ada tanggal pastinya Na. Jadi belum ngabarin siapa-siapa dulu.” Rara memberi alasan.

“Oooh gitu.. Tapi gue ikutan seneng loh. Selamat yaaa…!” Nana memeluk erat sahabatnya. Sesungguhnya. Bukan tanggal yang jadi masalah Rara belum mengabari sahabat-sahabatnya tentang rencana pernikahannya dengan Arya. Bukan. Bukan masalah tanggal. Tapi..

 

Drrt.. drrt..

Ponsel di sakunya bergetar. Ia merogoh saku celananya. Sebuah nama berpendar di sana. Telepon dari Dina.

“Ya Din. Elo dimana? Oke.. gue kesana ya.”

 

Di café.

“Tumben ngajak ketemuan. Ada apaan Ra?” tanya Dina membuka pembicaraan, sementara keduanya tengah menanti pesanan masing-masing. Cappuccino untuk Dina dan hot chocolate buat Rara.

“Ngg.. gue pengen curhat nih. Boleh kan? Udah lama kan kita ngga ngobrol-ngobrol.” Pinta Rara. Dina mengangguk.

“Din, gue nanya. Kalau semisal elo ditembak ama temen loe, perasaan loe gimana?”

“Ini pertanyaan apaan sih? Itu mah terserah elo kali. Tsah! Jangan-jangan elo ditembak ya? Trus sekarang galau?” Dina tertawa lebar.

“Ih, gue serius. Kalau seandainya yang nembak elo mantannya temen loe, gimana? Elo mau?” Rara balik nanya.

“Kalau gue suka ya… Mungkin gue mau. Cuma… dilemma juga sih. Secara mantan temen. Tapi mantan pacar kan? Bukan mantan suami?” Dina masih terkikik.

“Tapi sah-sah aja kan ya, kalau semisal mereka jadian. Misal mantan loe sama temen baik loe?” Rara memberi perumpamaan.

“Ya sah lah.”

“Sah?” ulang Rara memastikan.

“Iya. SAH!” jawab Dina tegas.

“Duh.. makasih banyak ya Din. Makasih buat restu elo. Gue ngga nyangka elo bisa berbesar hati gini nerimanya.”

“Hah?!” Dina masih nggak ngerti arah pembicaraan Rara.

Wajah Rara berbinar-binar. Belum sempat Dina mencerna kata-kata Rara yang nggak jelas. Handphone Rara yang diletakkan di atas meja bergetar perlahan.

 

Drrt.. Drrt..

”Halo? Iya. Aku sama Dina. Kamu di sini? Oh ya udah, sekarang aja ya? Siip..siip.. Bye..”. Rara menutup teleponnya.

 

“Din, gue cabut duluan ya. Makasih banyak ya. Gue buru-buru. Udah ditunggu sama Arya. Gue duluan ya.. Dah.. sayang..” dikecupnya pipi Dina, kiri dan kanan.

Dina memandang sahabatnya dengan tatapan bingung. Samar-samar dilihatnya bayangan seorang lelaki yang sangat dikenalnya mendekati Rara, sahabatnya. Tak salah lagi. Itu Bagas. Bagas yang pernah mengisi hatinya selama dua tahun terakhir. Dan hubungan mereka sudah kandas tiga bulan yang lalu. Meski demikian, ia masih belum dapat melupakan Bagas.

Samar-samar dilihatnya Bagas mendekati Rara. Mengobrol sejenak. Tak lama keduanya berlalu. Bagas pun melingkarkan tangannya di pinggang Rara. Ah.. Di pinggang Rara?? Dina tersentak. Tenggorokannya tercekat. Tapi kata Rara ia ditunggu Arya?

Ah sial. Jadi maksud Rara? Ah ini nggak mungkin. Arya yang dimaksud Rara itu Arya Bagaskara? Mantan kekasihku?

Ah tidak!

RARAAAAAAAAAAA….!! Jerit Dina.

-selesai-

Hari ke 15. Bagian 1. #15HariNgeblogFF

Ah… udah 15 hari aja.. 😀

 

Iklan

7 pemikiran pada “SAH!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s