Tentangmu yang selalu manis


Lelakiku menuntunku perlahan. Kedua tangannya masing-masing berada di sisi kiri dan kanan bahuku. Aku mengikuti permainannya, pasrah mengikuti kemanapun ia membawaku. Sementara kedua mataku tertutup syal merah, hadiah ulang tahunku darinya tiga bulan yang lalu. Sesaat kemudian ia menghentikan langkahnya. Lalu berbisik perlahan di telingaku.

“Sekarang kamu boleh membuka mata,” dibukanya perlahan ikatan syal di belakang kepalaku.

Happy anniversary, sayang…” ucapnya lembut sembari mendaratkan kecupan di pipi kananku. Ah.. suamiku.

Pusaran memori membawaku jauh ke masa lalu. Di hari pertama kali ia mencium lembut pipiku.

“Aku mencintaimu Nadia,” ucapnya. Dan aku pun tersipu. Seragam putih abu-abu masih melekat pada masing-masing tubuh kami. Aku masih ingat. Bayu mengulurkan sekuntum mawar merah sebagai hadiah ulang tahun untukku. Sweet seventeen. Ia memberikannya ketika kami berdua pulang sekolah dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan jemari lembutnya bertaut erat pada jemariku. Seakan tak mau berpisah satu sama lain.

Ah.. Kejadian yang terjadi selama hampir dua puluh tahun yang lalu. Dan semuanya masih terekam jelas di benakku. Bagaimana mungkin aku bisa dengan mudah melupakanmu? Tentang pengorbanan kita untuk menjaga rasa cinta. Perjuangan untuk mempertahankan kesetiaan. Serta malam-malam panjang yang dihabiskan untuk menyimpan rasa rindu. Semua hal indah yang mengingatkan aku akan dirimu. Tentangmu yang selalu manis.

“Sayang..” bisik suamiku lembut. Dan itu cukup untuk mengembalikan aku di tempatku berpijak saat ini. Aku menatap mata coklat yang sama. Mata coklat yang masih memancarkan cinta yang sama seperti dua puluh tahun yang lalu. Hanya saja, sebuah kacamata persegi kini ikut menghiasi wajah tampan dengan jambang tipis di kedua pipinya. Masih sama seperti dulu.

Suamiku rupanya mengundang beberapa orang untuk ikut merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke sepuluh. Dan di sanalah aku melihatmu. Senyum tersungging di bibirmu. Aku berharap jemari tangankulah yang kau genggam saat ini. Seperti dua puluh tahun yang lalu.

Tapi jemari tangan kakakkulah yang kini menggenggam erat tanganmu. Sedang aku menggenggam erat tangan suamiku. Damar.

-selesai-

Hari ke 11 #15HariNgeblogFF

Semangaaattt.. :mrgreen:

Iklan

3 pemikiran pada “Tentangmu yang selalu manis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s