“Mama…” terdengar sebuah suara memanggilku. Aku sedang memasak di dapur ketika putri sulungku mengucapkan salam dan memanggilku. Aah ternyata ia baru saja pulang kuliah. Kebiasaannya setiap masuk ke rumah memang tidak pernah berubah sejak ia duduk di taman kanak-kanak. Selalu mencariku sembari memanggil ‘mama’ dengan suara lantang.

Aku seorang single parent dengan tiga orang anak. Nasywa, Arya dan Manda. Suamiku telah pergi meninggalkan kami sejak Manda berusia tiga bulan. Ia seorang polisi yang meninggal dunia saat bertugas. Beruntung aku memiliki hobi memasak, yang membuatku bisa bertahan membiayai anak-anakku sepeninggal suamiku dengan membuka katering.

“Mama lagi masak apa? Eh, nanti Bayu mau ke sini lho Ma.. Eh pas banget mama masak sayur asem.. Dia khan suka banget..” kata Nasywa dengan tersenyum lebar. Tak lama kemudian dia sudah masuk ke kamarnya untuk berganti baju. Bayu adalah teman kuliah Nasywa yang sudah bersahabat dengannya sejak mereka masih sama-sama duduk di bangku SMA. Tak terasa putri sulungku kini sudah tumbuh dewasa. Sudah 22 tahun. Aku hanya tersenyum. Entah mengapa semuanya serba kebetulan.

Tak lama Nasywa keluar dari kamarnya lalu berkata pelan. “Ma, Nasywa ke minimarket dulu ya.. Nanti kalo Bayu dateng mama temani dulu ya.. Dah mama…”. Nasywa berjalan setelah sebelumnya mendaratkan sebuah kecupan di pipiku. Aku hanya tersenyum. Lalu meneruskan mengiris sepapan tempe.

***

Seorang laki-laki jangkung bertubuh atletis serta berjaket coklat muda terlihat sedang berbicara dengan seorang perempuan separuh baya, yang menenteng keranjang sayur di tangan kanannya. Terdengar pembicaraan keduanya.

“Ooh.. Den Bayu… Mba Nasywa lagi keluar sebentar mas.. Tapi tadi titip pesan kalau mas Bayu datang disuruh nunggu saja di dalam.. Bibi mau ke pasar dulu ya mas.. Masuk saja ke dalam.. Ada ibu.” Bi Minah mempersilahkan Bayu.

“Ooh.. iya bi.. Makasih ya..”

Bayu melangkahkan kakinya memasuki rumah bercat putih itu. Tidak melalui pintu depan, tapi langsung ke pintu samping yang menuju ke halaman belakang rumah yang ditumbuhi berbagai macam bunga tulip beraneka warna. Dari halaman itu, nampak sebuah dapur mungil. Terdengar suara orang sedang memasak, dan tak lama terdengar suara kompor dimatikan. Aroma sedapnya masakan tercium melalui hidungnya.

Bayu berjalan perlahan mendekat ke arah dapur. Shanty yang sedang menyiapkan makan siang untuk ketiga buah hatinya tidak menyadari kedatangannya. Kali ini ia sedang mengaduk sayur dan mencicipi masakannya. Bayu mendekat ke arah perempuan yang masih terlihat cantik di usia 42 tahun itu. Melingkarkan tangannya di pinggang sang perempuan, lalu mendaratkan kecupan di lehernya. Shanty tak menolak kecupan demi kecupan yang mendarat di lehernya. Tak lama kemudian ia membalikkan tubuhnya yang masih terlihat langsing, dan merekapun kini saling berhadapan. Kebahagiaan terpancar di wajah keduanya. Bayu menyunggingkan senyumnya. Senyum untukmu yang lucu, Shanty. Batinnya.

Shanty tak ragu mendekatkan bibirnya ke bibir pria muda di hadapannya. Saat kedua bibir itu bersatu, tak ada lagi jarak di antara mereka. Usia mereka yang terpaut 20 tahun pun bukan lagi menjadi masalah. Mereka berdua sedang dimabuk asmara.


Di sudut atas ruangan, makhluk kecil bersayap tersenyum puas. Beberapa saat sebelumnya anak panah yang dilepaskan dari busurnya berhasil mengenai targetnya. Hari ini ia baru saja belajar memanah..

-Selesai-

Dipersembahkan untuk #15HariNgeblogFF Hari ke 10 :mrgreen:

Enjoy… 😀

Iklan

11 pemikiran pada “Senyum untukmu yang lucu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s