Ada dia di matamu!


Lelaki itu menyunggingkan senyumnya saat ia menatapku. Mata kami beradu pandang. Aku membalas senyumannya yang meneduhkan itu. Segera ia mendekat padaku. Mencium lembut jemariku, lalu kedua pipiku. Kami saling melepas rindu. Seakan tak bertemu berabad-abad. Baru saja ia hendak mendaratkan ciuman di bibirku, tiba-tiba saja sebuah suara menghentikan kami. Suara ibuku.

“Kalian sedang apa?” tanyanya. Kami berdua saling menatap. Seakan enggan melepaskan diri satu dengan yang lain.

“Bukannya kamu masih ada kerjaan, Lia?” ibuku menegurku. Aku menatap wajah tampan pria penjaga hatiku. Aku pun tak ingin beranjak jauh darinya.

“Ibu mau pergi sebentar. Itu ayamnya sudah diukep. Kamu tinggal menggorengnya saja. Rangga baru datang?” kali ini ibu menegurnya. Yang ditegur hanya mengangguk pelan.

Tanpa mengucap sepatah katapun aku memberi isyarat ‘tunggu sebentar’ pada mata coklat indah di hadapanku. Dan ia mengangguk pelan. Senyum tersungging di bibirnya. Sekaligus membentuk sebuah lesung pipit di pipi kirinya. Tampan sekali.. Aku bersyukur memilikinya dalam hidupku.

 

Aku masuk ke dalam rumah. Berjalan bergegas menuju dapur. Menggoreng ayam pesanan ibu. Kuusahakan untuk menyelesaikannya secepatnya. Agar aku dapat kembali bercengkerama dengan Rangga.

Sudah enam tahun terakhir ia hadir dalam hidupku. Enam tahun yang menakjubkan. Aku selalu bersyukur dengan keberadaannya di sampingku. Kehadirannya perlahan mampu mengikis luka di hatiku. Luka karena cinta di masa lalu. Luka karena pengkhianatan orang yang pernah sangat kucintai.

Semua tentang Rangga membuatku merasa bahagia. Hanya satu yang membuatku sedikit gusar. Mata coklatnya mengingatkan aku pada cinta pertamaku. Cinta pertama yang menorehkan lebih banyak luka dan air mata. Cinta pertama yang menyisakan banyak kepedihan. Pada sosok Ruben. Ruben yang berselingkuh dengan sahabatku di saat aku sudah memberikan segalanya.

***

Aku menatap mata coklat Rangga sambil membelai lembut keningnya. Mata coklatnya sedikit lebih terang daripada mata coklat milik Ruben. Tapi tetap saja. Ada dia di matamu! Ada Ruben di sana.

Tapi cintaku terlalu besar untuk Rangga. Aku tak bisa meninggalkannya. Dan bagaimanapun juga aku harus bisa menerima semua yang melekat di diri Rangga. Termasuk mata coklatnya yang setiap aku memandangnya, membuatku selalu terbawa pada pusaran masa lalu. Aku tak perlu bertanya bagaimana Tuhan bisa mencipakan sepasang mata yang begitu mirip satu sama lain. Karena bagaimanapun juga, Ruben adalah ayahnya.

–Begitulah–

Hari ke enam kan ya? 😀

#15HariNgeblogFF  :mrgreen:

Iklan

14 pemikiran pada “Ada dia di matamu!

    1. Naaaaaaaahhh.. yang nangkep cerita ini kok cuma mba Latree yaaa… 😀

      Yang laen ngira Rangga itu pacarnya.. Dan mba.. nyerahin diri ke Ruben. Kan Ruben bapaknya? 😛

    1. Eh suka friends juga?

      *tosh*

      Eh iya, ini benernya maksudnya Rangga itu anaknya Ruben. Nah si Ruben pergi ninggalin si tokoh cerita karena ngga bertanggung jawab.. 😀

      Baru datang itu maksudnya baru pulang sekolah.. 😀

      *dijelasin gini.. 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s