cb3512fea897efe1a140069dfc2bc083_Paint-09_300dpi-this one-1000pixel

Aku membuka pintu depan yang tidak terkunci dan merebahkan diri di sofa. Aah.. lelahnya hari ini. Banyak laporan yang harus diselesaikan. Dengan mengingatnya saja, aku bisa melupakan rasa lelahku. Segera aku beranjak dari sofa, berjalan masuk menuju ke kamar, dan mengeluarkan laptop dari dalam tas kerjaku. Sebenarnya aku masih ingin merebahkan diri, tapi laporan ini harus selesai esok hari.

Aku baru saja meletakkan laptop pada meja kecil di sudut ruangan, menghubungkan kabel charger-nya dan menyalakan tombol kecil untuk mengaktifkannya. Tetiba terdengar suara gemerisik di belakangku. Sepasang mata indah muncul dari kegelapan. Ah ya, lampu di dalam kamar ini belum aku nyalakan. Meski demikian aku bisa dengan jelas menatap pancaran mata itu. Selama beberapa detik, mataku beradu pandang dengan matamu. Mata yang polos dan berbinar-binar. Wajah yang halus tanpa make up, ditambah bibir yang mungil tanpa polesan. Wajahmu! Ya.. wajahmu yang seharian ini membuyarkan konsentrasiku di kantor.

Hari ini kamu beda dari biasanya. Kau terlihat sangat menakjubkan. Badan halus mulusmu kali ini hanya berbalut kaos tanpa lengan dan celana pendek. Aah ya.. udara panas siang ini pasti menjadi alasanmu mengenakan pakaian itu.

Tenggorokanku terasa tercekat. Buru-buru  kualihkan pandanganku darimu. Aku nggak mau kamu membuyarkan kembali niatku mengerjakan laporan ini. Seperti memahami dilemma dalam diriku, kamu hanya terdiam. Tak bersuara. Dan jujur saja, hal itu justru membuatku menjadi penasaran. Mengapa kamu hanya terdiam? Tidak seperti biasanya…

Kuarahkan pandanganku padamu dan mata kita kembali beradu pandang. Kau pun menyunggingkan sebuah senyuman. Senyuman maut yang melenakan! Aku mencoba mengalihkan pandangan dan menatap lurus pada layar monitor di hadapanku. Seperti tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, kamu bergerak perlahan mendekatiku. Harum khas dirimu terasa semakin mendekat dan tanganmu pun akhirnya menyentuh kulitku. Aku sungguh tak berdaya!

Aku kalah. Aku menyerah. Dan kulupakan segalanya. Tentang tetek bengek masalah laporan itu? Ah.. itu semua bisa menunggu. Tapi tidak tentangmu. Untuk kali ini aku tak dapat membohongi perasaanku. Ya, sekarang ini hanya satu yang terlintas di kepalaku.

Aku maunya kamu. Titik.

Segera saja kubalikkan tubuhku dan kurengkuh dirimu. Kucium pipimu, lehermu.. dan perutmu. Membaui seluruh bagian tubuhmu yang menggodaku. Dan gelak tawamu menandakan kalau kau menikmati semua itu..! Hingga akhirnya aku mendengar suara..

“Sayang… kamu dimana?”

Suara istriku!!

Aku dan kamu sama-sama terdiam. Aku belum bisa berpikir jernih dan tiba-tiba saja pintu kamar pun menjeblak terbuka..

..dan ia melihat kita…!

Suara istriku kembali terdengar..

“Ooh.. sayang.. ternyata dede sama papa ya..? Yuuk maem bubur dulu..”

-Demikian-

Hari ke empat euy..  :mrgreen:

Iklan

18 pemikiran pada “Aku Maunya Kamu. Titik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s