Kamu manis, kataku.



Kamu manis, kataku pelan. Lirih. Nyaris tak terdengar. Sungguh aku sangat malu mengatakannya. Bagaimana mungkin aku bisa berbicara seperti ini padamu? Padahal kita juga baru saja kenalan. Baru beberapa minggu yang lalu. Meskipun sudah sejak lama aku merancang pertemuan ini denganmu. Iya, apapun aku lakukan supaya bisa dekat sama kamu. Makanya aku bawa-bawa keranjang sayur dan memboncengnya di belakang sepeda motorku. Supaya apa? Ya supaya kamu nggak curiga kalau aku ini tukang sayur gadungan. Asal kamu tahu, aku cuma jual sayur di depan rumahmu.

Ah.. Ternyata kamu tak hanya manis, tapi juga cantik. Kali ini aku hanya berani berbicara dalam hati. Tapi kedua mataku tak lepas menatap indahnya parasmu.

Aku masih tak henti-hentinya mengagumi wajah elok di hadapanku ini. Matamu yang lentik, hidungmu yang mancung, bibir tipis berwarna pink. Ah kuyakin rasanya juga pasti manis. Iya, bibir itu. Kalau kukulum aku sangat yakin rasanya pasti manis. Dan…

PLAK!

Sebuah tamparan keras sontak membuyarkan lamunanku.

“Kamu ini kenapa siih? Ngelamun aja. Ngelamun jorok ya?” tuduh Ratih kasar. Iya kasar. Bukan hanya tuduhannya yang kasar. Tapi juga tangan mungilnya. Bisa-bisanya gadis secantik itu menamparku keras. Tindakannya terlalu brutal. Bisa saja kan dia mencubit pinggangku? Itu masih terasa sedikit lebih ‘sopan’.  Tapi menampar? Ah, kamu membuyarkan lamunan indahku akan dirimu.

Aku tersenyum simpul. Sedikit meringis. Masih panas pipi ini bekas tamparan tangan mungilnya. Apa Ratih sadar kalau dia yang kulamunkan? Apa dia sekarang sudah beralih profesi? Jadi pembaca pikiran orang lain? Oalah… Ratih.. Ratih…

Kamu manis, kataku. Dalam hati.

***

“Kamu mau nggak jadi pacarku?” tanyaku nekad pada Ratih di suatu pagi yang cerah. Ia pun menatapku tajam. Matanya membulat, antara kaget dan marah. Ah, aku nggak bisa membaca raut wajah. Pokoknya wajah cantiknya berubah seketika. Pipinya yang semula kemerah-merahan, sekarang berubah jadi hijau – ungu.

Dia tidak segera menjawabku. Mungkin marah atas kelancanganku memintanya jadi kekasihku. Ah, apakah aku lancang menanyakan hal seperti itu? Apa salahnya mempertaruhkan harga diri demi cinta? Dan kalau boleh jujur, aku sudah siap jika nantinya ia menamparku lagi.

Tapi Ratih hanya diam saja. Aku penasaran. Dan baru saja aku hendak memberondongnya dengan pertanyaan tambahan, terdengar suara dari dalam rumahnya. Ratih membalikkan tubuhnya, lalu masuk ke dalam rumah.

Aku menunggu. Menunggu dengan perasaan berdebar. Tidak menjawab itu bukan berarti menolak. Bisa saja jawabannya iya. Tapi dia masih malu. Aku mencoba untuk tetap berpikir positif. Tak lama pintu rumahnya terbuka. Ratih sudah selesai dengan urusannya. Pasti ia hendak menemui aku lagi. Kupasang senyum lebar untuk menyambutnya.

Namun ternyata, yang keluar bukan Ratih. Tapi laki-laki tinggi besar berjambang tipis dengan kacamata persegi menghiasi wajahnya. Di belakangnya Ratih mengikuti sang lelaki, membawakan tas kerjanya. Lalu Ratih mencium hormat tangan lelaki itu, yang dibalas sang lelaki dengan mencium lembut keningnya..

Aku tercekat, sementara Ratih melambai pada sang lelaki. Tak menghiraukan aku dan perasaanku yang kini tercabik-cabik..

Dan tiba-tiba saja, sang perempuan bermata lentik itu tak lagi terlihat manis di mataku…

-the end-

Hari Ke 3  15HariNgeblogFF

 

Iklan

8 pemikiran pada “Kamu manis, kataku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s